imsitumeang

Bertaruh Nyawa demi Mudik Lebaran

In Uncategorized on f 14, 13 at 12:22 pm

Para pemudik melintasi jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa saban mudik Lebaran. Pekan-pekan menjelang Idul Fitri, Pantura masih saja bersolek, tak berhenti untuk menambal bopeng-bopeng jalan dan jembatan. Jalur alternatif tidak lebih baik ketimbang jalan utama di Pantura. Selain jalannya bergelombang dan beberapa ruasnya rusak, fasilitasnya pun minim.

Lebaran semestinya tidak memakan tumbal. Tapi ternyata waktu mudik setiap tahun selalu memakan korban, baik luka ringan maupun luka berat, hingga tewas, karena kecelakaan. Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mencatat, terjadi 2.826 kali kecelakaan lalu lintas (laka lantas) hingga H+5 Lebaran tahun ini, 630 pemudik tewas, 1.027 orang luka berat, dan 3.728 orang luka ringan. Kejadian tersebut melibatkan 4.933 unit kendaraan.

Tahun 2011, 811 orang luka ringan, 2.027 orang luka berat, dan 490 orang tewas. Tahun berikutnya, 2012, jumlah korban bertambah, yaitu 1.505 orang luka ringan, 5.139 orang luka berat, dan 908 orang tewas. Realitas ini bakal terus menerus terulang bila pemerintah tidak segera membenahi sarana angkutan umum beserta prasarananya.

Kepolisian juga mencatat, pengendara sepeda motor mengalami kecelakaan terbanyak atau 263 kasus, menyusul kecelakaan mobil 107 kasus. Angka kecelakaan akan bertambah hingga setelah Lebaran. Apalagi tidak terjadi perubahan manajemen mudik.

Angka kecelakaan lalu lintas sebetulnya bisa berkurang bila pemerintah menekan jumlah pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi seperti sepeda motor. Merekalah yang paling rentan terkena musibah karena berbagai penyebab, sejak keletihan hingga mengantuk. Lebaran tahun lalu, 70 persen dari 5.233 total kasus pemudik merupakan kecelakaan sepeda motor.

Masalahnya, jumlah pemudik yang menggunakan sepeda motor tahun ini bukannya berkurang, melainkan bertambah. Jumlah sepeda motor yang digunakan untuk mudik diprediksi 3 juta unit atau naik 8 persen dibanding tahun lalu, adapun jumlah mobil diprediksi 1,7 juta atau naik 6 persen.

Dari total 30 juta pemudik di seluruh Indonesia, hanya 18 juta menggunakan angkutan umum seperti kapal, bus, kereta api, dan pesawat. Sebanyak 12 juta menggunakan kendaraan pribadi, termasuk sepeda motor. Idealnya, pengguna angkutan umum 80-90 persen, bukannya 60 persen seperti sekarang.

Data kecelakaan Lebaran tahun lalu juga mengungkap: faktor manusia adalah penyebab tertinggi (28 persen). Penyebab lain di antaranya faktor alam (20 persen), kendaraan (18 persen), dan kondisi jalan (15 persen). Tak hanya rawan kecelakaan, pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi juga menimbulkan kemacetan.

Jika ada transportasi umum yang nyaman, murah, dan tidak macet, niscaya masyarakat meninggalkan kendaraan pribadi seperti sepeda motor. Karena itulah betapa pentingnya pemerintah memperbaiki jalan dan jembatan serta membenahi angkutan umum yang amburadul.

Jumlah pemudik dari tahun ke tahun meningkat. Apabila tahun 2011 pemudik berjumlah 15,5 juta jiwa, tahun 2012 berjumlah 17,3 juta jiwa, dan tahun 2013 diperkirakan 18,1 juta jiwa atau naik 4,46 persen. Mudik diperkirakan membawa dampak ekonomi bagi perekonomian di daerah. Potensi dana yang mengalir ke daerah mencapai Rp 90 triliun.

Magnet mudik benar-benar menciptakan kekuatan besar; memotivasi masyarakat, menggerakkan perekonomian, mendorong masyarakat untuk berbagi, bahkan menggairahkan pembangunan di berbagai daerah. Gerakan Lebaran dengan tradisi mudik tersebut mampu mengubah negeri. Dana mengalir ke seantero negeri, tidak hanya berkat kewajiban umat yang membayar zakat, tapi berkat kegiatan masyarakat yang beragam.

Harusnya pemerintah berkaca dan mengambil hikmah dari tradisi mudik Lebaran. Perjuangan dan tantangan yang dibuktikan masyarakat selayaknya membangkitkan motivasi pemimpin bangsa dalam membangun negeri. Kita tentunya tidak hendak memaklumi apa yang terjadi, tetapi belajar dari tradisi mudik, pemerintah seharusnya terdorong memiliki keberanian, kepastian, dan program.

Pemerintah jangan ragu-ragu, tetapi harus berani berjuang dan menghadapi tantangan demi memajukan bangsa. Tentunya selalu berupaya meminimalkan risiko. Bangsa kita membutuhkan tindakan nyata. Program yang ada, dari meningkatkan perekonomian, termasuk ketersediaan lapangan kerja yang menjamin masa depan, jaminan pendidikan dan kesehatan, seharusnya benar-benar membumi. Bukan janji-janji kosong.

Misalnya, Ramadhan sudah berlalu, Lebaran pun sudah lewat, namun harga-harga sebagian besar sembilan bahan pokok (sembako) masih stabil tinggi. Langkah atau strategi pemerintah dalam menstabilkan harga sepertinya tidak berarti, termasuk membuka keran impor sekalipun. Percuma saja pemerintah melakukan impor daging, bawang, serta komoditas lainnya, apabila tidak memiliki peta yang jelas siapa saja pemain dan pelaku impor pangan. Moment Lebaran yang seharusnya disambut suka cita, seakan ternoda dengan sulitnya memperoleh pangan berharga terjangkau sejak puasa hingga Lebaran.

Yang lain, sekarang terkuak melalui media cetak maupun elektronik bahwa jalan raya diperbaiki terus-menerus namun tetap saja rusak. Ironis sekali, tidak lama setelah diperbaiki, jalan itu pun rusak lagi. Jalan berlobang dan becek tatkala hujan dan akhirnya rusak parah. Begitu seterusnya, jalan diperbaiki dan tidak lama kemudian kembali rusak. Kita prihatin dengan cara kerja pemerintah yang memperlakukan infrastruktur jalan bagai baju Lebaran.

Lebaran kali ini terasa sekali berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kali ini, meski orang tetap berlebaran tetapi tidak “seindah” dulu. Bahkan, ada di antaranya menghadapi lebaran dengan rasa keprihatinan, apa adanya agar kelihatan tetap berlebaran seperti orang lain yang mempunyai rezeki. Memang, keluhan di bulan puasa karena kebutuhan hidup makin sulit terpenuhi akibat harga barang sangat mahal sementara gaji atau pendapatan tidak meningkat.

Beginilah sifat masyarakat Indonesia secara umum. Ketika melaksanakan tradisi mudik sebagai ritual tahunan, mereka berjuang habis-habisan, juga siap menghadapi tantangan. Mereka mengumpulkan dana demi memenuhi kebutuhan mudik, kemudian menghadapi berbagai tantangan, baik ketika mengarungi padatnya perjalanan pulang kampung, maupun saat memenuhi kebutuhan usai Lebaran.

Demi mudik atau pulang ke kampung halaman, banyak pemudik yang rela meninggalkan rumah di perantauan dan melakukan perjalanan jarak jauh. Tidak sedikit pula yang rela menggunakan kendaraan apa adanya, seperti truk, bahkan bajaj. Bagi mereka, Idul Fitri menjadi hari baru. Tidak sedikit yang mengartikannya kembali ke fitrah, memulai kehidupan dengan hati, jiwa, yang suci. Menyikapi atau menyambutnya dengan segala kesederhanaan.

Namun tidak sedikit di antara masyarakat Indonesia menyambut Lebaran dengan berkumpul dengan orangtua, serta sanak saudara di kampung halaman. Transportasi umum yang tidak layak menyebabkan pemerintah tidak kuasa mencegah, apalagi melarang, pemudik menggunakan sepeda motor. Padahal, kendaraan roda dua jelas-jelas berbahaya untuk perjalanan jarak jauh. Para pengendara sepeda motor mesti bertarung dengan mobil dan bus di jalanan.

Pemerintah seharusnya memperbaiki infrastruktur jalan dan jembatan menjadi permanen, baik di Pantura maupun jalur lainnya, agar tidak menjadi “proyek abadi”. Infrastruktur jalan dan jembatan yang bagus selain akan memperlancar arus mudik dan balik juga menekan jumlah kecelakaan. Para pemimpin negeri ini semestinya tak membiarkan rakyatnya mudik dengan mempertaruhkan nyawa. Jadi, siapa pun yang memimpin negeri seharusnya prorakyat, bukannya sibuk mengurusi partai atau kelompok tertentu saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: