imsitumeang

Posts Tagged ‘Indonesia?’

Terusik Ulah Negara Tetangga

In Uncategorized on f 20, 14 at 12:36 pm

Kedaulatan bangsa dan negara Indonesia tengah diuji. Indonesia ditantang untuk mempertahankan kehormatannya dari ‘gertakan’ negara-negara tetangga. Negara-negara tetangga kembali berulah, mereka bersikap tak bersahabat dan melecehkan martabat kita.

Australia. Hubungan Indonesia-Australia masih tegang pascaskandal penyadapan. Direktorat Intelijen Australia bersama Badan Keamanan Nasional (National Security Agency/NSA) lagi-lagi menyadap komunikasi telepon seluler Indonesia. Kali ini yang disadap adalah 1,8 juta pelanggan. Penyadapan yang dilakukan negara Kanguru ini melalui dua operator telekomunikasi yakni Indosat dan Telkomsel. Data pengguna telepon seluler tahun 2012 menunjukkan bahwa Telkomsel memiliki 212 juta pelanggan (62 persen), sementara Indosat memiliki 52 juta pelanggan, atau 15 persen. Keduanya operator seluler terbesar yang menguasai 77 persen pelanggan telepon seluler di Indonesia.

Setelah tempo hari terungkap menyadap sejumlah tokoh kita, belakangan ini Australia gencar menghalau arus imigran gelap asal Timur Tengah agar tidak memasuki negeri mereka. Mereka menggiring imigran gelap memasuki wilayah Indonesia. Mereka menganggap negara kita sebagai keranjang sampah kebijakan mereka. Posisi Indonesia di silang lajur pelayaran, memiliki empat dari sembilan sea lines of communication dunia yang mengakibatkan Indonesia mempunyai kewajiban guna menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran internasional di Selat Malaka-Singapura, serta tiga alur laut kepulauan Indonesia (ALKI).

Pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Darwin, Australia, yang hanya berjarak 820 km (500 mil) dari Indonesia, merupakan potensi ancaman kedaulatan Indonesia di Papua yang sarat kepentingan AS. Skenario yang akan digunakan ialah referendum di Papua serta kerusuhan menjadi alasan menggelar pasukan internasional yang di dalamnya terdapat pasukan AS. Keberadaan pangkalan itu akan memudahkan AS melakukan tindakan internasional apa pun.

Berikutnya, Papua Nugini. Papua Nugini juga berlaku tak elok. Pekan lalu mereka membakar kapal ikan nelayan asal Merauke yang tersesat ke perairan mereka, dan memaksa nelayan kita berenang ke arah wilayah Indonesia.

Kasus perlakuan tidak senonoh terhadap warga kita, khususnya tenaga kerja ilegal, juga sering terjadi di Malaysia. Belum lagi, mereka beberapa kali mengklaim warisan budaya yang nyata-nyata bertumbuh-berkembang di negeri kita. Batik, reog Ponorogo, lagu Soleram, tari Pendet, masakan rendang, tari tor-tor, dan alat musik Gordang Sambilan diklaim sebagai miliknya.

Giliran orangutan Indonesia dibantai perusahaan negeri jiran itu, dan tragisnya di wilayah Indonesia. Pusat Penelitian Hutan Tropis, Universitas Mulawarman, Samarinda, menemukan puluhan orangutan tewas mengenaskan di Desa Puan Cepuk, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Sebelum tewas, ya ampun, puluhan orangutan itu disiksa.

Malaysia memang dituding sebagai penadah kayu-kayu hasil pembalakan liar di hutan-hutan Indonesia. Kasus terbaru adalah terbongkarnya praktik pengiriman kayu curian ke Malaysia melewati Kalimantan Barat, nilainya triliunan rupiah. Setelah kayu disikat, tanah di perbatasan pun diserobot Malaysia. Perusahaan-perusahaan sawit Malaysia doyan menyerobot tanah perbatasan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mendapati aksi penyerobotan itu.

Belum lagi, pelaku pembakaran hutan adalah perusahaan sawit Malaysia. Delapan dari 14 perusahaan sawit yang diduga kuat membakar lahan dan hutan di Riau dan Jambi, ternyata dimiliki investor Malaysia. Kabut asap pun telah menyebar ke Malaysia dan Singapura dalam sepekan terakhir.

Bukan sekali dua kali Malaysia memancing kemarahan Indonesia. Duh, Malaysia…, Malaysia. Entah sampai kapan negeri yang cuma berpenduduk 27 juta orang ini berhenti melecehkan Indonesia.

Lalu, kasus yang sedang hangat adalah sikap Pemerintah Singapura yang berkeberatan atas nama kapal perang kita yang mengabadikan dua pahlawan nasional, Sersan Usman Mohamed Ali dan Kopral Harun Said. Mereka mendikte agar kita jangan menamai kapal perang menggunakan Usman-Harun karena keduanya membom MacDonald House di Orchard Road ketika Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia tahun 1965. Singapura masih bagian Malaysia kala itu.

Usman dan Harun – keduanya anggota Korps Komando Operasi yang merupakan cikal bakal Korps Marinir – tertangkap dan dihukum gantung tahun 1968. Mereka jelas bukan teroris sebagaimana klaim Singapura. Mereka adalah aktor negara. Karena gugur dalam melaksanakan tugas, mereka lantas dianugerahi gelar pahlawan nasional.

Keberatan Singapura bukan cuma diungkapkan verbal, melainkan juga melarang kapal perang itu memasuki wilayah perairan mereka, sebelumnya membatalkan sepihak rencana pertemuan Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Singapura Chan Chun Sing dan Wamenhan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin. Singapura pun membatalkan undangan bagi 100 anggota TNI untuk menghadiri pembukaan Singapore Airshow 2014. Tindakan itu bahkan dilakukan Singapura tanpa menghiraukan norma kepatutan dalam hubungan diplomasi.

Kabar mengejutkan juga dibuat Singapura. Mereka mencaplok Pulau Semakau, dekat Batam, Kepulauan Riau, seperti dilansir yoursingapore.com, dalam area peta wilayahnya. Bahkan, Pulau Semakau dipromosikan Singapura sebagai tujuan wisatanya.

Ihwal kebijakan pertahanan nasional, pada dasarnya Indonesia cinta damai dan tidak berambisi untuk menguasai negara atau wilayah bangsa lain. Tetapi, Indonesia memiliki pulau-pulau terdepan atau terluar, dan masih ada sebagian wilayah perbatasannya yang belum ditetapkan serta merupakan area sengketa. Oleh karena itu, Indonesia harus tetap mewaspadai kemungkinan kontingensi, keesiagaan untuk memproyeksikan kekuatannya di lautan dalam memelihara stabilitas dan integritas negara Indonesia.

Meneyadari besarnya potensi lautan Nusantara, sudah seharusnya Indonesia mempunyai infrastruktur maritim yang kuat, seperti pelabuhan serta kapal yang modern untuk jasa pengangkutan manusia, barang, minyak dan gas (migas), perikanan, dan armada Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut (AL). Namun, kondisi ideal itu sulit tercapai karena industri martim tidak dikelola. Sehingga, tak satu pun negara yang segan dan menghormati Indonesia sebagai bangsa maritim. Justru, industri dan jasa maritim Indonesia dikendalikan Singapura. Ironisnya, kita hanya berdiam diri.

Menjengkelkan sekali. Benar-benar menjengkelkan. Negeri berpenduduk 237 juta jiwa ini seperti tak dianggap oleh negeri-negeri yang hanya dihuni kurang 20-an juta jiwa itu. Tidak hanya entitas negara, entitas perusahaan juga menganggap enteng kita. Upaya kita untuk mengubah isi kontrak karya dengan dua perusahaan tambang raksasa, PT Freeport Indonesia (PTFI) dan PT Newmont Nusa Tenggara, misalnya, hampir menemui jalan buntu. Kedua perusahaan raksasa asal AS itu menolak mentah-mentah empat poin klausul yang dianggap merugikan Pemerintah Indonesia, ahwal luas wilayah kerja, perpanjangan kontrak, penerimaan negara atau royalti, dan kewajiban pengolahan dan pemurnian.

Dari Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) tahun 2009, pemerintah – sebagai pemegang 9,36 % saham PTFI – hanya mendapat deviden sebesar Rp 2 triliun. Artinya, tahun 2009 itu Freeport McMoran – sebagai pemegang 90,64% saham PTFI – mendapat deviden sekitar Rp 20 triliun. Sementara, potensi yang masih ada di areal tambang PTFI masih lebih Rp 600 triliun. Namun, potensi itu hilang begitu saja karena diserahkan kepada asing. Rakyat – khususnya di sekitar areal tambang – justru menderita karena lingkungan alam yang rusak, pencemaran, limbah dan tailing, sumber penghasilan mereka yang hilang, dan banyak penyakit sosial lainnya.

Rentetan kasus itu jelas merupakan tantangan diplomasi Indonesia. Kita jangan lembek menghadapi sikap-tindak pihak lain yang nyata-nyata merendahkan harga diri bangsa Indonesia. Kita harus menunjukkan sikap-tindak yang tegas, elegan, dan bermartabat bahwa kedaulatan kita tak bisa diganggu pihak lain. Negara mana pun dan siapa pun tak berhak mendikte atau, apalagi, melecehkan kedaulatan kita.

Tetapi, pelecehan-pelecehan bangsa lain terhadap kita belakangan ini sejatinya adalah sinyal bahwa tiba saatnya kita membuang sikap-tindak kurang percaya diri, lembek, atau bahkan inferior dalam menghadapi bangsa lain. Kita adalah bangsa besar dengan nilai-nilai historis yang luhur. Maka sungguh tidak patut kita tampil di forum dunia bak kaum paria.

Di tengah dunia yang sedang bergejolak, persaingan antarbangsa yang ketat, perekonomian yang semakin terbuka, maka saatnya Indonesia menggalakkan gagasan nasionalisme (politik dan ekonomi) Indonesia, yang berprinsip “berdiri di atas kaki sendiri” dalam segala aspek. Indikasi kejayaan kembali Indonesia mulai terbukti dalam perkembangan politik dan ekonomi. Pada abad ke-7, Nusantara sempat berjaya di bawah kendali kerajaan Sriwijaya. Kemudian, pada abad ke-14, kerajaan Majapahit berada di masa keemasannya yang tidak hanya berjaya di seluruh Nusantara, tetapi juga di belahan dunia lain.

Iklan

Era Ekonomi Asia Timur?

In Uncategorized on f 30, 10 at 6:09 am

Laporan tengah tahunan Bank Dunia menyebut ekonomi Asia Timur booming atau berjaya. Pertumbuhan negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Vietnam mencapai tingkat sebelum krisis global tahun 2008. China memimpin kejayaan Asia Timur. Satu negara yang dikecualikan adalah Jepang, negara yang dulu raksasa ekonomi Asia tapi kini tidak bergerak (standstill).

Di antara faktor-faktor pendukung keberhasilan ekonomi Asia Timur adalah penggiatan ekspor dan penguatan struktur sehingga pijakannya kuat dan relatif terbebas guncangan krisis. Selain itu, penduduknya yang berusia produktif, kebijakan investasinya yang menarik, dan kemampuannya mengikuti pola rantai pasokan global, kebangkitan kelas menengah.

Faktor-faktor pendukung tersebut menjadikan Asia Timur sebagai kawasan yang pertumbuhannya berjaya. Penjualan televisi, mobil, motor yang tinggi adalah tolok ukur yang menguatkan laporan tengah tahunan Bank Duni.

Tetapi, Bank Dunia mengingatkan, seiring booming ekonomi Asia Timur juga mengintai potensi krisis seperti tahun 1997. Alasannya, kejayaan juga ditopang modal masuk berjumlah besar yang mengerek kenaikan harga saham, juga properti. Padahal, kondisi begini menciptakan gelembung (bubble).

Karena laporan tengah tahunan Bank Dunia juga menyinggung Indonesia, maka harus diingat bahwa pertumbuhan Indonesia juga memiliki potensi menciptakan gelembung. Indonesia disebut berhasil keluar dari krisis tahun 2008 bahkan membukukan pertumbuhan yang positif, sekitar 4%. Tapi, pertumbuhan yang diperkirakan lebih tinggi lagi tahun ini, sekitar 6%, memiliki kesenjangan jika dikaitkan dengan kenyataan rakyat Indonesia. Masih tingginya angka kemiskinan, sekitar 33 juta orang yang berpendapatan US$ 1 per hari atau sekitar 100 juta orang jika dinaikkan menjadi US$ 2 per hari, adalah salah satu indikatornya.

Laporan tengah tahunan Bank Dunia menyisakan pertanyaan yang memprihatinkan, bahwa meski disebut berjaya, ekonomi Indonesia masih belum ideal, karena banyak bertumpu ekspor komoditas, seperti minyak dan gas, sementara kontribusi manufaktur yang produknya bernilai tambah tetap minim. Selain itu, perekonomian Indonesia lebih bertumpu konsumsi.

Jika ekonomi begini, selain tak memiliki kemandirian, Indonesia diperkirakan terus merugi karena impor barang konsumsi akan terus bertambah.

Afrika Selatan Bisa, Kapan Kita?

In Uncategorized on f 29, 10 at 9:27 am

Pekan-pekan ini, kita menonton pertandingan sepakbola di Piala Dunia 2010. Yang terlahir dari hati dan pikiran hanya geregetan. Mengapa negara-negara di Afrika, seperti Afrika Selatan, Pantai Gading, Kamerun, Ghana, dan Aljazair bisa menjadi peserta? Mengapa negara-negara Asia, seperti Korea Utara, Korea Selatan, dan Jepang juga bisa bertampil di Piala Dunia? Indonesia kok tidak? Kita lantas bertanya-tanya.

Kita mengagumi tim-tim sepakbola negara-negara itu yang sebagian berhasil ke babak knock out atau 16 besar setelah melewati babak kualifikasi. Kita geregetan menyaksikan pesta akbar sepakbola kali ini. Kita mengagumi betapa hebat Korea Utara, meski akhirnya kalah. Kita mengagumi Afrika Selatan yang mengalahkan Perancis, meski tidak berhasil ke 16 besar. Kita juga mengagumi Jepang yang menundukkan Denmark. Masih banyak yang mengagumkan atau bisa membuat kita terkagum-kagum. Takjub!

Afrika Selatan, misalnya, tidak hanya menjadi peserta Piala Dunia kali ini, tetapi juga menjadi negara pertama di jazirah Afrika yang menjadi tuan rumah. Luar biasa! Kita masih mengingat, betapa 16 tahun yang lalu mereka menyelenggarakan pemilu multirasial setelah melewati era rezim apartheid yang dimenangi Kongres Nasional Afrika pimpinan Nelson Mandela. Sistem segregasi rasial itu dilegalkan pemerintah Partai Nasional sejak tahun 1948. Sistem politik itu yang menjamin pembatasan hak-hak penduduk nonkulit putih yang merupakan kelompok mayoritas dan pemerintahan minoritas kulit putih memperoleh hak-hak istimewa.

Tapi, sejarah yang buram itu telah berlalu. Afrika Selatan terlahir sebagai negara dan bangsa yang baru, yang mau memaafkan masa lalu kendati tetap mengingatnya (‘forget but not forgive’ atau ‘forgotten not forgiven’). Dan, ketika terpilih sebagai penyelenggara Piala Dunia kali ini, dunia mengakui kemampuan Afrika Selatan untuk keluar dari penjara masa lalu.

Piala Dunia, memang, sebuah momen yang istimewa. Negara kaya dan negara miskin bertemu, berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Mereka bermain sesuai dengan aturan. Tidak ada kasta. Tidak ada istilah negara maju dan negara berkembang, negara demokrasi dan otoriter, kapitalis atau komunis. Para pemain yang menentukan irama permainan, bukan pelatih. Selama 90 menit, semangat, keterampilan, strategi, dan kerjasama yang menentukan kemenangan atau kekalahan.

Diakui, banyak persoalan yang dihadapi Afrika Selatan sebagai tuan rumah. Masalah keamanan, yang antara lain sebagai penyebab mengapa penonton dari luar negeri tidak membludak ke Afrika Selatan. Juga menjadi pertanyaan apakah Piala Dunia akan membantu pertumbuhan perekonomian mereka seperti yang dijanjikan Fédération Internationale de Football Association (FIFA) dan pemimpin di negara itu. Masih menjadi pertanyaan yang membutuhkan pembuktikan.

Mereka menyadari banyak kekurangan. Tapi, mereka meyakini perhelatan itu sebagai awal kebangkitan Afrika Selatan, khususnya, dan Afrika, umumnya, di segala bidang, termasuk sepakbola didukung pemerintah dan rakyatnya. Bagaimana kita?