imsitumeang

Memilih Pemimpin Daerah yang Terbaik

In Uncategorized on f 30, 15 at 8:14 am

Tepat hari Rabu tanggal 9 Desember 2015, 8 provinsi, 222 kabupaten, dan 34 kota di seluruh Tanah Air menggelar pemungutan dan penghitungan suara Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Walikota dan Wakil Walikota Tahun 2015. Dalam pelaksanaannya, Pemerintah menetapkan momen itu sebagai hari libur nasional.

Perjalanan demokrasi Indonesia menapaki tahapan baru, yakni pemilihan serentak kepala daerah dan wakil kepala daerah (pilkada). Semula pemilihan tidak langsung, kemudian pemilihan langsung. Kini, di penghujung tahun 2015, pemilihan langsung yang serentak di seluruh Tanah Air. Pilkada serentak ini momentum penataan desain pemilu nasional-lokal kendati keserentakannya hanya pemilihan gubernur, bupati, dan walikota beserta wakilnya.

Penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) sebagai proses pergantian kekuasaan, dalam sejarahnya, mempunyai dinamika. Tingkat partisipasi pemilih atau tingkat keikutsertaan pemilih menjadi indikator. Komisi Pemilihan Umum (KPU) selaku penyelenggara pemilu merupakan lembaga penanggung jawab meningkatkan partisipasi itu. Partisipasi dimaksud tidak hanya sosialisasi saja, tapi juga meningkatkan partisipasi pemilih dalam menjaga kejujuran dan keadilan selama pelaksanaan pemilu.

Namun, pada pilkada serentak tahun ini tingkat partisipasi pemilih di 5 daerah mengalami penurunan hingga 20 persen. Kelima daerah adalah Kabupaten Pasaman (Sumatera Barat), Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (Sumatera Selatan), Kabupaten Bantul (Daerah Istimewa Yogyakarta), Kabupaten Timor Tengah Utara (Nusa Tenggara Timur), dan Kota Semarang (Jawa Tengah). Di banyak daerah, tingkat partisipasi pemilih kurang 60 persen. Bahkan, di Medan (Sumatera Utara), tingkat partisipasinya di bawah 30 persen! KPU belum mendalami faktor penurunan tingkat partisipasi pemilih yang drastis di lima daerah. Namun, terindikasi kasus korupsi di daerah tersebut.

Sebaliknya, tingkat partisipasi pemilih di 59 daerah mengalami peningkatan. Di 59 daerah meningkat sekitar 5-10 persen seperti Tanjung Balai (Sumatera Utara), Kota Surabaya (Jawa Timur), Ngawi (Jawa Timur), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), dan Sumenep (Jawa Timur). Sementara, yang meningkat sekitar 10-20 persen di 3 daerah, yaitu Kabupaten Nias Selatan (Sumatera Utara), Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Sulawesi Utara), dan Kabupaten Trenggalek (Jawa Timur). Banyak daerah yang tingkat partisipasinya tinggi, melampaui 75 persen dari total jumlah pemilih seperti Kabupaten Pangandaran (Jawa Barat) yang mencapai 78.04 persen, dan Kabupaten Mamuju Tengah (Sulawesi Barat) 92 persen.

KPU dan Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P LIPI) bekerjasama untuk mengkaji akar masalahnya. Selama ini hasil riset kurang menunjukkan variabel yang mempengaruhi tingkat partisipasi pemilih itu. Kajian tingkat partisipasi pemilih Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD serta Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tahun 2014 menjawab sejumlah faktor seperti faktor yang mempengaruhi kehadiran/ketidakhadiran pemilih ke Tempat Pemungutan Suara (TPS), faktor yang mempengaruhi partisipasi pemilih, dan faktor yang meningkatkan partisipasi pemilih.

Demokrasi lokal tersebut merupakan jembatan emas mewujudkan daerah masing-masing menjadi baik bila pemilihnya tepat memilih pemimpin daerah. Jika salah, masyarakat mempertaruhkan masa depan daerahnya. Pilkada serentak memberikan harapan baru kepemimpinan daerah karena memunculkan pemimpin berbagai profesi di antaranya sejumlah petahana yang meraih kemenangan telak karena kinerjanya.

Mereka antara lain pasangan Abdullah Azwar Anas-Yusuf Widyatmoko yang memenangi pilkada Banyuwangi (Jawa Timur). Hasil beberapa real time quick count, persentase kemenangannya 89,86 persen dan 88,78 persen. Peta kemenangan Anas-Yusuf menyebar, tak hanya di kawasan perkotaan, tapi juga di perdesaan, sejak daerah perkebunan hingga pesisir pantai. Mereka bahkan menang di daerah konflik pertambangan, dan daerah yang angka kemiskinannya tinggi.

Langkah Anas-Yusuf saat menjabat periode lalu adalah membuka keterisolasian Banyuwangi. Mereka membangun infrastruktur bandara, jalan, jembatan, dan jaringan internet hingga ke desa-desa. Anas-Yusuf mempromosikan pariwisata yang menggerakkan sektor ekonomi kreatif, menghidupkan daerah yang sepi sebagai kawasan wisata, membangun birokrasi yang ramah. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Banyuwangi meningkat dari 64,5 (tahun 2010) ke 67,3 (2014), sementara pendapatan per kapita juga menaik dari Rp 14,97 juta (2010) ke Rp 25,5 juta (2014). Berarti Anas dan Yusuf tak hanya terkenal dan populer, tapi juga disukai warganya.

Kemenangan telak juga diraih pasangan petahana Tri Rismaharini-Wisnu Sakti Buana di Surabaya. Sosok pekerja keras Risma, begitu Tri Rismaharini disapa, menjadi penentu kemenangan. Hasil real time quick count, pasangan ini memperoleh 86,3 persen suara dan 86,2 persen. Mereka hanya kalah di kawasan eks lokalisasi Dolly. Surabaya di periode lalu (2010-2015) memang maju pesat. Program-programnya dinilai berhasil. Mantan Kepala Dinas Pertamanan Surabaya ini mewujudkan kota terpadat kedua di Indonesia itu menjadi kota yang nyaman bagi warganya. Dia membangun taman-taman yang asri dan ruang terbuka hijau lainnya. Saluran air dilebarkan, dan jalan alternatif ditambah.

Dia mengajak warganya mengelola sampah. Pengelolaan sampah tidak hanya mengubah Surabaya yang kumuh menjadi kota yang bersih, tapi juga menghasilkan kompos dan sumber tenaga listrik atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Warga Surabaya diberdayakan melalui pelatihan keterampilan gratis. Pendidikan gratis di sekolah-sekolah negeri dari sekolah dasar ke sekolah menengah atas. Infrastruktur di pinggiran kota dibenahi untuk merangsang pertumbuhan ekonomi warga. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya mendata, angka kemiskinan di Surabaya menurun dari 7,07 persen (2010) ke 5,97 persen (2013) dari 2,8 juta penduduk Surabaya. IPM Surabaya juga meningkat, dari 77,2 (2010) ke 78,51 (2013).

Ketika Risma kembali maju, bermunculan beberapa “penghadang” seperti dijadikan tersangka kasus Pasar Turi, Kebun Binatang Surabaya, dan gedung Siola, serta dituding antipengusaha, bahkan sempat tanpa pesaing. Banyak warga Surabaya yang cemas Risma tak bisa maju. Risman sebenarnya tidak harus maju. Siapa yang bisa mengimbanginya? Dia sungguh-sungguh membangun Kota Pahlawan itu. Surabaya di bawah kepemimpinan Risma memang contoh fenomenal pembangunan kota.

Mereka giat membangun, mengelola potensi, memanfaatkan dan mengembangkannya. Mereka memiliki konsistensi dan komitmen memajukan daerahnya. Tak hanya membangun daerah, mereka juga membangun rakyatnya. Mereka memahami kebutuhan warganya dan memenuhinya. Pendidikan, kesehatan, dan ekonomi diperhatikan. Tak heran jika dalam pilkada serentak tahun ini, Azwar Anas dan Risma menjadi tumpuan harapan rakyatnya untuk kembali memimpin daerahnya lima tahun ke depan. Mereka terpilih bukan hanya karena calon petahana, melainkan juga karena kiprah mereka selama lima tahun terakhir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: