imsitumeang

Warga DKI Jakarta Enggan Gaduh!

In Uncategorized on f 25, 17 at 10:48 am

Saya tidak memilih Ahok karena banyak bukti-bukti yang tidak memantaskannya memimpin DKI Jakarta. Kepemimpinannya hanya membawa malapetaka bagi kita. Begitu kira-kira ucapan M Din Syamsuddin yang memiral dalam WhatsApp Messenger sebelum hari pencoblosan.

Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta putaran kedua menyisakan dua pasangan calon (paslon), yaitu Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat (Basuki-Djarot) dan Anies Rasyid Baswedan – Sandiaga Sahaluddin Uno (Anies-Sandi). Menjelang hari “H”, pertarungan kedua paslon semakin sengit.

Banyak kalangan mengibaratkan putaran kedua mirip duel “el clasico” antara Barcelona dan Real Madrid. Pertarungan yang klasik, berat, dan menantang bagi kedua paslon. Seru!

Anies-Sandi yang sempat diragukan, belakangan elektabilitasnya terus menanjak hingga melewati petahana. Hingga akhir masa kampanye, tujuh lembaga survei mengumumkan risetnya, enam di antaranya menunjukkan kemenangan Anies-Sandi. Publik DKI Jakarta mengingin perubahan!

Jika pemilihan dilaksanakan hari ini, Anies-Sandi mengungguli Basuki-Djarot: 52-54% versus 41-43%. Sisanya, 3-5% belum menentukan pilihan.

Elektabilitas Anies-Sandi dipengaruhi oleh peralihan suara pemilih Agus-Sylvi. Diperkirakan 80% pemilih Agus-Sylvi mengalihkan suaranya kepada Anies-Sandi. Suara Agus-Sylvi yang beralih ke Basuki-Djarot hanya 20%.

Temuan lainnya, 48% responden menginginkan pemimpin baru, hanya 44% yang menginginkan petahana tetap berkuasa. Namun, 55% responden menginginkan pemimpin baru melanjutkan arah kebijakan petahana, berbanding dengan 35% yang menginginkan arah kebijakan berbeda.

Warga DKI Jakarta memutuskan pemenangnya. Mereka tidak memilih DKI Jakarta yang gaduh. Jakarta yang terbelah. Seperti ucapan Prabowo Subianto, kendati sejumlah lembaga survei mengabarkan kemenangan Anies-Sandi, bukan kemenangan itu yang menggugahnya. Dia menangkap pesan: kerinduan warga untuk berubah. Harapan warga untuk mempunyai pemimpin baru. Dan, umat beragama membutuhkan pemimpin yang menghormati keyakinan mereka.

Kita memang jenuh jika DKI Jakarta gaduh. Kita bosan. Kita kecewa, kegaduhan terjadi karena ulah satu orang. Kita menginginkan Jakarta yang bersatu. Mewujudkan kemakmuran mensyarakatkan DKI Jakarta yang stabil. Rakyat menginginkan DKI Jakarta yang  berkeadilan.

Warga DKI Jakarta bisa mencapai harapannya. Untuk itu, warga harus mengajak keluarga, kerabat, tetangga, dan sahabat untuk mewujudkannya. Jangan golput (“golongan putih”). Satu suara pemilih sungguh menentukan. Perubahan tak akan terjadi jika banyak warga memilih diam.

Kecurangan adalah musuh kita. Kita menolak kecurangan. Kita tak tak sudi dicurangi. Warga menolak pembagian paket-paket sembako.

Warga mengakhiri DKI Jakarta yang gaduh, terbelah, di bawah gubernur dan wakil gubernur lama. Kita membutuh Anies-Sandi untuk Jakarta yang bersatu.

Keputusan warga ibukota negara itu sungguh melegakan. Anies-Sandi menang di enam wilayah DKI Jakarta, yaitu Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu. Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta menyebutkan, Anies-Sandi memperoleh 3.240.332 suara (57,95%) dan Ahok-Djarot memperoleh 2.351.245 suara (42,05%). Terhitung 5.591.577 suara di 13.034 TPS (Tempat Pemungutan Suara).

Pemilih laki-laki  3.581.147 orang, dan pemilih perempuan 3.588.584 orang. Keseluruhannya berjumlah 7.257.649 orang. Tapi, yang menggunakan hak pilih 2.707.197 laki-laki, dan 2.865.286 perempuan. Jumlah totalnya 5.661.655 suara.

Kabar menggembirakan, 78,0% partisipasi pemilih pada putaran kedua. Yang tidak memilih 22,0%. Berdasarkan jenis kelamin, kaum laki-laki 75,6% yang memilih, dan yang tidak memilih 24,4%. Sementara, kaum perempuan 79,8% yang memilih, dan yang tidak memilih 20,8%.

Dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, pemegang “the power of money” berusaha untuk bermain. Jika zaman dulu mereka yang mayoritas non-Muslim hanya berkiprah dalam bidang ekonomi, termasuk perdagangan atau bisnis, maka zaman kini mereka mulai mendiktekan ambisinya dalam bidang politik.

Kondisi tersebut menggerakkan perlawanan masif umat Islam. Kita menolak Ahok bukan karena dia Kristiani atau Tionghoa. Bukan pula karena kita mendukung Anies-Sandi. Kerukunan antaragama dan antarsuku yang susah payah terajut, cuma dalam waktu sekejap rusak karena Ahok.

Kita menolak Ahok karena hati nurani meyakinkan bahwa dia bukan pemimpin yang cocok bagi masyarakat DKI Jakarta, apalagi Indonesia. Kiprahnya selama memimpin DKI Jakarta terlalu hiruk pikuk. Tidak memuaskan: Basuki tidak berkinerja, kebijakannya tidak transparan, tidak akuntabel, dan tidak auditabel. Dia melanggar aturan, melebihi kewenangan, dan mencampuradukkan urusan.

Dia minim prestasi. Jika berprestasi, selama kepemimpinannya DKI Jakarta memperoleh penghargaan apa? Prestasinya cuma opini yang dibentuk pers pendukungnya, tidak mewartakan kejelekan dan keburukannya. Keberhasilan yang diberitakan bukan murni prestasinya. Sesungguhnya hasil pembangunan itu dirintis sejak masa Gubernur Joko Widodo, bahkan Gubernur Fauzi Bowo, dan Gubernur Sutiyoso.

Dia patut diduga melakukan korupsi dan kolusi untuk kasus Rumah Sakit Sumber Waras, reklamasi pulau-pulau di Teluk Jakarta, dana kompensasi Jembatan Simpang Susun Semanggi, atau pembangunan yang menggunakan dana non-APBD DKI Jakarta. Entah mengapa KPK tidak berdaya untuk menyeretnya seperti para tersangka yang diduga menerima suap berjumlah kecil. “Kekuatan besar” membelanya. Pemangku amanah sebagai penentu kebijakan tidak bekerja menggunakan hati nurani.

Begitu rasio saya menyimpulkan, Ahok bukan pemimpin mumpuni, yang bekerja untuk rakyat. Dia patut diduga bekerja untuk pengusaha (besar). Ahok adalah problem maker, bukan problem solver. Pembuat gaduh!

Kita menolak opini yang menyebutkan responden memilih Anies-Sandi karena kesamaan agama (Islam). Padahal, hampir satu pun lembaga survei membantah bahwa pemilih beragama Kristen dan Katolik solid mendukung Ahok-Djarok. Kasat mata kita menyaksikan, karena kesamaan agama (Kristen dan Katolik, bahkan Konghuchu) yang menyebabkan Anies-Sandi hampir tak memperoleh suara. Perbedaan agama yang menjauhkan pemilih Kristen, Katolik, dan Konghuchu untuk tidak menjatuhkan pilihannya kepada Anies-Sandi yang mengenakan peci sejak putaran kesatu.

Lalu, kenapa pemilih Anies-Sandi yang disebut memilih karena kesatuan agama? Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyimpulkan, di segmen pemilih  non-muslim, Ahok-Djarot unggul mutlak. Paslon ini memperoleh 91,3%. Sementara, Anies-Sandi hanya memperoleh 5.7%. Di segmen pemilih Muslim, populasi terbesar, Anies-Sandi hanya memperoleh 56,6%, sedangkan pasangan Ahok-Djarot memperoleh 37,2%. Jadi, pemilih minoritas solid mendukung Ahok-Djarot (di atas 90%), ketimbang pemilih Muslim yang mendukung Anies-Sandi (di bawah 60%). Walaupun acapkali diberitakan terjadi mobilisasi pemilih Muslim, hasil survei justru membuktikan pemilih non-Muslim yang solid berkubu ke Ahok-Djarot.

Akhirnya, Ahok-Djarot dikalahkan people power, tidak melalui demo di jalan-jalan, tapi di kotak-kotak suara. Warga tidak memilih Ahok karena memang banyak bukti-bukti yang tidak cukup memantaskannya untuk memimpin DKI Jakarta. Benar banget… Mau Anies menang, mau Ahok kalah… Mau Anies nggak kalah, mau Ahok nggak menang… Kita harus legowo, tersenyum…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: