imsitumeang

Membangkitkan Kembali Proyek Pesawat N-250

In Uncategorized on f 30, 12 at 8:50 am

Bacharuddin Jusuf Habibie alias BJH bertekad membangkitkan kembali proyek pesawat N-250 yang terkubur sejak International Monetary Fund (IMF) mensyaratkan Pemerintah Indonesia menghentikan pengembangannya dalam paket restrukturisasi krisis ekonomi tahun 1997. Ia berpidato, judulnya “Reaktualisasi Peran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Membangun Kemandirian Bangsa”, menyambut Hari Kebangkitan Teknologi Nasional 2012 di Halaman Gedung Sate, Bandung, Jumat (10/8).

Ia mengajak Indonesia untuk berenung apakah kita merayakan kebangkitan atau keterpurukan teknologi. Seolah membangunkan kita, mimpi Habibie belum buyar: Indonesia bercita-cita terbang ke langit biru layaknya pesawat, simbol teknologi tinggi (hitech), yang mengangkasa. Tanggal 10 Agustus 1995, penerbangan perdana Gatotkaca, nama kecil N-250, menjadi tonggak sejarah teknologi tinggi dan cikal bakal kebangkitan nasional. Kita memperingatinya sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional.

N-250, pesawat turboprop atau pesawat baling-baling (propeller) komuter regional, rancangan asli Industri Pesawat Terbang Nurtanio. N-250 menjadi primadona kelas 50-70 penumpang karena terkendali teknologi fly by wire, mengalahkan Fokker F-50 yang kini tengah berjaya. Kecanggihan fly by wire-nya sejajar A-300 Airbus dan Boeing 777. Pesawat ini bintang Indonesia Air Show (IAS) tahun 1996 di Cengkareng.

Sayangnya, IMF “membajak” mimpi yang hampir tergapai itu, dan pemerintahan Soeharto tidak berdaya menyelamatkannya. Sayangnya lagi, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono tidak berani bermimpi. Wajar jika Habibie mempertanyakan persembahan generasi penerus ketika hari ulang tahun ke-67 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional.

Menyambut 50 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, generas penerus semasanya mempersembahkan N-250. Sebelumnya, ia melayarkan kapal Palindo Jaya, buatan PT PAL, rute Jakarta-Surabaya. Kereta api Argo Bromo dan Argo Gede, buatan PT Inka, juga lulus ujian rute Jakarta-Surabaya. Menyusul proyek pesawat N-2130, yang rencana diterbangkan tahun 2003. Anak sulungnya, Ilham Akbar Habibie, sebagai kepala proyek.

Di Hari Kebangkitan Teknologi Nasional 2012, mantan presiden Republik Indonesia yang bertahan selama 512 hari ini mempertanyakan nasib 10 industri strategis yang dikoordinir oleh Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS), termasuk PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Tentu saja Habibie kecewa karena kemunduran penguasaan teknologi tinggi di Indonesia. Kita pun kecewa karena produk pesawat, kapal, dan kereta api, yang rancang bangunnya terhenti dalam euforia reformasi, menuju penutupan.

Khusus PT DI, bagaimana nasibnya? PT DI atau Indonesian Aerospace Inc, misalnya. PT DI adalah industri pesawat satu-satunya di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Pemerintah Indonesia sebagai pemiliknya. Berdiri tanggal 26 April 1976, nama awalnya Industri Pesawat Terbang Nurtanio dan Habibie sebagai presiden direktur. Tanggal 11 Oktober 1985, namanya berganti menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (PT IPTN). Karena paket restrukturisasi IMF, tanggal 24 Agustus 2000 nama akhirnya ialah PT DI.

PT DI tak lagi menitikberatkan rancang bangun pesawat. PT DI yang dulu memiliki 16.000 karyawan, kini tersisa hanya 3.000 karyawan. Tanpa kaderisasi. Sekitar 3-4 tahun ke depan mereka rata-rata pensiun. Akibatnya, PT DI tak mampu melakukan regenerasi produksi sehingga kredibilitasnya terancam sebagai produsen pesawat. Saat bersamaan, Indonesia hanya menjadi konsumen. Ironisnya, pertumbuhan penumpang pesawat bertambah, industri pesawat kita malah terhenti.

Kita mendukung Habibie, Indonesia harus membangkitkan kembali proyek pesawat N-250. Bapak Industri Pesawat Modern Indonesia ini berargumen, setiap industri strategis mengandung jam kerja yang memberikan lapangan pekerjaan, memeratakan pembangunan ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pasar domestik yang berpotensi besar di bidang tranportasi, komunikasi, kesehatan, dan lain-lain jangan diserahkan menjadi “wilayah jajahan” produk impor.

Alhamdulillah… Cita-citanya tidak padam begitu saja. Upayanya tidak main-main. PT Eagle Cap, perusahaan mantan Direktur Utama PT Bursa Efek Jakarta (PT BEJ) dan mantan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (PT BEI) Erry Firmansyah, dan PT il Thabie, perusahaan dua anak Habibie (Ilham dan Thareq Kemal), menyatu di bawah bendera PT Radio Aviation Industry (PT RAI). PT RAI yang menanggung pendanaan dan menangani manajemennya.

Berbekal segudang ilmu dan pengalaman kedirgantaraan, penerima Von Karman Award dan Edward Warner Award ini meredesain N-250. Potensi bisnisnya sangat besar dan N-250 terbilang modern di kelasnya. Pesaingnya, Fokker-50, tidak lagi diproduksi oleh Fokker Aviation, perusahaan Belanda, setelah pailit atau gulung tikar tahun 1996. Pesaing lainnya hanya ATR-72 buatan Aerei da Trasporto Regionale atau Avions de Transport Régional (ATR), perusahaan Prancis-Italia, dan Bombardier Q Series atau Dash 8 buatan De Havilland, perusahaan Kanada.

Kita tidak meragukan kesungguhan Mr Crack, julukan si “Manusia Multidimensional” ini. Teori Habibie, Faktor Habibie, dan Metode Habibie menjadi jaminan keselamatan penerbangan internasional. N-250 terlahir berkat sentuhannya. ATR, juga pesawat turboprop komuter regional, konon adaptasi hasil rancang bangun Habibie. ATR-lah yang terlaris di dunia. Lion Air, misalnya, total memesan 60 pesawat ATR-72 untuk anak perusahaannya, Wings Air, yang melayani penerbangan ke daerah-daerah terpencil di seluruh Indonesia. Trayek Medan-Sibolga di Sumatera Utara salah satunya.

Model sayap menekuk atas banyak pesawat Boeing dan Airbus saat ini pun adaptasi saudara N-250 yang juga menjadi korban IMF, yakni N-2130. Cita-cita mantan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) itu membutuhkan dukungan, baik pemerintah pusat maupun dunia usaha. Dukungan pemerintah pusat berupa kebijakan, termasuk kerja sama dengan PT DI, sedangkan dukungan dunia usaha ialah memanfaatkan N-250 sebagai armada maskapai penerbangannya.

Langkah Habibie menghidupkan kembali N-250 sangat tepat ketika perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat baik, maskapai penerbangan yang begitu kukuh, serta kebanggaan rakyat Indonesia yang makin sadar. Kita meyakini bumi pertiwi menerimanya karena membangkitkan kembali N-250 bukan luapan ambisi pribadi Habibie atau kepentingan bisnis semata. Kita menyeriusinya sebagai keberanian Indonesia bercita-cita terbang ke langit biru. Semangat membangun peradaban Indonesia!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: