imsitumeang

Membenahi Sistem Angkutan Mudik

In Uncategorized on f 23, 12 at 7:39 am

Bagi sebagian masyarakat, mudik belum menjadi perjalanan yang aman dan nyaman. Masyarakat yang melakukan mobilitas sehari-hari, termasuk mudik Lebaran, sangat mendambakan ketersediaan prasarana dan sarana transportasi yang memadai. Jadi, pembangunannnya memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung aktivitas ekonomi, sosial, budaya, serta kesatuan dan persatuan, utamanya sebagai modal dasar memfasilitasi interaksi dan komunikasi di antara kelompok masyarakat dan serta mengingat dan menghubungkan antarwilayah.

Prasarana dan sarana transportasi terdiri atas tiga sistem, yaitu transportasi darat, laut, dan udara. Jenis-jenis prasarananya seperti jalan (desa/kelurahan, lingkungan, kabupaten, provinsi, negara), terminal darat, tambatan perahu, pelabuhan (kapal penumpang, kapal barang), dan bandar udara. Sedangkan jenis-jenis sarananya seperti bus umum, truk umum, angkutan per desa/kelurahan, kapal motor, kapal antarpulau, dan jet boat.

Prasarana dan sarana angkutan jalan serta prasarana dan sarana pelabuhan penyeberangan merupakan dua subsistem prasarana dan sarana transportasi darat yang terbanyak penggunanya. Prasarana dan sarana transportasi darat yang kurang memadai memaksa pemudik menggunakan kendaraan roda dua. Jelas banyak risikonya, termasuk yang fatal adalah tewas di jalan raya. Hingga hari Selasa (21/8), Posko Angkutan Lebaran Terpadu 2012 Kementerian Perhubungan (Kemhub) mencatat 638 korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas, 994 korban luka berat, dan 3.444 korban luka ringan.

Pemerintah mengakui bahwa pihaknya harus membenahi bertahap prasarana dan sarana transportasi, khususnya angkutan jalan raya, agar tidak jatuh korban lagi. Wakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) Bambang Susantono di Stasiun Tugu, Yogyakarta, menjelaskan bahwa pemerintah mengevaluasi mudik tahun 2012.

Fakta mudik yang menjadi perhatian ialah kepadatan lalu lintas yang terjadi ekstrim dua hari sebelum Lebaran (H-2). Tahun lalu merata sehingga tidak ada puncak kepadatan. Di salah satu daerah jalur pantai utara (pantura) Jawa Barat, misalnya, dalam satuan waktu tertentu jumlah sepeda motor meningkat hingga 20 kali lipat ketimbang situasi normal. Jumlah kendaraan roda empat meningkat hingga 11 kali lipat. Kapasitas jalan raya tentu tidak sanggup menampung kepadatan tersebut.

Salah satu persiapan yang paling menyita perhatian publik ialah mudik. Bahkan menjadi tolok ukur masyarakat untuk menilai seserius dan secakap apa pemerintah mengurus kepentingan lebih 15 juta orang tersebut. Meski mudik merupakan ritual tahunan, tidak ada jaminan bahwa persediaan prasarana dan sarananya beres.

Buktinya, pemerintah saban tahun melakukan proyek perbaikan antara lain pelebaran dan pengaspalan jalan serta pembangunan jembatan. Sepekan terakhir menjelang lebaran, pemerintah merampungkan perbaikan jalan di jalur pantai utara (pantura) Jawa Barat, di Cirebon dan Indramayu misalnya. Namun, perbaikan di lokasi tertentu terlambat karena target penyelesaiannya 14 hari sebelum Lebaran (H-14).

Segala perbaikan dan persiapan ekstra menjadi keniscayaan setiap menjelang mudik. Kali ini bahkan diprediksi jumlah pemudik yang menggunakan semua jenis moda transportasi bertambah 5,96% menjadi 15,99 juta orang. Tahun lalu berjumlah 15,09 juta orang. Dari total pemudik, diperkirakan pengguna mobil bertambah 5,6% atau 1,6 juta kendaraan roda empat. Tahun lalu 1,5 juta. Pengguna sepeda motor pun bertambah 16,6% menjadi 2,51 juta kendaraan roda dua. Jumlah tahun lalu 2,36 juta.

Peningkatan jumlah pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor, jelas memperpadat jalur utama mudik. Selain itu, pertambahan pengguna sepeda motor juga meningkatkan jumlah kecelakaan lalu lintas. Tahun lalu terjadi 4.482 kecelakaan sepeda motor selama mudik Lebaran atau meningkat 71,36% dari 2.600 kasus kecelakaan tahun 2010. Kecelakaan mobil meningkat 13,7% dari 780 kasus kecelakaan tahun 2010 menjadi 855 kasus kecelakaan tahun 2011.

Karena itu wajar bahkan niscaya jika publik menuntut agar layanan mudik menjadi sempurna. Pemerintahan yang baik tentunya tidak membiarkan warganya mengalami kecelakaan sia-sia di jalanan akibat prasarana dan sarana transportasi yang amburadul. Apalagi, negara mengalokasikan kenaikan anggaran perbaikan jalur mudik. Untuk jalur pantura, misalnya, tahun 2012 pemerintah menganggarkan dana Rp 1,03 triliun. Tahun 2011 Rp 939 miliar.

Selain pengauditan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), akuntabilitas penaikan anggaran perbaikan jalan yang paling nyata ialah kesempurnaan layanan publik. Kalau terjadi kenaikan anggaran perbaikan tapi pelayanan publiknya tetap, bahkan memburuk, berarti perbaikan prasarana mudik memang menjadi proyek tahunan. Penyiapan jaringan infrastruktur jalan dan jembatan hingga penyediaan moda transportasi sering kedodoran. Padahal, masalahnya dari tahun ke tahun itu-itu saja.

Arus mudik Lebaran masih menjadi sindrom yang menakutkan. Petaka demi petaka yang menelan korban di jalanan terus saja terjadi. Nyawa manusia nyaris tidak berharga. Ternyata mudik Lebaran masih menjadi perkara pelik. Salah satu penyebabnya ialah angkutan mudik tidak dirancang terpadu. Yang lebih fatal, mudik menjadi ajang mencari keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa memedulikan faktor keamanan dan kenyamanan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: