imsitumeang

Iptek, Cuaca, dan Umat Manusia

In Uncategorized on f 29, 13 at 2:39 am

Kita semestinya mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) untuk menanggulangi banjir. Cuaca, untuk sebagian besar umat manusia, di luar jangkauan. Hujan dan badai, siapa sanggup mencegahnya? Namun, manusia jangan menyerah. Manusia menerapkan hujan buatan saat kemarau, misalnya akibat El Nino. Teknik bernama weather modification technology (WMT) atau teknologi pengubah cuaca bermanfaat untuk mengalihkan hujan.

Minggu (27/1), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengerahkan pesawat CASA 212 untuk mengalihkan hujan dari kawasan Jakarta ke kawasan luar Jakarta. Pesawat Hercules C-130 TNI AU juga mengambil bagian. Pesawat tersebut menebarkan tepung garam di awan kumulonimbus sebelum mendekati Jakarta guna mempercepat proses hujan. BPPT mengirim 25 generator aseton yang memindahkan kondensasi yang berkontribusi untuk membentuk awan hujan yang besar.

Awan kumulonimbus yang menjulang tinggi dan padat adalah sasarannya. Awan pembawa uap air tersebut menjadi biang banjir di Jakarta dan sekitarnya. Awan seperti itu menggelayut di langit ibukota negara tanggal 17 Januari 2013 yang menyebabkan hujan deras 193 milimeter per hari dan merendam 50 kelurahan.

Berbekal Rp 13 miliar dana BNPB, BPPT menggagalkan serbuan awan kumulonimbus sejak tanggal 26 Januari hingga akhir bulan Maret nanti. Natrium klorida (NaCl) memang bahan hidrofilik, selain kalsium klorida (CaCl²) dan urea CO(NH²)², yang bisa mencairkan gumpalan awan. Air berbentuk kristal atau es cepat mengembun jika ditaburi garam.

Agar melumpuhkan awan kumulonimbus lebih cepat, garam digiling halus agar teksturnya mirip tepung. Ukuran butirannya sekitar 5 mikron. Garam dicampug bahan anti-gumpal 0,5-3 persen kemudian dibungkus ke dalam plastik kedap udara. Satu kantong plastik menyimpan 10 kilogram tepung garam. Pesawat-pesawat itu menjemput awan kumulonimbus ketika gerombolan berisi air ini masih di atas laut, lalu menebarkan tepung garam.

Tentunya para perancang program akan bijaksana untuk menerapkan teknik ini, tidak saja demi kebaikan Jakarta, tetapi juga untuk wilayah lain. Artinya, mengalihkan hujan tidak untuk melimpahkan banjir ke kawasan lain, tetapi mengarahkan jatuhnya ke kawasan yang aman, misalnya laut.

Umat manusia wajib mempelajari iptek seperti WMT—demikian yang lain, seperti sains untuk memahami masalah cuaca. Sebagaimana iptek gempa, gunung merapi, dan klimatologi, semuanya kian relevan.

Saat musim hujan seperti sekarang, bukan hanya banjir yang merendam ibukota dan daerah lain, melainkan juga dampaknya. Hujan yang curahnya tinggi menyebabkan longsor di Kanagarian Sei Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menewaskan puluhan orang. Mengingat musim hujan masih tiga bulan ke depan, dan Februari berpotensi hujan yang curahnya tinggi, kita harus waspada. Apalagi kita gagap mitigasi bencana.

Banjir yang merupakan masalah laten Jakarta gagal menjadi hikmah. Setiap banjir, kita gagap. Komunikasi para birokrat dan pihak terkait lainnya sangat buruk, bahkan koordinasi antar-instansi tiba-tiba mahal dan langka. Kasus serupa terulang saat banjir besar selama sepekan yang lalu. Begitu banjir dari hulu ke hilir Jakarta serta waduk, empang, embung, dan kanal tak sanggup menampung limpahan air, aparat pun gagap mengolah informasi. Tercatat 238 lokasi, yakni 176 lokasi banjir yang baru selain 62 lokasi rawan banjir yang lama.

Selama status darurat banjir Jakarta, manajemen bencana tidak ada. Padahal, pengolahan informasi sangat mendasar. Kekacauan tak terelakkan, kisruh. Gubernur Joko Widodo alias Jokowi membagikan langsung bantuan karena banyak korban tidak menerima bantuan dan banyak bantuan tertumpuk di posko. Setiap satuan kerja perangkat daerah (SKPD) enggan bekerja di lapangan. Penyaluran bantuan dan penanganan korban pun salah sasaran. Jokowi harus mengevaluasi pelaksanaan status tanggap darurat banjir.

Sekali lagi, dalam konteks pengembangan bangsa pembelajar, kita wajib menambah pemahaman mengenai fenomena alam, dan tentu termasuk sigap mengerahkan keterampilan menerapkan iptek untuk pencegahan, mitigasi, dan penanggulangan, manakala bencana terjadi dan tak terelakkan.

Alam memang serba maha. Kita menghadapi tantangannya, tetapi kita juga wajib untuk terus berupaya untuk memahami tanda-tandanya sebagaimana umat manusia melakukannya selama ini. Kita ketinggalan apabila melalaikan alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: