imsitumeang

Membangun Perikanan untuk Mencapai visi Poros Maritim Dunia

In Uncategorized on f 30, 15 at 9:53 am

Berbeda dengan peringatan hari nasional lainnya, Hari Ikan Nasional (Harkannas) yang jatuh setiap tanggal 21 November memang kurang semarak. Bahkan, puncak peringatan di kawasan Parkir Timur Senayan, Jakarta, hanya dihadiri istri wakil presiden, serta beberapa menteri dan pejabat.

Kenyataan Harkannas tidak sesemarak pameran otomotif, pameran gadget, atau festival musik. Padahal, peringatannya bertajuk “Kedaulatan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Secara Berkelanjutan untuk Kesejahteraan dan Kecerdasan Masyarakat”. Perikanan nasional semestinya beroleh tempat di hati pemimpin negeri ini. Masyarakat pun kurang antusias, mungkin karena ketidaktahuan mereka terhadap acara ini.

Betapa tidak! Indonesia adalah negara kepulauan terluas di dunia. Luas wilayah lautnya 5,4 juta km², mendominasi total luas wilayah teritorial Indonesia yang 7,1 juta km². Pulaunya banyak. Panjang pantainya 95.181 km. Indonesia sungguh dikaruniai sumber daya kelautan yang melimpah, yaitu keanekaragaman hayati dan non-hayati. Pengembangan usaha kelautan dan perikanan mendorong pertumbuhan ekonomi yang menyumbang 82 miliar dollar AS per tahun.

Indonesia memiliki kesempatan sebagai penghasil produk perikanan yang terbesar di dunia. Apalagi jika potensi lainnya seperti sumber daya tidak terbaharukan dikelola modern. Sungguh kontribusinya signifikan. Guna mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan sebagai penggerak utama pembangunan nasional, sektor perikanan membutuhkan terobosan kebijakan politik-ekonomi (keuangan, ketenagakerjaan, infrastruktur, keamanan dan kenyamanan) yang kondusif. Secara umum, industri jasa keuangan belum memberikan dukungan finansialnya kepada sektor perikanan yang justru mengalami peningkatan ketika ekonomi nasional dan dunia mengalami kelesuan.

Banyak bisnis potensial berbasis sumber daya (resources based industry) yang memiliki peluang, seperti industri kelautan, perikanan, pariwisata, industri olahan, industri jasa kelautan, dan industri lainnya yang ramah lingkungan. Misalnya pariwisata bahari saja hanya mampu menghasilkan devisa sekitar US$ 1 miliar per tahun. Persoalannya, kendati perkembangannya menggembirakan, dukungan industri jasa keuangan kepada sektor kelautan dan perikanan belum memadai.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti berulang kali menegaskan pentingnya mengonsumsi ikan bagi perkembangan sumber daya manusia. Apalagi tahun depan Indonesia memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC). Menghadapi MEA itu, Indonesia harus siap. Nah, salah satu caranya ialah menyiapkan sumber daya manusia melalui gerakan makan ikan.

Ikan menjadi sumber gizi utama masyarakat, selain karena kandungan gizinya yang lengkap, harga dan jenisnya beragam, juga karena semua lapisan masyarakat mudah memperolehnya. Sehingga masyarakat relatif mandiri dalam memenuhi sumber gizinya. Selain itu, daging ikan berserat tipis dan lunak sehingga anak-anak mudah mencerna dan memakannya, serta kandungan gizi ikan yang esensial bagi manusia. Makan ikan bermanfaat untuk menyehatkan dan mencerdaskan.

Melimpahnya potensi kelautan dan perikanan yang beraneka ragam itu merupakan faktor prospektif untuk menjadikan negeri ini sebagai poros maritim dunia. Beberapa alasan yang menyebabkan sektor kelautan dan perikanan sangat prospektif dalam mendukung pembangunan ekonomi dan terwujudnya ketahanan dan gizi nasional. Di antaranya, memiliki keterkaitan (backward and forward linkeges) dengan sektor lain, memiliki multiplayer effect yang besar, memiliki beragam produksi dalam berbagai skala seperti ikan lele. Kemudian, memiliki gizi (terutama kandungan protein dan omega 3) yang bermanfaat bagi kesehatan dan kecerdasan, memiliki ketersediaan sepanjang tahun dan penyebarannya di seluruh nusantara baik hasil perikanan tangkap maupun budidaya, dan memiliki kandungan lokal (local content) sehingga masyarakat menikmati nilai tambahnya.

Saatnya pembangunan sektor kelautan dan perikanan menjadi prioritas kebijakan pembangunan nasional agar Indonesa bisa bangkit dari keterpurukan dan ketertinggalannya. Indonesia memiliki prospek bisnis perikanan yang cerah jika pemerintah dan stakeholders memperhatikan faktor-faktor modal dan pasar. Nilai pertumbuhan ekonomi sektor kelautan dan perikanan bisa mencapai 7 persen. Yang tidak kalah pentingnya adalah menjaga kelestarian sumber daya perikanan sebagai lumbung ikan.

Salah satu pilar/strategi utama untuk membangun industri kelautan dan perikanan yang kuat adalah investasi yang memungkinkan industri perikanan meningkatkan produksi yang berimplikasi pada menurunnya ongkos produksi per satuan produk, mengembangkan produk/jasa, meningkatkan kualitas produk/jasa, penetrasi ke pasar-pasar, serta pengembangan nilai tambah produk.

Dalam rangka mencapai visi Poros Maritim Dunia, Indonesia harus berfokus pada mendorong penguatan industri perikanan nasional. Upaya itu melalui pengambilan kebijakan-kebijakan yang menjamin berkembangnya usaha perikanan, membangun infrastruktur-infrastruktur seperti pelabuhan perikanan, cold storage, dan unit pengolahan ikan, serta membantu masyarakat seperti kapal penangkap ikan dan peralatan pengolahan. Melalui kebijakan-kebijakan selama setahun terakhir, yang berfokus pada pemberantasan illegal fishing, para nelayan mulai menikmati peningkatan jumlah tangkapan, jenis tangkapan yang beragam, dan waktu melaut yang pendek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: