imsitumeang

Lonjakan Harga Pangan

In Uncategorized on f 3, 12 at 7:16 am

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1433 Hijriah tanggal 20 Juli 2012 dan 1 Syawal 1433 Hijriah tanggal 19 Agustus 2012. Sementara pemerintah dan organisasi keagamaan lain seperti Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) memutuskan 1 Ramadhan 1433 Hijriah tanggal 21 Juli 2012 setelah Kementerian Agama (Kemenag) menggelar Sidang Isbat.

Antisipasi dan perhatian pemerintah amat dibutuhkan, karena puasa dan Lebaran bukan hanya menyoal tanggal awal dan akhir melainkan merangkak naiknya harga bahan pangan terutama sembilan bahan kebutuhan pokok (sembako). Antisipasi harus dini. Fenomena musiman tersebut bukan perkara biasa tetapi menyangkut produksi, pasokan, distribusi, transportasi, dan lainnya yang membutuhkan solusi dan tindakan sigap jajaran kementerian di bawah Kementerian Koordinator bidang Perekonomian.

Tetapi pemerintah tak berdaya mengendalikannya. Harga beberapa komoditas pangan meroket di pasar-pasar. Terjadinya di hampir semua wilayah Tanah Air. Harga daging ayam, telur, beras, gula, hingga sayuran menaik 15-35%.

Kenaikan harga bahan pangan jelas “mencekik leher” masyarakat yang berdaya beli terbatas. Apalagi sehari-hari saja mereka mengencangkan ikat pinggang. Celakanya, pemerintah justru seperti memaklumi lonjakan harga pangan. Lonjakan harga pangan seperti menjelang puasa dan Lebaran dianggap sebagai siklus wajar saban waktu.

Memang, setiap menjelang puasa, Lebaran, dan hari raya lainnya, permintaan bahan pangan masyarakat menaik. Namun, pemerintah tidak bisa membiarkan begitu saja. Pemerintah harus mengantisipasinya karena pembiaran justru membiarkan para pedagang dan spekulan leluasa mengeruk keuntungan di atas batas kewajaran.

Pemerintah kehilangan kecerdasan mengatasi lonjakan harga pangan yang banyak dipengaruhi faktor psikologis ketimbang riil. Pilihan pemerintah berulang-ulang hanya tunggal, yaitu operasi pasar.

Mengobral harga pangan yang murah melalui operasi pasar hanya sporadis. Solusinya instan tanpa menyelesaikan akar masalah. Malah, operasi pasar hanya menimbulkan antrean masyarakat mengular untuk memperoleh harga pangan yang murah. Sebuah kepedihan atau kepiluan sosial.

Padahal, sesungguhnya tersedia solusi yang tidak hanya melulu menjadi agenda bahasan rapat koordinasi tetapi bisa diimplementasikan. Umpamanya, manajemen stok untuk menyeimbangkan antara pasokan dan permintaan ialah pemerintah mengendalikan stok.

Stok tidak bisa diserahkan begitu saja kepada mekanisme pasar, apalagi menyangkut kebutuhan pokok. Pasar mempunyai kiblat sendiri yaitu pemodal atau pelakunya berusaha untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Kerakusan itu kerap menyengsarakan rakyat.

Selain itu, untuk menstabilkan harga pangan, pemerintah juga memperlancar distribusi barang. Lalu lintas barang yang tersendat akibat kemacetan, infrastruktur yang buruk, konektivitas antarwilayah yang terbatas, juga memicu kenaikan harga pangan.

Sayangnya, pemerintah seperti buntu. Tidak memiliki kreativitas menyelesaikan lonjakan harga pangan. Sama seperti kemacetan yang terpelihara setiap musim mudik. Agar masyarakat tidak makin tertekan oleh merangkak naiknya harga pangan, pemerintah dituntut segera bertindak untuk mencari solusinya.

Lonjakan harga pangan tersebut menandai potensi gejolak yang kembali mengancam Indonesia akibat kekeringan di Amerika Serikat, negara pemasok jagung, kedelai, dan gandum. Persoalannya ialah bagaimana kita meresponnya mengingat ketiga komoditas menjadi komponen penting konsumsi pangan masyarakat. Utamanya kedelai sebagai bahan baku tahu tempe, sumber gizi kelompok pendapatan bawah.

Kegagalan mengatasi lonjakan harga pangan tidak cuma berdampak serius terhadap inflasi, juga gizi. Selain stabilitasi harga dan insentif kepada produsen, mencari alternatif pasokan dan diversifikasi juga solusinya.

Selain bagaimana kita meresponnya, persoalan berikutnya ialah bagaimana kita mengatasinya mengingat kita selalu rentan terhadap setiap gejolak pangan dunia dan kondisi alam. Beberapa tahun terakhir negara yang mengklaim dirinya sebagai negara agraris dan pernah menjadi eksportir sejumlah komoditas pangan penting dunia ini perlahan-lahan bertransformasi menjadi negara importir sebagian besar kebutuhan pangan pokoknya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: