imsitumeang

Jokowi Sosok Pilihan Warga Jakarta

In Uncategorized on f 16, 12 at 9:16 am

Nih die, Betawi punye gaye. Hasil exit poll membuktikan betapa kecewa atau betapa bosan, jenuh, dan capeknya warga Jakarta. Masalah Ibukota seabreg-abreg. Mereka kagak pengen lagi calon nomor 1 (Fauzi Bowo alias Foke) memimpin Jakarta. Ia seharusnya legowo, gantian; menyerahkan jabatan dan kekuasaannya kepada orang yang mampu dan amanah, bukan ngotot. Cuman nyang ane heran, udah tau si gubernur ngumbar janji-janji, ngape pade milih die lagi ye? Ckckck… Lagian die kepalang sesumbar lima taon lalu, “aye ahlinye”. Eh, abang kite ini ternyate bukan ahlinye, Jakarta makin parah aje. Macetnye kagak ketulungan, di mane-mane. Banjirnye duh… Prestasi ape? Aye kagak ngerasain? Aye kepengen Jakarta makin baek.

Ternyata warga Jakarta cerdas-cerdas. Di kelurahan saya, Pasar Manggis (Setiabudi), Foke memang populer tapi masyarakat tak lagi menyukainya. Joko Widodo alias Jokowi yang lebih populer dan masyarakat menyukainya. Mereka simpati, terbantu oleh publikasi media massa yang massif. Citranya sungguh positif. Jokowi yang tidak mengambil gaji selama dua periode (karena menjadi walikota tidak lebih sebagai pengabdian) dan menolak fasilitas (mobil dinas warisan walikota sebelumnya) hanya sebagian berita positif tentangnya. Mobil Kiat Esemka menjadi tunggangan barunya, selain menggenjot onthel berkeliling kota. Dia nggak gila protokoler, beda banget ame Foke. Kalau kita melewati rumah dinas gubernur di Jl Syamsurizal (Menteng), banyak petugas berjaga di sana.

Trus, Jokowi memindahkan pedagang kaki lima (PKL) sambil tumpengan. Makan barengnya hingga 54 kali. Di sini, petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) membawa pentungan dan tameng. Ia menolak pasar modern milik provinsi dan menentang proyek Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, merenovasi (membangun) pasar tradisional mirip mall. Ia tak luput memperbaiki pelayanan publik seperti pengurusan kartu tanda penduduk (KTP) hanya kurang 24 jam.

Ia patut dan pantas menjadi teladan pejabat negeri ini, dari tingkat rendah ke tingkat tinggi. Kepemimpinannya anti-korupsi dan pemerintahannya transparan. Dia melawan arus utama ketika banyak pejabat di Jakarta dan kota lainnya justru hidup hedonis. Mereka ramai-ramai, tanpa malu-malu, menguras Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Yang bikin kita bertambah yakin, grafik kepemimpinan Jokowi di Solo semakin lama semakin naik. Jarang-jarang lho suara incumbent di atas 91%. Fenomena ini kali kesatu terjadi di Indonesia. Biasanya turun.

Karena dia ogah mengumbar janji, dia menebar laku. Kehidupan (politik) di Solo pun adem ayem tanpa gejolak. Padahal, wong Solo termasuk orang bersumbu pendek. Tapi mereka sangat melek politik. Ketika tahun 1996, Solo menjadi basis gerakan Mega-Bintang, koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan antara (PDIP) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Mengendalikan nafsu duniawi adalah kekuatan luar biasa. Memosisikan jabatan dan kekuasaan sebagai amanah Allah SWT agar menjadi rahmat merupakan sikap pemimpin yang melaksanakan pesan-pesan ketuhanan. Itulah sikap zuhud dan sufistik, yang meletakkan dunia di tangannya, bukan di hati. Pemimpin seperti ini tidak takut kehilangan jabatan dan tak sakit jika kekuasaannya terlepas. Dia tak berambisi, namun saat berkuasa dia memiliki tanggungjawab moral, baik kepada manusia maupun Tuhan-nya. Figur seperti ini wajar menjadi harapan publik yang “haus” oleh kepemimpinan yang mengerti, memahami, dan mengayomi rakyatnya.

Sehari-hari Jokowi memang turun ke bawah alias turba. Ia melihat dan mendengar keluh kesah warganya, mengetahui lika-liku wilayahnya, mempelajari seluk-beluk masyarakatnya. Ia bertindak cepat dan tepat. Asumsi saya, begitulah Jokowi. Dahulu kita memiliki tokoh yang zuhud dan sufistik. Sebut saja Mohammad Hatta, Sjahrir, Soekarno (sebelum tahun 1965), Agus Salim, dan banyak lagi.

Hasil exit poll atau hitungan cepat (quick count) beberapa lembaga survei menobatkan Jokowi bersama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai pasangan yang jumlah pemilihnya terbanyak. Meskipun begitu perolehan suara Jokowi-Ahok tak sampai 50 persen lebih sehingga harus berlanjut ke putaran kedua (Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia). Saya gembira, Jokowi melontarkan pernyataan mengejutkan seketika menjawab pertanyaan pers, bahwa langkah awalnya jika resmi menduduki kursi Jakarta-1 ialah membenahi pengelolaan APBD dan birokrasinya. Sebagai ibukota negara yang kapasitas ekonominya besar, DKI Jakarta memiliki nilai APBD yang terbesar di antara daerah lain di wilayah Indonesia. Tahun ini saja nilainya sekitar Rp 36 triliun. Uang sebesar itu seharusnya sanggup mengatasi masalah yang menyandera Jakarta, misalnya layanan kesehatan dan pendidikan.

Perjuangan belum selesai. Operasi-operasi berbau intelijen akan lebih “keras” kepada Jokowi. Ingat chaos di Solo beberapa hari sebelum pencoblosan? Semoga warga Jakarta siap mengantisipasinya. Kepada lawan Jokowi, kita mengingatkan, “Jangan suka operasi intelijen. Ntar ada counter-intelligence, nyahook deh…” Huehue… Pelanggarannya berupa politisasi birokrasi, penyalahgunaan fasilitas negara, dan mendompleng iklan pemerintah di baliho, televisi, radio, dan videotron masih akan menjadi mainan Foke.

Tetapi saya meyakini, putaran kedua bakal banyak lagi warga Jakarta yang berpartisipasi mengikuti pemilu gubernur-wakil gubernur. Dan, Jokowi bisa menang telak, lebih 70%. Trennya gampang terbaca. Foke hanya berjaya di tempat pemungutan suara (TPS) Jl Teuku Umar, Menteng. Selebihnya, Jokowi pemenangnya. Halo warga Solo, relakanlah Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta!!! Kami berdoa semoga Solo mendapatkan pengganti Jokowi yang bisa meneruskan visi misi dan ide-idenya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: