imsitumeang

Heboh Mobil Nasional

In Uncategorized on f 13, 15 at 9:56 am

Heboh! Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Perdana Menteri (PM) Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak menyaksikan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara Proton Holdings Berhad (Proton, kependekan Perusahaan Otomotif Nasional) dan PT Adiperkasa Citra Lestari (PT ACL). Tanggal 6 Februari 2015 Proton – PT ACL meneken MoU di Kompleks Industri Automotif Malaysia, Shah Alam.

Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Datuk Seri Zahrain Mohamed Hashim, dan Duta Besar Indonesia untuk Malaysia Herman Prayitno bersama Chairman Proton Mahathir Mohamad, bekas PM Malaysia, juga menonton. Heboh? Karena Abdullah Machmud Hendropriyono yang meneken MoU selaku Chief Executive Officer (CEO) PT ACL, dia bersama CEO Proton Datuk Abdul Harith Abdullah. Berikutnya, Jokowi menunggangi New Proton Iriz, bekas orang kuat Malaysia itu yang menyetir.

Perusahaan induk Proton mengumumkan, kerjasama bertujuan untuk pengembangan dan perakitan mobil nasional Indonesia. ”Proton Holdings Berhad (”Proton”) today announced the signing of a Memorandum of Understanding (MoU) with PT Adiperkasa Citra Lestari (”PT ACL”) to establish cooperation ties between Malaysia and Indonesia (”parties”) in relation to the development and manufacturing of Indonesia National Car,” begitu siaran pers corporate.proton.com tanggal 9 Februari 2015.

Pemerintah membantah. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil dan Menteri Perindustrian Saleh Husin menilai Proton berusaha untuk mengambil kesempatan agar benar-benar menggarap industri mobil nasional di Indonesia. Lagian, pemerintah belum mengalokasikan anggaran negara untuk program itu. Proton masih feasibility study (studi kelayakan) sebagai tindak lanjut penandatanganan MoU. Jika layak, mereka akan mendaftarkan investasinya.

Tapi, Proton mengakuinya. ”The MoU is aimed at furthering business opportunities between both companies of the two neighbouring countries in areas relating to the development and manufacturing of the proposed vehicle project.”

Kerjasama tersebut demi keuntungan dua pihak dalam memperluas pasar. ”Therefore, we are pleased with the opportunities this MoU presents as this collaboration allows both nations and companies to provide knowledge-transfer and mutual sharing of expertise in the area of automotive whilst strengthening the bilateral ties among the countries,” CEO Proton Datuk Abdul Harith Abdullah yang terkutip dalam siaran pers itu.

Dalam siaran pers tadi, CEO PT ACL AM Hendropriyono mengaku sangat senang, terlebih Presiden Joko Widodo menghadirinya, dan dia memastikan kerjasama itu berita yang cepat. ”We are very happy to be working with Proton and Malaysia in this project. With the expertise that Proton has and our similar culture and environment, we are confident that Proton can help to train and develop a pool of specialist workforce for our automotive industry. This collaboration when materialized will not only spur the Indonesian automotive industry further but also expand knowledge and capabilities of our people.”

Berita MoU heboh karena rencana pengembangan dan perakitan mobil nasional di Indonesia. Kontroversi berlanjut. Ingatan rakyat mengarah ke mobil Esemka tipe Rajawali berplat AD 1 A, produk anak-anak sekolah menengah kejuruan (SMK) di Solo yang menjadi tunggangan besi alias mobil dinas Jokowi semasih menjabat walikota Solo. Sewaktu menjabat gubernur DKI Jakarta, dia terus melempar wacana akan menjadikan Esemka sebagai mobil kebanggaan nasional. Mobil bertipe sport utility vechile (SUV) berwarna hitam solid dan bermesin 1,5 liter itu juga pernah dibawa ke Jakarta untuk uji emisi serta uji tipe. Dan, berkat mimpi mobil nasional itu, Jokowi menjabat RI 1.

Tapi mimpi tinggal mimpi. Setidaknya, pemerintah belum mengeluarkan kebijakan pengembangan dan perakitan industri otomotif. Esemka hanya ”tunggangan politik” Jokowi untuk mengangkat citranya. Mobil Esemka tipe Rajawali terparkir di gedung Solo Technopark. Hanya pajangan. Tanpa kegiatan perakitan mobil. PT Solo Manifaktur Kreasi sebagai produsen mobil Esemka tidak berkantor di gedung itu. Sebab, produksi mobil itu memang berhenti. Padahal, tiga tahun lalu, masyarakat berbondong-bondong ke sana untuk menyaksikan perakitan mobil yang digadang-gadang menjadi embrio mobil nasional. Sia-sia keringat dan semangat anak-anak bangsa itu. Para siswa yang magang di lembaga itu justru tidak merakit mobil, tapi belajar mengoperasikan mesin bubut dan mengelas.

MoU itu tidak benar-benar membangun industri mobil nasional. Kesepakatan itu menyatakan, pada tahap awal Malaysia mengekspor kendaraan utuh ke Indonesia. Berikutnya, kedua perusahaan merakit mobil dan membangun pabrik komponen di Indonesia. Nantinya, mobil rakitan menjadi mobil buatan Indonesia, Mahathir menyatakannya seperti dikutip Bernama (Pertubuhan Berita Nasional Malaysia), kantor berita resmi Malaysia.

Wajar kalau sejumlah pihak menudingnya hanya proyek akal-akalan. Aksi tipu-tipu, istilah lagu ”Bento” Iwan Fals – penyanyi beraliran balada, pop, rock, dan country yang menjadi legenda. Kontroversi! Jakarta sedang disorot sebagai ibukota termacet di dunia, Jokowi malah ingin membuat mobil nasional. Publik tidak pernah mendengar program mobil nasional. Tiba-tiba publik terperanjat, tidak mengetahui arah pemerintahan. Selama ini pemerintah banyak mengecap Nawa Cita dan Poros Maritim.

Ulah gelo! Apa kabar konsep transportasi massal yang digadang-gadangnya sewaktu gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta? Semestinya, dia mendesak Malaysia agar bersikap manusiawi terhadap tenaga kerja Indonesia (TKI) dan memperkuat penjagaan di perbatasan negara. Publik mempertanyakan kompetensi PT ACL? Apakah perusahaan itu layak sebagai penerus kebijakan mobil nasional? Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) saja tidak mengenal nama itu. Belum sekali pun terdengar kiprahnya di bidang otomotif.

Jika serius mengembangkan mobil nasional, pemerintah semestinya mengandeng perusahaan mobil yang bonafid. Ibarat mencari guru, sang murid belajar ke guru yang bagus sekalian, misalnya ke perusahaan Jerman atau Amerika Serikat. Pemerintah jangan menggandeng perusahaan ecek-ecek. Di Jakarta saja, Proton jarang mengaspal, tidak laku. Orang Indonesia tidak meminati desain atau rancangannya. Pilihan yang jelas-jelas salah!

Berdiri tahun 1983, Proton menggandeng Mitsubishi (Jepang), belakangan Lotus (Inggris). Mitsubishi dan Lotus yang memasok mesin, Proton mengerjakan rangka bodi dan desain. Produksi Proton sempat satu juta unit tahun 1996. Bahkan, tahun 2001 dia menguasai 53% pasar atomotif Malaysia. Tapi sejak tahun 2012, Proton take over ke DRB-HICOM Berhad, yang dimiliki Tan Sri Syed Mokhtar Shah bin Syed Nor Al-Bukhary, karena kesulitan keuangan. Kok? Ternyata, Proton berjaya lama di tanah airnya. Nama besarnya tergerus kendaraan buatan Malaysia lainnya, Perodua – Perusahaan Automobil Kedua. Malaysian Automotive Institute (MAI) Review and Insight 2014-2015 mendata 29% pangsa pasar Perodua, sementara Proton 17,4%.

Selama Mahathir berkuasa, Proton beroleh perlakuan istimewa. Selain disubsidi negara, harga jualnya murah dibandingkan kendaraan bermerek non nasional. Tapi, tetap saja proteksi itu tak menjadikan Proton berkilap. Proton gagal merangsek pasar beberapa negara, seperti Australia, Turki, dan Indonesia. Ringkasnya, sinar Proton tengah meredup. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community dijadwalkan akhir tahun 2015. Total sekitar 600 juta penduduk negara-negara ASEAN, Indonesia adalah pasar yang menggiurkan. Jumlahnya 50%. Wajar bila Proton mengincar pasar Indonesia dengan bantuan pemerintahan Jokowi. Angka penjualan mobil setiap tahunnya menembus 1 juta. Publik membutuhkan informasi mengenai kerjasama Proton – PT ACL, apakah mau membuat mobil atau membangun industrinya.

Berita MoU heboh juga karena Jenderal TNI Hor (Purn) Prof Dr Drs Abdullah Machmud Hendropriyono SE SH MBA MH, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Kehadiran Jokowi dalam acara seremoni bukan sekadar sebagai penghormatannya kepada investor. Peristiwa di Shah Alam mengonfirmasi kecurigaan publik ihwal kedekatan guru besar ilmu intelijen itu dengan Jokowi sejak yang bersangkutan menjabat sebagai Walikota Solo. Luhut Binsar Panjaitan juga dalam sorotan ini.

Kiprahnya di dunia otomotif tidak cukup berjejak. Belum terdengar kiprah suksesnya. Dia sempat komisaris utama PT KIA Motor Indonesia (KMI), yang mendistribusikan 12 jenis produk KIA – Korea International Automotive (car manufacturer), perusahaan Korea Selatan. KIA dibawa Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto). Tommy melansir mobil Timor (Teknologi Industri Mobil Rakyat) yang digadang-gadang sebagai mobil nasional, padahal sebenarnya hanya produk KIA jenis Sephia rakitan. Menyusul krisis ekonomi yang berakibat pergantian kekuasaan, Hendropriyono mendirikan PT KMI. Seusai masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri, nasib PT KMI tak menentu.

Hendropriyono membantah tudingan. Bagi pemilik perusahaan itu, kerjasama tersebut murni business to business (B to B) tanpa keterlibatan pemerintah. Aneh! Jika business to business, mengapa mesti agenda Presiden? Bukankah Proton itu berstatus badan usaha milik negara Malaysia, sedangkan perusahaan Hendropriyono berstatus swasta? Jadi, yang betul adalah kerjasama G to P (government to private sector).

Juga aneh! Kok kunjungan kenegaraan Jokowi ke Malaysia hanya untuk memfasilitasi kepentingan bisnis Hendropriyono? Jika programnya bernama mobil nasional maka pastilah kebijakan negara, bukan swasta! Alasannya menggandeng Proton, karena kerjasama itu menitikberatkan pada penelitian, pengembangan, dan penteknikan. Sungguh nanggung! Kenapa tidak dengan perusahaan Jerman? Untuk kepentingan penelitian dan pengembangan, perusahaan Jerman mengucurkan dana hingga 50 miliar Euro. Dana terbanyak dari sektor otomotif, karena sektor industri yang terbanyak melakukan penelitian dan pengembangan di Jerman adalah mereka.

Di Jerman, perusahaan mobil yang terbanyak mengeluarkan dana penelitian dan pengembangan adalah Volkswagen atau VW bernilai 6 miliar Euro, menyusul perusahaan Daimler AG selaku produsen mobil Mercedes Benz yang berinvestasi 5,6 miliar Euro, serta Bayerische Motoren Werke AG, yang memiliki dan memproduksi Mini mobil, dan perusahaan induk Rolls-Royce Motor Cars, berinvestasi 3,4 miliar Euro. Daimler AG justru membuka pusat penelitian dan pengembangan (R & D center) di Beijing.

Putera-puteri Indonesia sesungguhnya sanggup membuat mobil nasional. Definisinya sederhana: 100% sahamnya dimiliki orang Indonesia di dalam negeri, dan dirakit oleh orang Indonesia di dalam negeri. Persoalannya, beleid pemerintah tidak jelas untuk mengembangkan dan merakit mobil buatan anak-anak bangsa. Pemerintah belum memiliki roadmap pembangunan mobil nasional tapi Kementerian Perindustrian memiliki roadmap pembinaan otomotif nasional.

Mimpi membuat mobil nasional harus tetap tertanam dalam sanubari kita. Banyak sekali deretan proyek mobil nasional sejak tahun 1990, seperti MR90, Timor, dan Kancil. Yang heboh, Esemka dan LCGC (low cost green car). LCGC ditentang berbagai pihak karena kontraproduktif dengan upaya perbaikan transportasi perkotaan yang buruk. Keberatan masyarakat itu terjustifikasi oleh predikat Jakarta sebagai ibukota termacet di dunia.

Persoalannya, kita tidak fokus. Sehingga, hasilnya setengah-setengah, lekas terlupakan karena tertarik model baru yang lebih bagus, lebih cepat, dan lebih murah. Tentunya, pemerintah menciptakan investasi mobil nasional yang memberikan dispensasi atau fasilitas khusus seperti pembebasan atau pemotongan pajak jangka waktu tertentu (tax holiday), kemudahan izin, dan kemurahan tenaga kerja.

Selain membuat mobil, membangun industrinya juga harus menjadi mimpi kita. Jika mau membangun industri mobil, tentu saja aspeknya berbeda. Industri mobil memiliki proses dari hulu ke hilir, yakni manusia, mesin, alat, material, energi, modal, dan informasi, termasuk distribusi dan penjualannya, yang terkelola dalam sistem produksi mobil. Industri pendukung otomotif sangat beragam, karena meliputi industri skala besar, menengah, dan kecil.

Perusahaan-perusahaan otomotif di Indonesia tidak berkembang karena terikat prinsipal asing. Perusahaan perakitan yang berkonsep value chain dan global production network berada di titik terendah. Perusahaan prinsipal banyak beruntung karena standarisasi, inovasi, dan brand. Jangan berhenti untuk membuat mobil nasional, membangun industrinya di tanah air Indonesia tercinta. Jangan mau hanya penyalur mobil negara jiran!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: