imsitumeang

Posts Tagged ‘Yudhoyono’

Posisi Sulit Yudhoyono

In Uncategorized on f 13, 11 at 3:14 am

Susilo Bambang Yudhoyono sungguh sulit memosisikan dirinya, kapan sebagai Presiden Republik Indonesia dan kapan sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Pidatonya di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Senin (11/7) malam, membuktikan segalanya. Tidak hanya sekali ia berpidato tentang organisasi partainya atau petinggi partainya tersangkut kasus.

Idealnya, seorang presiden tidak lagi merangkap menjadi pimpinan partai agar terhindari dari ambiguitas kepentingan. Maksudnya, dia harus fokus bekerja demi negara dan rakyatnya, bukan demi golongan dan konstituennya. Jika tidak, terpecah perhatian seorang presiden yang juga pimpinan partai. Yudhoyono pun terpaksa berpidato, kendati lokasinya di kediaman pribadi, menyangkut kasus korupsi petinggi partainya. Ia tidak memosisikan dirinya sebagai Presiden Republik Indonesia, tapi sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat.

Kita berharap Yudhoyono berposisi yang adil sama atau setara menanggapi kasus-kasus korupsi, tidak hanya yang melibatkan petinggi partainya juga petinggi partai lain. Sayangnya, dalam pidatonya di Puri Cikeas itu ia justru menanggapi isu-isu yang mengungkap karut-marut internal dan eksternal Partai Demokrat. Jadi, kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat.

Celakanya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemkumham), dan Kementerian Luar Negeri (kemlu) bertindak sendiri-sendiri. Kita berharap, sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, Yudhoyono bersikap cepat dan tegas menindaklanjuti kasus-kasus korupsi, khususnya elit Partai Demokrat yang dituding eks bendahara umum partainya, Muhammad Nazaruddin, menerima uang suap pembangunan Wisma Atlet SEA Games di Palembang, Sumatera Selatan. Entah yang bernama Anas Urbaningrum, sang ketua umum; Andi Mallarangeng, Sekretaris Dewan Kehormatan Partai Demokrat; Angelina Patricia Pingkan Sondakh atau Angelina Sondakh, anggota Fraksi Partai Demokrat Dewan Perwakilan Rakyat (F-PD DPR) yang juga Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat dan pelaksana tugas ketua; Mirwan Amir, anggota F-PD DPR yang juga Wakil Ketua Badan Anggaran DPR; atau Ketua F-PD DPR Mohammad Jafar Hafsah. Entah petinggi partai lain.

Sebaliknya, Yudhoyono berpidato tentang persoalan yang mendera partainya, seperti memastikan rencana Partai Demokrat menggelar rapat koordinasi nasional (rakornas), bukan kongres luar biasa (KLB); atau Anas akan mengudetanya, yang sesungguhnya perkara internal partai.

Yudhoyono juga berpidato tentang perkara eksternal partai. Ia menyalahkan pemberitaan pers yang mengutip konten short message service (SMS) dan Blackberry Messenger (BBM) Nazaruddin atau keluh kesah Marzuki Alie, Ketua DPR yang juga Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Kalimatnya, konten pesan itu kabur sumbernya. Pernyataan itu bagaikan memercik air di dulang tepercik wajah sendiri. Bukankah Yudhoyono akhir Mei silam menanggapi SMS gelap yang berisi tudingan terhadap dirinya dan Partai Demokrat? Dulu, di awal-awal masa baktinya sebagai presiden bersama wakil presiden M Jusuf Kalla, sebelum mengambil keputusan Yudhoyono mempertimbangkan informasi dari masyarakat yang disampaikan melalui SMS. Kenapa sekarang Yudhoyono menyalahkan media massa yang mengutip SMS Nazaruddin sebagai sumber pemberitaannya? OC Kaligis, lawyer Nazaruddin, juga menggunakan SMS yang berisi testimoni Nazaruddin. Mengapa SMS atau BBM hanya boleh digunakan jika isinya menyenangkan Yudhoyono dan Partai Demokrat saja?

Partai Demokrat adalah partai yang berkuasa (the rulling party). Korupsi yang diduga pelakunya adalah elite partai jangan ditanggapi enteng dan mengalihkan masalahnya ke perkara internal dan eksternal partai, apalagi menyalahkan sumber pemberitaan pers. Semuanya berpokok di persoalan bahwa Yudhoyono sungguh sulit memosisikan dirinya, kapan sebagai Presiden Republik Indonesia dan kapan sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Jika seseorang terpilih sebagai presiden, atau gubernur, bupati, walikota, atau diangkat menjadi menteri, pejabat tinggi setingkat menteri, maka yang bersangkutan harus melepaskan dirinya dari kepengurusan partai. Jika tidak, dia sulit terhindari dari ambiguitas kepentingan, antara kepentingan negara atau golongan!

Iklan

Teks Pidato Obama di Istana Merdeka

In Uncategorized on f 30, 10 at 8:02 am

Kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama menarik perhatian rakyat Indonesia. Saat jamuan makan malam kenegaraan di Istana Negara, Jakarta, Selasa (9 November 2010), ia menyantap nasi goreng dan bakso. “Terima kasih untuk baksonya, nasi goreng, emping, dan kerupuk,” Obama mengucapkannya. “Semuanya enak!”

Acara juga dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kristiani Herawati alias Ani Yudhoyono, Michelle LaVaughn Robinson Obama, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Taufik Kiemas, dan istrinya yang juga mantan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Sebelum makan malam, Obama dan Yudhoyono membahas kemitraan komprehensif antara Indonesia dan Amerika Serikat. Enam isu dibahas, yaitu kerjasama investasi, perdagangan, perekonomian, pendidikan, energi, dan politik yang mendalam dan terukur. Obama menegaskan keinginan Amerika Serikat untuk menjadi mitra nomor satu Indonesia. “Saya tak ingin nomor tiga, melainkan nomor satu.”

Sebelum jamuan makan malam, Yudhoyono memberi tanda jasa Bintang Jasa Utama kepada ibu Obama, Stanley Ann Dunham Soetoro. Penelitian Ann Dunham mengenai peran perempuan memberdayakan ekonomi mikro kredit di desa-desa sangat berguna bagi peneliti Indonesia.

Stanley Ann Dunham meneliti antropologi ekonomi dan perkembangan desa-desa. Stanley meninggal di usia 52 tahun tanggal 7 November 1995.

Menanggapi penghargaan tersebut, Obama mengucapkan, “Atas nama keluarga saya mengucapkan terima kasih.”

Berikut teks pidato Obama di Istana Merdeka saat jamuan makan malam yang dilansir situs Gedung Putih.

PRESIDENT OBAMA:

President Yudhoyono, Mrs Yudhoyono, to all the distinguished guests who are here today, thank you for this extraordinary honor. I am proud and humbled to accept this award on behalf of my mother. And although she could not be here in person, I know that my sister Maya Soetoro would be equally proud.

Now, I’m going to have the opportunity to speak tomorrow and so I will try to keep my remarks brief. First of all, thank you for the bakso. (Laughter.) The nasi goring. (Applause.) The emping. (Laughter.) The kerupuk. (Laughter.) Semuanya enak. (Laughter.) Thank you very much. (Applause.)

But the fact, Mr President, that you would choose to recognize my mother in this way speaks to the bonds that she forged over many years with the people of this magnificent country. And in honoring her, you honor the spirit that led her to travel into villages throughout the country, often on the back of motorcycles, because that was the only way to get into some of these villages.

She believed that we all share common aspirations — to live in dignity and security, to get an education, to provide for our families, to give our children a better future, to leave the world better than we found it. She also believed, by the way, in the importance of educating girls and empowering women, because she understood that when we provide education to young women, when we honor and respect women, that we are in fact developing the entire country. That’s what kept bringing my mother back to this country for so many years. That’s the lesson that she passed on to me and that’s the lesson that Michelle and I try to pass on to our daughters.

So on behalf of our entire family, we thank you. I am deeply moved. It is this same largeness of heart that compels us tonight to keep in our thoughts and prayers all those who are suffering who from the eruptions and the tsunami and the earthquake. With so many in need tonight, that’s one more reason for me to keep my remarks short.

As a young boy in Menteng Dalam 40 years ago, I could never imagine that I would one day be hosted here at Istana Negara — never mind as President of the United States. I didn’t think I would be stepping into this building ever. (Laughter and applause.)

And I know that much has been made about how a young boy could move between such different countries and cultures as Indonesia and the United States. But the truth is, is that our two countries have far more in common than most people realize. We are two peoples who broke free from colonial rule. We are both two vast nations that stretch thousands of miles. We are both two societies that find strength in our diversity. And we are two democracies where power resides in the people. And so it’s only natural that we should be partners in the world.

I am fortunate to have a very strong partner in President Yudhoyono — Indonesia’s first directly elected president, and a leader who has guided this nation through its journey into democracy. And our two nations are fortunate that we are forging a partnership for the 21st century. And as we go forward, I’m reminded of a proverb: bagai aur dengan tebing — like bamboo and the river bank, we rely on each other.

And so I would like to propose a toast. In the spirit of friendship between our two countries, we are reminded of the truth that no nation is an island, not even when you’re made up of thousands of islands. We all rely on each other together, like bamboo and the river bank. And like my mother riding between villages on a motorcycle, we are all stronger and safer when we see our common humanity in each other.

So President Yudhoyono, and to all the distinguished who are here, thank you for your extraordinary friendship and the warmth with which you have received Michelle and myself. And I promise that it won’t take so long before I come back.