imsitumeang

Kepungan Asap dan Darurat Pencemaran Udara

In Uncategorized on f 29, 15 at 12:03 pm

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau memperlama darurat pencemaran udara hingga tanggal 11 Oktober 2015 akibat pembakaran hutan dan lahan yang belum tertangani. Kabut asap juga mengepung daerah lain yang melumpuhkan aktivitas warga di Sumatera dan Kalimantan.

Pelaksana tugas Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman menyatakan status pencemaran udara semestinya berakhir tanggal 28 September 2015. Pemerintah provinsi memperlamanya agar fokus menangani persoalan tersebut. Fokus penanggulangannya ke kesehatan.

Dalam beberapa hari terakhir, kendati tidak ada titik api (hotspot), tapi kabut asap masih menyelimuti daerah ini. Riau ditetapkan dalam status darurat pencemaran udara sejak awal bulan September lalu.

Karena status tersebut, Satuan Tugas Kebakaran Lahan dan Hutan mengambil sejumlah kebijakan seperti menambah posko kesehatan. Selain itu, Pemprov Riau mewajibkan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) melayani masyarakat dalam waktu 24 jam. Dinas Kesehatan Pemprov Riau mencatat, sejak 29 Juni hingga 27 September 2015 warga yang menjadi korban terpapar asap berjumlah 44.871 orang. Dari jumlah itu, 37.396 orang menderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan sisanya mengidap pneumonia, asma, dan penyakit mata.

Jadwal penerbangan juga terganggu. Asap mengganggu jadwal penerbangan di Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Di Batam, Kepulauan Riau, sejumlah penerbangan gagal mendarat di Bandar Udara Internasional Hang Nadim. Di Buntok, Kalimantan Tengah, asap makin tebal. Jarak pandang di dalam kota hanya berkisar 50-75 meter.

Pemerintah memastikan penanggulangan asap mengerahkan kekuatan dalam negeri. Indonesia belum membutuhkan bantuan negara lain, termasuk Singapura. Tawaran bantuan Singapura berupa helikopter water bombing berkapasitas 5.000 liter, sementara Indonesia menggunakan water bombing dua-tiga unit yang berkapasitas hampir sama. Singapura juga menawarkan pesawat Hercules C-130 guna membentuk awan hujan dan pesawat Chinooks untuk memadamkan kebakaran. Persoalannya, pesawat berjenis ini ’memakan’ bahan bakar yang banyak.

Pemerintah mengintensifkan koordinasi antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kementerian LHK), dan pihak terkait lain. BNPB menambah helikopter water bombing untuk memadamkan api dan asap di Sumatera dan Kalimantan. Tercatat 21 pesawat dan helikopter water bombing untuk operasi udara. Helikopter tersebar di Riau 3 unit, Jambi 4, Sumatera Selatan 5, Kalimantan Barat 2, Kalimantan Tengah 3, dan Kalimantan Selatan 2.

Untuk operasi darat, pemerintah mengerahkan 20.837 personel tim gabungan BNPB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, dan lainnya.

Hanya saja, pembakaran lahan pertanian, perkebunan, dan semak belukar masih terjadi. Ancaman ini berpotensi hingga akhir bulan November 2015 jika pencegahan tidak tegas.

Sejumlah perusahaan mengerahkan pemadam kebakaran. Asia Pulp and Paper (APP) – Sinar Mas, contohnya, menerjunkan 2.700 pemadam kebakaran untuk memadamkan kebakaran di Riau, Sumatera Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat. Mereka juga membuka posko kesehatan gratis di Kampar, Riau. Pencegahan dan penanggulangan kebakaran tidak hanya di areal konsesi, tapi pemadaman hingga radius sekian kilometer dari titik terluar areal konsesi.

Bencana asap memasuki bulan ketiga. Jutaan penduduk di Sumatera dan Kalimantan, bahkan negeri jiran, masih terkungkung asap pekat.

Kualitas udara kian memburuk hingga ke tingkatan yang berbahaya. Sejumlah kota, seumpama Palangkaraya, Pontianak, Pekanbaru, dan Jambi, bisa disebut tak layak huni.

Itu terjadi berpekan-pekan. Penyakit saluran pernapasan sudah menjadi penderitaan sehari-hari. Penduduk tidak bebas keluar rumah. Asap betul-betul membawa sengsara.

Sesungguhnya tidak ada yang tahan menjalani hidup seperti itu, terus-menerus tersiksa asap. Secara sporadis, sebagian keluarga yang tergolong mampu mengungsi ke daerah lain. Bagaimana sebagian keluarga yang tergolong kurang mampu atau tidak mempunyai tempat menumpang? Mereka hanya pasrah, berharap asap segera pudar. Tapi, asap pekat merusak saluran penapasan.

Kita mengapresiasi upaya pemerintah. Penegak hukum terus memburu pembakar hutan dan lahan. Namun, kita mengingatkan bahwa manusia memiliki batasan hidup. Jangan memaksa warga bertahan dalam kesengsaraan hingga titik nadir.

Mereka membutuhkan tindakan cepat menyelamatkan warga di wilayah yang terdampak asap terparah. Jika kualitas udara berbahaya, evakuasi besar-besaran yang dikoordinasikan pemerintah pusat layak dipertimbangkan. Tujuannya hanya menyelamatkan manusia. Anak-anak usia sekolah tidak boleh diliburkan berlama-lama. Anak-anak harus bersekolah di sekitar penampungan. Tepikan ego wilayah dan ego sektoral.

Aturan yang mencegah kebakaran hutan dan lahan harus ditegakkan, termasuk menghapus aturan yang mengganjal, seperti Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang mengizinkan pembakaran lahan seluas 2 hektare per kepala keluarga. Tidak ada kearifan dalam pembakaran lahan yang justru merusak habitat manusia dan flora fauna.

Langkah pencegahan harus berlanjut. Prosedur tetap pemadaman kebakaran hutan dan lahan harus permanen. Pembangunan kanal-kanal, pembuatan sumur-sumur, hingga penyiapan armada yang memadai merupakan beberapa ide yang harus diwujudkan.

Semua pihak harus terlibat, terutama perusahaan selaku pengguna dan pengelola lahan. Semua upaya itu menuju satu sasaran; jangan bencana asap kembali terulang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: