imsitumeang

Lawatan Klub-klub Bola Dunia

In Uncategorized on f 29, 13 at 7:36 am

Jangan terlalu terharu menyaksikan tiga klub bola Liga Inggris berdatangan ke Jakarta. Arsenal, Liverpool, dan Chelsea, yang rehat kompetisi, terbang jauh dari Inggris kemari bukan lantaran tim sepakbola hebat di negeri ini. Tim sepakbola Indonesia justru kalah telak: kebobolan 17 gol dan hanya membalas satu gol (itu pun gol bunuh diri). Pemain-pemain kita berlaga di medan perang palsu untuk dibantai, dicerca, dan ditertawakan. Apa yang didapat sepakbola kita dari laga konyol semacam itu? Sesekali silakan, tapi untuk terus-menerus seperti itu, apa artinya?

Tur pra-musim klub-klub bola Eropa ke Asia, Afrika, dan Amerika Utara adalah tren sepakbola modern yang tak terelakkan. Atas nama penggemar, mereka menggelar tur ke berbagai belahan dunia. Di Indonesia, tur pra-musim klub-klub bola Liga Inggris yang dipuja-puja penonton itu memperoleh lawatan yang paripurna: tak terlalu berkeringat di lapangan, berkesempatan menghibur fans, dan yang terpenting: mereka mendapatkan bayaran yang besar.

Dua dua tahun terakhir, setelah berbondong-bondongnya klub Eropa ke sini, stadion memang banjir penonton. Para penggila sepakbola pasti ingin melihat bintang-bintang dunia yang selama ini hanya mereka tonton lewat siaran televisi. Dengan sekitar 250 juta penduduk yang sebagian besar menggilai sepakbola, Indonesia jelas menjadi sasaran empuk klub-klub bola dunia yang selama ini hanya bisa dinikmati aksinya lewat layar kaca.

Angka statistik jumlah penggemar menjadi legitimasi klub-klub bola itu untuk menggelar pentasnya di Indonesia laiknya bintang-bintang pop menggelar konser musik. Jumlah fans klub-klub Inggris itu barangkali lebih banyak dari pada pendukung tim Indonesia. Fans Liverpool di Indonesia, misanya, sekitar 1,3 juta, melebihi jumlah pendukung di negerinya sendiri. Penyokong Arsenal dan dan Chelsea di sini di atas setengah juta orang.

Situasi ini tidak bertepuk sebelah tangan karena promotor di Indonesia berlomba-lomba mendatangkan klub-klub bola atau setidaknya bintang-bintang sepakbola tersebut. Rupanya, sponsor memahami benar kiat bisnis memanfaatkan fans segudang ini. Bagi sponsor, tak rugi mengeluarkan uang miliaran bila brand image atau citra merek mereka meningkat di mata orang ramai. Melonjaknya citra biasanya berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan.

Siapa tak tergiur melihat potensi laba yang bisa didapat dari hasil mendatangkan idola-idola itu? Mendatangkan klub-klub berbasis massa pendukung yang besar seperti Internazionale Milan, Arsenal, Liverpool, dan Chelsea tentu saja menjanjikan penjualan tiket yang mengesankan. Memperlakukan sepakbola sebagai ajang promosi dan bisnis tentu saja tidak haram. Orang tahu bisnis kadang tak berjalan seiring dengan nasionalisme.

Penonton “memerahkan” atau “membirukan” Stadion Gelora Bung Karno dengan mengenakan kostum klub tamu. Mereka menyanyikan lagu “kebangsaan” milik penonton Stadion Emirates atau Stamford Bridge, markas klub-klub Inggris itu. Dengan menyematkan label All-Stars, Dream Team, Selection, atau Indonesia XI, tim yang bermaterikan pemain-pemain tim nasional pun diadu dengan bintang-bintang dari negeri nun jauh di sana. Penonton bersorak-sorai justru ketika pemain lawan membobol gawang tim Indonesia. Tak masalah tim Indonesia kalah, asalkan bisa menyaksikan idola-idola dari Eropa berlaga di depan mata.

Pemain-pemain terbaik di Tanah Air itu pun akhirnya hanya pelengkap penderita. Dengan kemampuan begitu compang-camping, tim Indonesia Cuma menjadi bulan-bulanan lawan. Apresiasi sekadarnya pun diberikan. Bahwa tim Indonesia sudah mengeluarkan kemampuan terbaiknya bla, bla, bla. Lalu, ketika pujian palsu dilontarkan kubu tamu, hati kita terasa mudah terpuaskan. Kata mereka, kita mempunyai potensi, kita mempunyai masa depan yang cerah dan semacamnya. Iya, memang. Lantas apa?

Setelah para tamu itu pergi, pujian palsu itu berlaku, keadaan kembali normal. Tidak ada hikmah yang benar-benar mereka tinggalkan. Semuanya semu. Karena memang kemampuan kesebelasan Indonesia saat ini jauh di bawah tim-tim nasional di masa lalu. Bahkan klub asal Surabaya, Niac Mitra, misalnya, tahun 1983 pernah memukul Arsenal dengan skor 2-0. Sejak tahun 1953, sudah 19 klub Eropa yang datang, tapi baru belakangan ini tim Indonesia kalah dengan jumlah gol mencolok.

Memang betul pemain-pemain kita bisa mendapat pengalaman. Para penggemar pun terpuaskan dahaganya. Tapi sepakbola kita memperoleh apa dari laga konyol semacam itu? Apakah pengalaman begitu yang dibutuhkan para pemain kita? Apakah sorak-sorai macam itu yang benar-benar dirindukan? Rasanya tidak. Sepakbola kita tidak membutuhkan pertandingan-pertandingan macam itu. Bayangkan, pemain-pemain kita dibantai, dicerca, dan ditertawakan? Sesekali silakan, tapi untuk terus-menerus seperti itu, apa artinya?

Mengapa tim nasional kita tidak menghadapi tim nasional dari negara-negara yang kekuatannya selevel kita? Dalam satu tahun kompetisi, ada 12-13 agenda Fédération Internationale de Football Association (FIFA) atau Federasi Internasional Sepak Bola untuk laga tim nasional, baik kualifikasi turnamen konfederasi, Piala Dunia, maupun ajang uji coba. Berapa banyak yang digunakan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI)? Nyaris tidak pernah.

Sebelumnya kita sempat menghadapi Belanda dan Uruguay di ajang ujicoba, tetapi pertandingan melawan itu pun esensinya nyaris sama dengan pertandingan melawan klub-klub bola Eropa. Mereka ke sini sebagai idola. Tidak ada pelajaran berarti yang bisa kita petik karena sudah jelas kita kalah kelas dan hampir tidak mungkin menang. Lain persoalan jika kita bertanding melawan negara-negara yang sepakbolanya sama buruk dengan kita, barulah akan terlihat kelebihan dan kekurangan kita. Jangankan melawan Jepang, menahan laju Malaysia, Singapura, Vietnam, Thailand, bahkan Timor Leste saja kita kelabakan.

Tapi sudahlah, toh mereka yang berwenang untuk mengurusi ini tetap akan bergeming. Bagi pengurus PSSI, bertanding melawan tim nasional yang sepakbolanya selevel kita tidak menguntungkan. Tidak ada nama besar yang bisa dijual! Tiket tidak akan laku! Para pemain kita dipaksa untuk meladeni tamu-tamu yang hanya menertawakan kita di kamar hotel dan pesawatnya seusai mempermalukan kita. Untuk manfaat nyata, semua pengurus PSSI bilang tidak menguntungkan. Untuk semata urusan uang, tiba-tiba semua terlibat serius.

Sebetulnya, kedatangan klub-klub bola dunia serta bintang-bintang dari Eropa itu tidak akan terlalu bermasalah asalkan tim nasional tidak terkebiri oleh kebodohan dan ketidakpedulian pengurus sepakbola kita. Kita selalu mengeluh tatkala FIFA merilis daftar peringkat tim nasional terbaru dan ternyata peringkat kita terus melorot, tetapi solusi konkret atas permasalahan ini tidak pernah direalisasikan. Ini sama saja dengan mengeluh lapar tapi malas mencari makan. FIFA terus mengingatkan semua tim nasional di dunia ini untuk berbenah.

Toh, antusiasme yang meningkat di lapangan hijau ini patut dijaga. Minat sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) menjadi sponsor utama mesti dipertahankan, termasuk keberanian mereka membayar sekitar Rp 30 miliar untuk setiap klub yang datang. Boleh-boleh saja menggelontorkan Rp 12 miliar untuk mendatangkan Diego Armando Maradona, walau pemain legendaris yang berhasil sembuh dari ketergantungan narkoba itu bahkan sudah “tak laku” di negerinya sendiri.

Ini semua menyangkut prioritas. Kita harus lebih jeli memilah mana yang benar-benar penting dan mana yang bisa dikesampingkan. Muara terakhir persepakbolaan suatu negara adalah tim nasional. Kita harus serius berbenah. Tim nasional kita tetap di peringkat 168 FIFA yang tidak layak berlaga melawan klub-klub bola dunia serta bintang-bintang dari Eropa itu. Peringkat FIFA memang bukan segalanya, tetapi itu adalah cerminan persepakbolaan suatu negara. Ingatlah, juara Piala AFF sekali pun kita belum pernah.

Barangkali nasionalisme sudah tak relevan di era ketika sepakbola menjadi komoditas global ini. Tapi tetap saja terasa ironis ketika perhelatan miliaran rupiah itu, sorak sorai penonton kita di stadion kebanggaan Indonesia itu, terjadi ketika tim nasional Indonesia dibantai habis-habisan di depan publiknya sendiri. Semuanya bukan atas nama penggemar saja, semuanya juga dilakukan atas nama laba, brand image, dan kepentingan ekonomi lain. Kita memang memiliki potensi. Siapa pun memiliki potensi. Tapi apa artinya potensi tanpa realisasi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: