imsitumeang

Archive for Januari, 2017|Monthly archive page

Setelah Menonton Debat

In Uncategorized on f 17, 17 at 10:00 am

Setelah kampanye pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Komisi Pemilihan Umum Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, berdasarkan ketentuan Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang, melaksanakan debat terbuka antarcalon yang kesatu. Acara debat paling banyak tiga kali yang disiarkan langsung atau disiarankan tunda melalui lembaga penyiaran publik.

Publik DKI Jakarta disuguhi debat yang bermutu tanggal 13 Januari 2017. Setelah debat, pendapat publik pun terbelah. Sebagian berpendapat, pasangan calon yang kinclong saat berdebat akan mudah merebut kursi gubernur dan wakil gubernur, sebagian berpendapat sebaliknya. Tentu saja ada yang mengambil jalan tengah: setuju dengan catatan atau tidak setuju dengan catatan.

Pemilih di DKI Jakarta tergolong tipe rasional. Mereka mempertimbangkan faktor visi, misi, dan program. Pemilih yang menetapkan pilihannya tanpa menelaah visi, misi, dan program kandidat adalah tipe irasional karena pilihannya tidak dapat dicerna rasio serta tidak dapat diungkap dalam konsep logis (ilogis). Pemilih rasional belum menetapkan pilihannya hingga detik terakhir dalam bilik suara, sehingga mereka akan terus menerus menelaah visi, misi, dan program kandidat. Jika cocok, dia mantap memutuskan pilihannya.

Pemilih yang menentukan pilihannya itu sekitar 50% yang mungkin bertambah menjelang pencoblosan suara. Mungkinkah pemilih irasional berubah pilihan? Mungkin! Sekitar 80% pemilih mungkin mengubah pilihannya. Hanya persoalan waktu seorang pemilih memantapkan pilihannya.

Pemilih irasional sulit mengubah pilihannya karena rata-rata mereka menetapkan pilihannya jauh-jauh hari. Berbagai alasan melatarinya, dari kesukaan atau ketidaksukaan kepada figur tertentu, keterpukauan kepada figur tertentu, kecocokan terhadap visi, misi, dan program pasangan calon tertentu, ke kecocokan primordialisme dengan kandidat tertentu. Berbagai alasan tersebut wajar.

Saat debat merupakan kesempatan bagi pasangan calon untuk meraup suara dari sisa suara pemilih rasional. Suara pemilih rasional ini suara kelas menengah, seperti pekerja dan kaum profesional lainnya, serta suara pemilih pemula yang kritis. Tiga kali debat menjadi ajang pertarungan hidup-mati antarkandidat merebut suara mereka.

Tapi, tingkat partisipasi kelas menengah masih fluktuatif. Mungkin tidak melampaui 70% tingkat partisipasi pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta tahun 2012.

Bila setiap pemilih menentukan pilihannya, setiap kandidat harus berusaha ekstra untuk memengaruhi setiap pemilik suara agar memilihnya. Pemilih bisa saja mengganti pilihannya pascadebat jika laku dan ucapan kandidat kurang atau tidak berkenan baginya. Perilaku dan ucapan kandidat adalah faktor utama yang menyebabkan perubahan pilihan. Nah, santun dalam berlaku dan berucap saat berdebat dan di luar waktu berdebat menjadi kunci penentu.

Debat kandidat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta tanggal 13 Januari 2017 itu berhasil melegakan dunia perpolitikan. Animo masyarakat untuk menontonnya sangat tinggi dan semangat untuk membicarakan hasil debat ini juga sangat tinggi. Publik DKI Jakarta dan bahkan publik di luar provinsi ini antusias untuk menonton tiga pasangan calon memperdebatkan kebijakan pembangunan DKI Jakarta.

Melegakan, karena partisipasi publik yang tercipta itu berkat ketertarikan mereka terhadap gelaran politik lokal ini. Sebuah indikator yang baik. Fakta yang cukup membuktikan bahwa masyarakat mempedulikan visi, misi, dan program pasangan calon. Masyarakat tidak apatis. Ramainya obrolan setelah acara itu, baik bernada positif maupun negatif, juga sebuah indikator yang baik. Berarti masyarakat terpengaruh debat kandidat.

Jika debat tak menjadi bahan pembicaraan, berarti acara itu hambar. Parahnya, jika debat malah menjadi bahan olok-olokan. Syukurlah, ketiga pasangan calon bisa menghibur masyarakat dalam menyampaikan visi, misi, dan program mereka.

Mungkin sebagian pihak pesimistis bahwa debat tidak bermanfaat, hanya tontonan belaka dalam suasana politik lokal yang persaingannya panas. Pandangan tersebut mungkin benar karena memang sebagian pemilih menentukan pilihannya sejak jauh-jauh hari.

Namun, jangan beranggapan bahwa pilihan tak mungkin berubah setelah pemilih menonton para kandidat beradu argumentasi. Pilihan berubah jika pembandingnya bagus. Misalnya, jika awalnya seorang pemilih menyukai kandidat karena kecerdasan dan pesonanya, bisa saja akhirnya dia berubah pilihan karena calonnya itu tidak cerdas-cerdas amat. Dia kalah berdebat dengan calon lain. Atau, justru makin meyakini pilihannya karena calonnya brilian menyampaikan visi, misi, dan programnya ketimbang kandidat lain. Atau, seorang pemilih menyukai kandidat karena pengalaman, namun kandidat lain mampu mengkritisi kinerjanya sembari menawarkan solusi yang manusiawi, maka bisa saja pilihannya berubah. Banyak alasan seorang pemilih berubah pilihan.

Perubahan pilihan dilakukan pemilih rasional. Jika alasan mereka terpatahkan atau bahkan realitanya berseberangan dengan visi, misi, dan program yang disampaikan saat debat, pemilih rasional mungkin beralih ke calon lain yang mendekati standar pilihannya. Publik yang makin matang akan memperbanyak jumlah pemilih rasional. Setiap kandidat tentu mengharapkan suara mereka yang berubah pilihan setelah menonton debat. Setiap pasangan calon harus berupaya meyakinkan mereka melalui ide-ide yang cemerlang dan langkah-langkah terobosan.

Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah (pemilukada) tahun 2017 dilaksanakan serentak tanggal 15 Februari 2017 sesuai dengan Undang Nomor 10 Tahun 2016. 101 daerah menyelenggarakan pemilukada tahun ini, yaitu tujuh provinsi melaksanakan pemilihan gubernur dan wakil gubernur, di antaranya DKI Jakarta, 18 kota melaksanakan pemilihan walikota dan wakil walikota, dan 76 kabupaten melaksanakan pemilihan bupati dan wakil bupati.

Bakal pasangan calon yang mendaftar dan bertarung di 101 daerah tersebut awalnya berjumlah 337 pasangan calon atau 674 orang. Setelah ditetapkan menjadi pasangan calon baik oleh KPU provinsi, KPU kota, maupun KPU kabupaten tanggal 24 Oktober 2016, yang memenuhi syarat akhirnya berjumlah 306 pasangan calon sedangkan 36 pasangan calon tidak memenuhi syarat. Ke-306 pasangan calon terdiri atas 24 pasangan calon gubernur dan wakil gubernur, 50 pasangan calon walikota dan wakil walikota, serta 232 pasangan calon bupati dan wakil bupati. Jumlah tersebut mungkin bertambah jika 31 pasangan calon yang tidak memenuhi syarat itu mengajukan sengketa pencalonan dan dinyatakan menang.

Harapan kita, pemilukada tahun 2017 menjadi pertarungan visi, misi, dan program antarcalon, kendati pertarungan tersebut memperebutkan kekuasaan. Mengutip Niccolò Machiavelli, “het doel heilight de middeled”, bahwa tujuan itu menghalalkan semua cara atau usaha. Siapa yang menjadi jawara atau pemenang pertarungan di masing-masing daerah, mari kita menunggu hasilnya. Apapun hasilnya, pemilukada yang berintegritas adalah cita-cita atau dambaan kita. Semoga dalam pemilukada DKI Jakarta dan 100 pemilukada lainnya para pemilih rasional bisa berperan. Mereka memang acapkali menjadi penentu!

Iklan