imsitumeang

Vonis Angie Sebagai Yurisprudensi

In Uncategorized on f 17, 13 at 10:05 am

Putusan Mahkamah Agung (MA) membuat Angelina Sondakh alias Angie menjadi depresi. Tak ada senyum bahagianya seperti tatkala seusai pembacaan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, tanggal 10 Januari 2013. Putusan MA memperberat hukumannya. Vonis kasasi MA terhadap politisi Partai Demokrat ini menjadi 12 tahun, semula hanya 4 tahun 6 bulan. Putusan ini dikeluarkan tanggal 20 November 2013.

Apalagi, selain hukuman penjara 12 tahun, dalam putusan kasasi hakim mewajibkan mantan Puteri Indonesia ini mengembalikan uang suap Rp12,58 miliar dan USD2,350 juta yang diterimanya. Jika tidak dibayar, harus diganti dengan hukuman lima tahun. Angie menjadi terdakwa kasus dugaan korupsi penerimaan hadiah dalam penganggaran di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kempora) dan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas).

Vonis memberatkan itu diputuskan dalam sidang kasasi yang dipimpin Ketua Kamar Pidana MA Artidjo Alkostar dengan anggota MS Lumme dan Mohammad Askin. Trio hakim agung ini membanduli Angie dengan hukuman yang lebih berat di tingkat kasasi karena terbukti melanggar Pasal 12 a Undang-Undang Pemberantasan Tipikor karena aktif meminta uang (fee) dari sejumlah proyek di Kempora dan Kemdiknas. Angie juga bersalah karena aktif menggiring anggaran.

Ada faktor Artidjo dalam vonis Angie dan para koruptor lain. Lagi-lagi lelaki kelahiran Situbondo tanggal 22 Mei 1948 ini membuat publik tercengang. Dialah hakim agung yang ditakuti para koruptor dengan putusan-putusan yang memberatkan para terdakwa dibandingkan dengan putusan di pengadilan tingkat pertama dan banding. Kesederhanaan dan kejujuran telah menempa Artidjo. Dialah hakim agung yang tanpa ampun menghukum koruptor. Vonis ringan yang dijatuhkan hakim di bawahnya dia rombak dan tetap dengan argumen hukum yang kuat.

Dia, misalnya, memperberat hukuman Anggodo Widjojo dari 5 tahun ke 10 tahun. Dia juga memperberat hukuman Gayus Halomoan P Tambunan dari 10 tahun ke 12 tahun, membatalkan vonis bebas Bupati Subang (nonaktif) Eep Hidayat dan Bupati Sragen Untung Sarono Wiyono, serta memperberat hukuman Muhammad Nazaruddin dari 4 tahun 10 bulan ke 7 tahun penjara.

Putusan MA ini patut diapresiasi. Putusan MA ini diharapkan memberikan efek jera bagi para koruptor yang masih berani menggarong uang negara. Putusan Artidjo atas Angie mencerminkan ketajaman kepekaan dan keadilan sosial. Apalagi, vonis diputuskan di tengah-tengah pusaran pemikiran hukum para penegak hukum yang masih bermazhab ultrakonservatif positivistik, berani bermain-main, dan tandus roh keadilannya, seperti tecermin rendahnya beberapa vonis terdakwa korupsi.

Hakim harusnya memiliki common sense yang sama dengan masyarakat. Keberanian para hakim agung ini harus dijadikan yurisprudensi ketika hakim lain memutuskan kasus korupsi. Aparat penegak hukum selama ini masih terbukti tidak sungguh-sungguh dalam memberantas korupsi. Banyak sekali kasus korupsi yang dihukum ringan, bahkan tidak sedikit yang dibebaskan.

Yang kontroversi adalah hakim agung MA dalam sidang peninjauan kembali (PK) yang membebaskan buronan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), Sudjiono Timan. Putusan PK ini membatalkan vonis kasasi yang menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara dan denda Rp369 miliar kepada dia karena terbukti mengkorupsi uang negara di BUMN PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) sehingga negara mengalami kerugian keuangan sekitar Rp 120 miliar dan USD 98,7 juta.

Permohonan PK melanggar prosedur karena dia tidak hadir dan statusnya dalam daftar pencarian orang (DPO). PK justru diajukan istrinya yang mengklaim sebagai ahli waris dengan didampingi kuasa hukumnya. Putusan bebas Sudjiono ini satu dari sekian banyak contoh putusan aparat penegak hukum yang mencederai rasa keadilan masyarakat. Apalagi, banyak kasus putusan ringan atau bebas dimain-mainkan para oknum penegak hukum.

Tanpa rasa bersalah mereka ‘main mata’ dengan para koruptor dengan imbalan yang tidak sedikit. Tudingan ini bukan tanpa bukti. Banyak para hakim tertangkap tangan sedang ‘bertransaksi’ dengan para terdakwa korupsi. Misalnya, aksi tangkap tangan KPK yang memergoki hakim adhoc Pengadilan Tipikor Semarang Kartini Marpaung yang menerima suap atas perkara korupsi yang dilakukan oleh oknum Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Grobogan M Yaeni.

Belum lama ini, kita juga dikagetkan dengan penangkapan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mohammad Akil Mochtar. Penangkapan Akil merupakan bukti bobroknya dunia peradilan. Karena itu, wajar kalau banyak kalangan yang meminta dia dihukum seberat-beratnya, bahkan tidak sedikit yang meminta dia diganjar hukuman mati.

Dengan kehadiran KPK, banyak koruptor yang diseret ke meja hijau. Namun, KPK hanya bergerak sendirian. Entah di mana Kejaksaan dan Kepolisian. Bagaimana kinerja mereka? Kenyataan itu ternyata tidak membuat efek jera yang lain untuk menggarong uang negara. Korupsi tetap tinggi. Data yang dirilis Transparancy International Indonesia (TII) menyebutkan Corruption Perception Index (CPI) tahun 2012, Indonesia memperoleh skor 32 pada urutan ke-118 dari 176 negara.

Indonesia sejajar posisinya dengan negara Republik Dominika, Ekuador, Mesir, dan Madagaskar. Di kawasan ASEAN (Association of Southeast Asian Nations), posisi Indonesia di peringkat ke-6 dari delapan negara, atau di bawah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, dan Filipina, serta di atas Vietnam, dan Myanmar.

Skor itu membuktikan Indonesia masih belum dapat keluar dari kubangan korupsi. Hukuman yang ringan menjadi salah satu penyebab utama masih banyaknya korupsi di negeri ini. Karena itu, pikiran keadilan progresif Artidjo dalam upaya bangsa memberantas korupsi harus terus menerus digemakan agar menjadi yurisprudensi dan diikuti hakim-hakim yang lain.

Artidjo betul-betul menunjukkan komitmennya yang tinggi dalam pemberantasan korupsi. Dia tidak sedang beretorika untuk memberantas korupsi. Artidjo membuktikan melalui putusan-putusannya. Dia mewakili korps jubah hitam itu menggunakan palunya menjawab kegelisahan bangsa yang belum juga berhasil memenangi perang terhadap korupsi. Artidjo tidak sedang membaca teks pasal demi pasal dan ayat demi ayat kemudian mengaitkannya dengan teori pembuktian. Dia justru mengaitkannya dengan rasa keadilan publik yang terkoyak moyak dengan perbuatan korupsi.

Begilah corak keadilan progresif ala Artidjo yang selayaknya dijadikan panutan! Skuadnya harus diperkuat. Hakim berpikiran progresif yang mampu menangkap kegeraman bangsa harus diberi kedudukan yang layak untuk ikut berperan serta menolong bangsa memberantas korupsi dan extraordinary crime lainnya. Hakim progresif itu harus disebar di pengadilan tingkat pertama dan tingkat banding. Terlebih lagi praktik korupsi di negeri kita telanjur merajalela. Tanpa hukuman berat, praktik korupsi sulit diharapkan bisa surut.

Kita membutuhkan para penegak hukum berani memberikan hukuman berat, bahkan hukuman mati para koruptor. Bangsa ini membutuhkan hakim berpikiran progresif ala Artidjo, bukan hakim yang menjadikan vonisnya sebagai ajang “jual beli”. Penegak hukum yang korup pantas dihukum mati. Kita harus belajar banyak dari Cina yang berani menghukum mati para pejabatnya yang korup. Vonis Artidjo mempunyai dua semangat, yakni semangat membuat jera koruptor dan semangat memiskinkan koruptor. Dengan begitu, para koruptor yang lain akan sungkan untuk melakukan tindak pidana korupsi.

Karena bagaimana pun korupsi telah menyebabkan banyak kesengsaraan bagi rakyat di negeri ini. Korupsi bukan saja berwatak extraordinary crime, melainkan juga kejahatan luar biasa yang membunuh rakyat pelan-pelan karena melanggar hak ekonomi dan hak sosial mereka. Korupsi juga telah menjadi penghambat kemajuan negara ini sehingga Indonesia semakin teringgal jauh dengan negara-negara lain. Aparat penegak hukum, baik penyidik, jaksa, maupun hakim, semestinya mengungkap tuntas semua kasus korupsi. Tak ada ampun bagi koruptor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: