imsitumeang

Kampanye dan Blusukan

In Uncategorized on f 13, 14 at 1:26 pm

Kampanye rapat umum dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 tinggal pekan depan. Kampanye rapat umum peserta pemilu, baik partai peserta pemilu calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) serta calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) provinsi dan kabupaten/kota maupun perorangan peserta pemilu calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), akan berlangsung tanggal 16 Maret-5 April 2014.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan tanggal dan tempat pelaksanaannya. Untuk tanggal 31 Maret 2014, KPU menetapkan di semua provinsi tidak ada kampanye alias libur karena bertepatan Hari Raya Nyepi. Khusus di Bali, tanggal 28 Maret-1 April 2014 tidak ada kampanye.

Jadwal kampanye 12 partai terbagi tiga kelompok, yaitu kelompok kesatu: Partai NasDem, PKB, PKS, dan PDI Perjuangan; kelompok kedua: Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Demkrat, dan PAN; kelompok ketiga: PPP, Partai Hanura, PBB, dan PKP Indonesia. Dalam sekali kampanye di tiap provinsi akan diisi oleh empat partai sekaligus tiap hari.

Untuk kampanye rapat umum untuk calon anggota DPR, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan zona kampanye rapat umum yang berbasis provinsi yang ditentukan berdasarkan daerah pemilihan (dapil) provinsi masing-masing. Pelaksanaannya diawali tanggal 16 Maret 2014 dan melibatkan empat partai di setiap zona pada hari yang sama. Setiap partai memiliki hak yang sama untuk melaksanakannya. KPU hanya memfasilitasi lokasi dan jadwal pelaksanaannya. Partai dapat memanfaatkan atau tidak fasilitasi itu.

Namun, tidak semua partai akan berkampanye setiap hari. Selama rentang waktu 21 hari, tiap partai di tiap provinsi hanya 2-5 kali. Jumlahnya disesuaikan dengan jumlah dapil. Provinsi yang memiliki satu-dua dapil, hanya dua kali. Provinsi yang memiliki tiga dapil, tiga kali. Sementara provinsi yang memiliki dapil lebih tiga, kampanyenya lima kali.

Terdapat 26 provinsi yang dapilnya satu-dua, empat provinsi memiliki tiga dapil, dan tiga provinsi memiliki lebih tiga dapil, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Di tiga daerah itu, setiap partai memperoleh jatah kampanye lima kali. Dengan begitu, setiap partai akan berkampanye 79 kali di 77 dapil untuk calon anggota DPR.

Untuk partai lokal di Aceh, kampanye rapat umum bersamaan dengan partai nasional. Polanya, setiap empat partai nasional dan satu partai lokal berkampanye setiap hari di setiap kabupaten/kota dan kecamatan. Penetapan jadwalnya berdasarkan nomor partai.

Lokasi kampanye rapat umum ditentukan oleh KPU kabupaten/kota setelah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota. Pelaksanaan kampanye untuk calon anggota DPR dilaksanakan oleh pengurus partai tingkat pusat dan/atau calon anggota DPR. Pelaksanaan kampanye untuk calon anggota DPRD provinsi dilaksanakan oleh pengurus partai tingkat provinsi dan/atau calon anggota DPRD provinsi, sedangkan pelaksanaan kampanye calon anggota DPRD kabupaten/kota dilaksanakan oleh pengurus partai tingkat kabupaten/kota dan/atau calon anggota DPRD kabupaten/kota.

Pengurus partai peserta pemilu dapat mengangkat juru kampanye (jurkam) dari calon dan/atau pengurus partai politik, calon anggota DPR, calon anggota DPRD provinsi, calon anggota DPRD kabupaten/kota, perorangan atau organisasi penyelenggara kegiatan (event organizer). Mereka didaftarkan kepada KPU sesuai tingkatannya.

Adapun kampanye untuk calon anggota DPD dilaksanakan oleh calon bersangkutan. Calon anggota DPD dapat mengangkat jurkam, perorangan atau organisasi penyelenggara kegiatan. Mereka didaftarkan kepada KPU sesuai tingkatannya.

Pendaftaran identitas jurkam disampaikan ke KPU sesuai tingkatannya paling lambat  tiga hari sebelum pelaksanaan kampanye oleh peserta pemilu. Identitas juru kampanye ditandatangani oleh pengurus partai sesuai tingkatannya atau calon anggota DPR/DPRD dan calon anggota DPD bersangkutan.

Kampanye rapat umum akan dilaksanakan mulai pukul 09.00 WIB sampai 17.00 WIB. Tempatnya di lapangan atau stadion atau alun-alun yang dihadiri oleh massa anggota partai atau pendukung partai dan warga masyarakat lainnya. Pelaksanaan kampanye memperhatikan daya tampung lokasi dan massa dilarang membawa atau menggunakan tanda gambar, simbol-simbol, panji, pataka, dan/atau bendera yang bukan tanda gambar partai yang akan berkampanye. Satu hal lagi, pelaksanaan kampanye rapat umum wajib menghormati hari dan waktu ibadah.

Selama masa kampanye, partai harus menaati peraturan yang berlaku, antara lain tidak melibatkan anak-anak, menyinggung isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan), serta tidak memanfaatkan fasilitas umum dan rumah ibadah. Selain itu, partai dan para caleg (calon anggota lembaga legislatif) juga harus siap menghadapi konsekuensi hasil pertarungan lima tahunan tersebut.

Sebagai rangkaian sosialisasi masif untuk meningkatkan partisipasi pemilih pada Pemilu 9 April 2014, KPU harus makin mengingatkan masyarakat bahwa hari pemungutan suara tinggal satu bulan. Mekanismenya mencoblos. Mereka diajak agar menggunakan hak suaranya di tempat pemungutan suara (TPS). Mereka penentu masa depan bangsa ini, bukan sebaliknya. Suara mereka sangat penting. Oleh karena itu, masyarakat harus bisa menjadi pemilih cerdas.

Untuk mengikuti kampanye Pemilu DPR/DPRD dan DPD, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan cuti dua hari, yaitu tanggal 17-18 Maret 2014. Pemberitahuan cuti sudah disampaikan kepada KPU. Presiden akan menggunakan masa cutinya untuk berkampanye di dapil Jawa Tengah VI (Kota Magelang dan Kabupaten Magelang) tanggal 17 Maret 2014 dan Jawa Timur VI (Tulungagung dan Blitar) untuk tanggal 18 Maret 2014. Namun, surat tersebut bukan pemberitahuan cuti Presiden untuk menjadi jurkam Partai Demokrat. Sementara itu, 10 menteri yang berasal dari partai akan berebut posisi di gedung parlemen Senayan, enam di antaranya sudah mengajukan cuti untuk kampanye.

Gaya kerja Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi akan banyak ditiru politikus dalam berkampanye. Gaya kerja Jokowi, tidak saja hemat dan efektif efisien, tetapi mengubah cara berpolitik banyak politikus. Sejumlah caleg akan menyambangi kantong-kantong masyarakat. Waktu akan tersita untuk menyambangi masyarakat. Namun, cara seperti ini bukan perkara gampang. Dibutuhkan stamina yang prima. Nama tenar yang disandang seorang caleg tidak sepenuhnya menjamin untuk memperoleh suara yang banyak.

Aktivitas seperti ini sesungguhnya bukan gaya baru. Dahulu, gaya kampanye seperti itu pernah dilakukan para politikus. Kemudian, pragmatisme justru mendorong kelahiran politik uang (money polititics), sehingga sebagian besar politikus gemar memasang spanduk, baliho, dan poster yang bergambar foto dirinya ketimbang “turun lapangan” menemui masyarakat. Walhasil, masyarakat melontarkan istilah caleg baliho: baliho ada, tapi caleg tidak pernah turun lapangan.

Lama-kelamaan, masyarakat jengah dan semakin tersadar karena merasa ditipu politikus yang model kampanyenya seperti itu. Kendati begitu, masih banyak politikus yang tetap percaya diri atau pede memilih jalan instan, mereka belakangan memang bertumbangan satu persatu. Fenomena itu terbukti dalam Pemilu 2004 dan 2009.

Akhir-akhir ini masyarakat dikenalkan dengan istilah blusukan, kendati blusukan juga dilakukan oleh Muhammad Amien Rais dalam kampanye tahun 2004. Gaya kerja ini dipopulerkan oleh media massa dan Jokowi dianggap sebagai pelopornya. Oleh banyak orang, blusukan dianggap sukses mengantarkan Jokowi sebagai Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta. Tidak hanya calon legislator/senator, sejumlah tokoh yang akan bertarung dalam pemilu presiden pun ikut-ikutan blusukan. Mereka rajin menyambangi kantong-kantong masyarakat, dari pasar ke permukiman warga miskin.

Blusukan, bahasa sederhananya, adalah keluar-masuk dari-ke tempat yang jarang atau tidak pernah disambangi orang. Tujuannya semata-mata untuk mengetahui situasi kondisi sebenarnya. Blusukan memang menjadi cara kerja Jokowi untuk mengenal masalah yang dihadapi DKI Jakarta dan menemukan solusinya. Model blusukan memang sedang tren di kalangan politikus. Tren kampanye pun akan banyak dipengaruhi oleh gaya kerja ala Jokowi ini.

Gaya blusukan akan diikuti para politikus seiring berubahnya sistem pemilu di Indonesia. Dengan sistem pemilu yang lama, pertarungan hanya terjadi antarpartai. Dalam sistem pemilu yang baru, persaingannya menjadi antarcaleg—tidak hanya dengan caleg partai lain, melainkan juga antarcaleg partai sendiri. Seorang caleg artis, misalnya, mau tidak mau harus tetap mengikuti pertarungan yang ketat dan berat. “Lawan bertarung” tidak hanya caleg partai lain, melainkan juga antarcaleg partai sendiri.

Tidak hanya itu, sistem pemilu yang lama membuka kesempatan bagi partai atau tokoh untuk menggelar kampanye rapat umum yang mengerahkan massa. Dalam sistem pemilu yang baru, cara itu tidak menjamin bahwa masyarakat akan benar-benar mau mencoblos partai atau politikus yang menjadi target arahan. Hanya calon yang dikenal dan dekat rakyat yang akan dipilih pemilih. Tidak mengandalkan popularitas, tetapi sentuhan dan sapaan.

Selain perubahan sistem, kembali populernya cara blusukan juga didorong oleh KPU yang menerbitkan Peraturan KPU Nomor 15 Tahun 2013 yang membatasi pemasangan baliho kampanye. Masih banyak caleg yang memang melanggar aturan itu. Namun, aturan KPU dan perubahan sistem pemilu telah mendorong kalangan politikus untuk bekerja yang keras. Lagi pula, blusukan adalah cara berkomunikasi yang paling diinginkan pemilih saat ini. Cara berkomunikasi ini akan mampu merebut hati rakyat karena ketidakpercayaan masyarakat terhadap partai yang masih tinggi karena mereka merasa politikus atau pemimpin partai masih berjarak dengan rakyat.

Sebuah lembaga riset yang mengumumkan hasil surveinya menyimpulkan bahwa elektabilitas partai dan tokoh akan terdongkrak hingga 38,3 persen karena kunjungan ke tengah-tengah masyarakat, disusul melalui pemberitaan (35,9 persen), dan iklan di media massa (25,8 persen). Blusukan memang lebih bernilai ketimbang menebar poster atau memasang iklan. Dalam ilmu marketing, blusukan ala Jokowi lebih bernilai ditinjau dari berbagai macam sisi apapun. Nilainya sangat tinggi dan tidak terbayarkan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: