imsitumeang

Gonjang-ganjing Tahu Tempe

In Uncategorized on f 8, 12 at 6:14 am

Sebelum harga pangan normal, pemerintah kembali gagal melindungi pengrajin tahu tempe. Harga kedelai tak terkendali, usaha tahu tempe tak lagi berproduksi. Harganya melampaui Rp 8.000 per kilogram, harga tertinggi beberapa tahun terakhir. Menekan margin keuntungan dan menciutkan kapasitas produksi, mengurangi ukuran, dan menurunkan mutu tidak lagi menolong. Jika menaikkan harga jual tahu tempe, pengrajin terkendala daya beli yang rendah.

Konsumen tahu tempe memang peka. Ketika harga jual naik, daya beli pun turun. Maka solusinya hanya menutup usaha. Jika begitu, situasinya bisa lebih buruk. Usaha tahu tempe menghidupi ratusan ribu rakyat jelata sejak petani kedelai, pengrajin tahu, tempe, kecap, taoco, dan oncom, pedagang, hingga penjual gorengan. Lenyapnya tahu tempe adalah kerugian karena proteinnya lebih murah ketimbang telur dan daging.

Lagi-lagi, pemerintah menuduh spekulan dan meminta masyarakat mengubah cara makan. Belakangan kita tersadarkan bahwa 80 persen kedelai kita impor. Sungguh ironis. Kita sangat tergantung kedelai impor. Padahal, banyak lahan pertanian yang bisa ditanami petani. Kedelai adalah jenis tanaman sela di sawah atau ladang seperti tanaman palawija lainnya seperi ubi, jagung, kacang, cabai. Tujuannya antara lain agar petani memperoleh hasil/pendapatan tambahan.

Ternyata benar, pemerintah meninggalkan sektor pertanian. Pemerintah tak peduli. Negeri kita hanya menjadi tujuan produk pertanian impor. Impor bawang merah juga terjadi beberapa waktu lalu, yang menyebabkan babak belur harga bawang merah asal Brebes dan petani menangguk rugi.

Aksi mogok pengrajin tahu tempe tak seharusnya terjadi jika pemerintah mengakui pentingnya tanaman kedelai. Tahu, tempe, juga kecap, taoco, bahkan oncom memang bukan makanan utama penduduk Indonesia. Tapi bolehlah kita bertaruh bahwa berbagai makanan itu hampir selalu tersaji di meja makan mayoritas masyarakat kita.

Masyarakat yang nota bene banyak mengonsumsi tempe-tahu pun gigit jari. Dua bahan makanan itu lenyap di pasaran. Padahal, hanya tempe-tahu, satu-satunya protein murah meriah pengganti daging. Daging sapi sudah barang tentu jauh dari jangkauan masyarakat kelas bawah. Daging ayam, harganya juga meroket. Belum lama ini, harga telur pun tak lagi masuk akal.

Data berikut jelas menandai kemunduran produksi tanaman kedelai yang luar biasa. Tahun 1992, luas lahan kedelai masih 1,67 juta hektar, sedangkan tahun 2001 hanya 620 ribu hektar. Konsekuensinya, produksi pun merosot. Tahun 2011, Indonesia mengimpor 2 juta ton kedelai karena jumlah produksi 843 ribu ton. Kebutuhan 2,8 juta ton. Tahun 1990, ketika produksi 1,4 juta ton, jumlah impor hanya 541 ribu ton. Bahkan Indonesia menjadi pengekspor kedelai.

Penyebab kemunduran ialah penurunan hasil relatif, penurunan harga relatif, dan kedelai impor. Kedelai impor akibat liberaliasi atau persaingan tidak sehat adalah penyebab utama. Pemerintah Amerika Serikat memberikan kredit ekspor berbunga murah kepada importir kedelai di sini. Di sana, kedelai adalah satu dari 20 komoditas yang disubsidi. Akibatnya, harga kedelai impor jauh lebih murah ketimbang produk lokal. Inilah dalih melegalisasi impor kedelai. Petani pun beramai-ramai meninggalkan kedelai.

Pemerintah memang berupaya untuk menaikkan produksi melalui berbagai program, antara lain perluasan lahan. Tetapi gagal. Petani tetap enggan menanam kedelai. Solusi pemerintah tak menyentuh akar masalahnya: kesenjangan harga akibat persaingan tidak sehat. Ketika harga kedelai melonjak pun, petani tak bisa memperoleh manfaat seperti yang terjadi kini.

Amerika Serikat sebagai produsen utama kedelai mengalami gagal panen karena kekeringan. Akibatnya, pasokan langka dan harganya melonjak 22 persen selama 15 bulan terakhir. Indonesia tak luput dampaknya. Situasi itu menyulitkan.

Indonesia harus memutus ketergantungannya. Jika kondisi normal tak memusingkan karena pengrajin tahu tempe serta kecap hepi-hepi saja. Tetapi ketergantungan itu mengurangi devisa. Tahun lalu, impor kedelai Rp 5,6 triliun. Maka ketika terjadi anomali, seperti kini, masalah pasokan dan harga juga terjadi. Pilihan terlogisnya ialah meningkatkan produksi kedelai.

Menaikkan produksi memang harus. Kementerian Pertanian mencatat kebutuhan luas lahan hanya 500 ribu hektar agar kita bisa berswasembada kedelai. Melalui kebijakan lintas kementerian, semestinya perluasan lahan ini bisa selesai. Selain menambah luas lahan, cara lain menaikkan produksi adalah transgenik. Tetapi Amerika Serikat melarang produksi kedelai transgenik, kendati 90 pesen impor kedelai dari sana nyaris tanpa batasan.

Paling mendasar ialah menghentikan liberalisasi karena mematikan kemandirian dan kedaulatan pangan atau pemerintah harus berani mengatur tata niaga kedelai impor. Proteksi bisa mengombinasikan tarif dan nontarif. Memang tak populer bagi negara mitra dagang. Bea masuk lima persen toh tak bisa menghambat impor.

Pemerintah harus memberi insentif kepada petani atau perusahaan yang membuka lahan, bersinergi dengan beleid harga, agar petani kembali menanam kedelai. Pemerintah tak bisa sekadar mengulang solusi. Jadi, pemerintah menghambat kedelai impor melalui kebijakan cerdas yang tak melawan aturan World Trade Organization (WTO).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: