imsitumeang

Unjuk Rasa yang Bermartabat

In Uncategorized on f 7, 16 at 9:39 am

Di bawah naungan langit certah, jutaan massa berunjuk rasa di Jakarta sehabis shalat Jumat (4/11). Menyebut dirinya sebagai Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI), mereka memadati Masjid Istiqlal sejak pagi hari. Massa berbagai organisasi longmarch memenuhi jalan-jalan menuju Istana Merdeka. Mereka berbaris rapi sembari mengibarkan panji-panji Islam. Sebagian mereka dari luar Jakarta. Massa di arah lainnya juga bergerak ke arah yang sama. Misalnya, warga Muhammadiyah bergerak dari jalan Menteng Raya. Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhammad Amien Rais menyampaikan khutbah Jumat di Masjid At Taqwa dalam kompleks kantor PP Muhammadiyah sebelum aksi damai.

Peristiwa ini bukan aksi massa biasa. Mereka menuntut keadilan demi tegaknya kemuliaan agama dan supremasi hukum. Umat Islam menuntut Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dipenjara karena tudingan Ahok kepada Alquran sebagai alat untuk membohongi umat Islam dalam memilih pemimpin. Ahok menyatakannya saat mempresentasi program budidaya perikananPemprov DKI Jakarta yang menggandeng Sekolah Tinggi Perikanan di Kepulauan Seribu tanggal 30 September 2016, “Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa aja dalam hati kecil Bapak Ibu enggak bisa pilih saya, karena dibohongin pake surat Almaidah 51 macem-macem itu. Itu hak Bapak Ibu ya. Jadi kalau Bapak Ibu perasaan enggak bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, enggak apa-apa.”

Kasus penistaan itu memunculkan ukhuwah di antara umat Islam. Takbir dan shalawat mengalun. Bendera merah putih mengiringi ayunan tangan dan langkah kaki mereka. Tanpa emosi yang meledak-ledak. Mereka menolak penistaan terhadap kitab suci Alquran. Aksi yang sama juga terjadi di berberbagai daerah. Mengutip ucapan Amien, Allah menggerakkan hati umat Islam memperjuangkan agamanya tanpa koordinator yang kharismatik.

Masyarakat spontan menyalurkan beragam donasi, baik makanan minuman maupun uang. Tokoh Tionghoa Jaya Suprana menyumbang makanan minuman untuk demonstran yang menginap di Masjid Istiqlal. Dapur umum juga menyediakan makanan minuman. Relawan bersiaga memberikan bantuan kesehatan. Relawan lainnya memungut sampah dan membagikan air. GNPF MUI dimotori tokoh-tokoh seperti Bachtiar Nasir, Muhammad Arifin Ilham, dan Muhammad Rizieq Shihab atau Habib Rizieq. Juga bergabung Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, Rhoma Irama, Muhammad Amien Rais, Fadli Zon, Fahri Hamzah, Ratna Sarumpaet, Lily Chodidjah Wahid, dan Sukmawati Soekarnoputri.

Umat Islam menepis kekhawatiran yang berembus menjelang hari aksi, bahwa unjuk rasa anarki dan pelabelan mereka sebagai kelompok garis keras. Sejak awal, aksi damai ini diprovokasi dan digembosi sejumlah pihak yang tengah panik dan bingung karena gagal membersihkan “noda hitam” Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam beragam cara—melempar isu-isu yang menyesatkan seperti ditunggangi dan dibiayai aktor politik, dimotivasi sentimen anti-Cina dan anti-Kristen yang memecah belah persatuan bangsa.

Umat Islam mencintai negerinya, tak mungkin bertindak ricuh. Mereka juga mencintai agamanya. Karena itu, mereka menentang penistaan terhadap kitab sucinya. Gerakan massa sebagai respons atas penistaan. Umat Islam menuntut keadilan terhadap pelaku penistaan. Jadi, desakan agar pemerintah menegakkan hukum. Umat Islam menghendaki kehidupan dalam kebhinnekaan yang bermartabat.

Merujuk mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah yang juga Chairman of the Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) Muhammad Din Syamsuddin, pihak-pihak tertentu jangan memanaskan suasana bahwa unjuk rasa itu mengganggu kebersamaan dan menggoyahkan kemajemukan. Hidup dalam negara yang menjaga dan memelihara keberagaman agar semua kalangan menghormati satu sama lain. Hidup tanpa penistaan atas agama yang dianut warga lainnya.

Sayangnya, niat massa untuk bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak terwujud. Presiden meninggalkan Istana Merdeka beberapa jam sebelum massa mendekati Istana Negara. Padahal, mereka ingin menyampaikan aspirasinya. Aparat keamanan berjaga sebelum massa terkonsentrasi. Kawat berduri terpasang di sepanjang jalan Medan Merdeka Utara. Konsentrasi massa terbesar di sekitar Masjid Istiqlal. Menjelang shalat Jumat, massa terkonsentrasi di sejumlah titik sejak jalan Medan Merdeka Selatan hingga jalan Medan Merdeka Barat.

Presiden menuju Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, untuk meninjau perkembangan pembangunan kereta. Jokowi semestinya menemui massa itu karena mereka adalah rakyatnya sendiri, bukan musuh. Padahal, Jokowi dikabarkan dijadwalkan tidak ke luar kantor. Sebelumnya, Presiden dan Wakil Presiden menegaskan tidak meninggalkan Ibukota Negara saat demonstrasi.

Kita sangat menyayangkan situasi kondisi damai sejak pagi hingga petang ternoda oleh kericuhan yang dilakukan sekelompok orang yang bergabung tiba-tiba dari arah samping demonstran. Tiba-tiba terdengar suara tembakan menggelegar di atas langit Jakarta tepat di depan Istana Negara. Mobil Barracuda menyemburkan cahaya ke atas langit dan menukik mengkilat keemasan. Nyala keemasan membentuk kabut merah. Blush… Asap menyebar menyergap hidung dan mata. Door… duug… door… duug susul menyusul tembakan terdengar berdebam.

Takbir menggema di hamparan jalan Medan Merdeka Barat yang selemparan batu dari Istana Negara. Polisi memegang pentungan dan perisainya merangsek maju. Lampu–lampu mobil baja itu berkelap-kelip. Gemuruh riuh di sana-sini. Brrmmm… mobil water cannon menderung menyemburkan ribuan kubik air tak henti-hentinya.

Kericuhan diperkirakan karena ketidakpastian Jokowi menemui massa yang menuntut penegakkan hukum atas penistaan agama yang dilakukan Ahok.  Massa panik karena tembakan gas air mata. “Jangan tembak kami, jangan tembak kami,” massa berteriak. Massa berusaha menutup hidung dan mengucek mata. Tapi, suara-suara itu terkalahkan oleh gelegar yang memenuhi awan. Korban berjatuhan. Mengapa polisi menembak ke arah massa? Mereka di antaranya tokoh-tokoh Islam seperti Bachtiar Nasir, Muhammad Arifin Ilham, Habib Rizieq Shihab, dan lainnya. Ya Rabb… Mengapa mereka ditembaki?

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Kalimat takbir, tahlil, dan tahmid terlafal. Bahkan sempat melafalkan kalimat tauhid Lailahailallah… lailahailallha… lailahailallah… Air mata pun berderai. Beberapa peserta aksi bertumbangan, mual, muntah, dan batuk.  Tiba-tiba ketukan mikrophone  menggelegar. Terdengar himbauan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dan Kepala Polri Muhammad Tito Karnavian. Mereka menenangkan suasana di tengah tembakan yang terus terjadi. Hentikan tembakan… Bukannya mereda, suara tembakan justru menggelegar. Himbauannya mereka tak digubris.

Massa menarik diri. Sebagian beristirahat di Masjid Istiqlal, sebagian menuju gedung MPR/DPR/DPD untuk menginap. Ketika suasana di sekitar Istana Negara mulai sepi, Jokowi memberi pernyataan. Dia berterimakasih kepada kiai, habaib, dan ustadz atas aksi damai yang tertib, juga berterimakasih kepada aparat yang mengawal aksi damai. Namun, dia menuduh Aksi Bela Islam seusai shalat Isya’ itu ditunggangi aktor politik. Kita meminta aparat keamanan menindak tegas para provokator dan pericuh yang memiliki tujuan di luar aspirasi peserta aksi damai.

Sayangnya, seharian umat Islam berdemo, Jokowi tidak bersedia menemui mereka. Perwakilan umat Islam yang bernegosiasi, Bachtiar Natsir dan kawan-kawan, didampingi Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Mochamad Iriawan dan Wakapolda Metro Jaya Brigjen Pol Suntana tiga kali keluar masuk Istana Merdeka. Alhamdulillah, selepas negoisasi antara GNPF MUI dan Pemerintah yang diwakili Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla—umat Islam menarik diri karena tawaran Pemerintah yang berjanji memproses Ahok dalam waktu dua pekan.

Jika Jokowi lugas menyikapi tuntutan umat Islam, unjuk rasa itu tidak akan bergejolak. Umat Islam menuntut ketegasan Jokowi untuk memproses hukum Ahok.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: