imsitumeang

“La Furia Roja” Menulis Ulang Sejarah

In Uncategorized on f 4, 12 at 3:40 am

Euro 2012 telah berakhir. Spanyol mengalahkan Italia empat gol tanpa balas di Olympic Stadium, Kiev, Senin (2/7) dini hari. La Furia Roja mengukuhkan hegemoninya dalam kancah sepakbola di Benua Biru. Mereka mengangkat trofi Henri Delaunay sebagai supremasi tertinggi. Empat penggawa Barcelona, yakni Andres Iniesta, Xavi Hernandez, Cesc Fabregas, dan Sergio Busquets menopang keaktoran David Silva, Jordi Alba, Fernando Torres, dan Juan Mata.

Spanyol semakin pantas ditahbiskan sebagai tim nasional sepakbola yang terbaik sejagat. La Seleccion sukses mencatat sejarah sebagai tim pertama yang beruntun memenangi tiga turnamen Fédération Internationale de Football Association (FIFA), yaitu Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012, juga tim pertama yang sukses mempertahankan trofi Henri Delaunay. La Furia Roja kini sejajar Jerman sebagai pengumpul terbanyak Piala Eropa setelah memenanginya tahun 1964 dan 2008. Selain itu, margin gol Spanyol kontra Italia yang terbesar dalam sejarah final Piala Eropa.

Sesungguhnya Luis Aragones peletak fondasi generasi emas sepakbola Spanyol. Di bawah besutannya, Spanyol menjuarai Euro 2008. Puasa gelar selama 44 tahun pun tuntas. Setelah menjuarai Euro 1964 dan Euro 2008, pencapaian tertinggi tim matador hanya runner-up Euro 1984. Tak dinyana, Aragones resign selepas Euro 2008. Real Federación Española de Fútbol (RFEF) menunjuk Vicente Del Bosque sebagai entrenador Spanyol. Eks pelatih Real Madrid itu memang bertangan dingin.

Gaya tickui-taca (baca: tiki-taka) Spanyol menjadi primadona yang sangat menghibur pecinta sepakbola. Mirip tiki-taka ala Barcelona FC. Tiki-taka hanya mulus berkat skill hebat skuad Spanyol: umpan-umpan pendek dan panjang, umpan-umpan lambung dan umpan-umpan terobosan, serta setiap pemain bergerak tanpa bola. Bola mengalir dari kaki ke kaki menyebabkan alurnya sulit terbaca tim lawan. Alih-alih ngotot merebut bola dan memutus alurnya, para pemain tim lawan biasanya terpana.

Anak-anak asuhan Cesare Prandelli tak berkutik berkat tiki-taka andalan mereka kendati gaya cattenaccio-nya lumayan modern. Selain mengusung pertahanan yang kuat dan ketat, Italia juga menggelar atraksi penyerangan yang tajam nan memikat melalui kolaborasi apik playmaker dengan striker. Kombinasi ini ampuh meladeni tiki-taka Spanyol di babak penyisihan, membuat kocar-kacir barisan pertahanan Inggris di perempatfinal, serta meredam keperkasaan Jerman di semifinal.

Mirip duel Spanyol kontra Italia di fase grup yang berakhir imbang 1-1, laga di Kiev menyuguhkan duel dua kiper nomor wahid, Iker Casillas vs Gianluigi Buffon, dua pass master sekaligus playmaker terbaik dunia, Xavi vs Andrea Pirlo, serta bek tangguh dan gelandang brilian yang memberi forward tajam atau through pass. Aroma sengitnya final terasa seketika setelah wasit Pedro Proenca asal Portugal meniup peluit kick-off. Karena para pemainnya kelas dunia, taktik, kreativitas, dan serangan terbaiknya tersaji di final.

Paling parah Belanda di Afrika Selatan 2010. Seusai menumbangkan Brasil yang gaya sepakbola menyerang, Belanda tidak bermain ala total football yang sebenarnya pondasi tiki-taka. Mereka bermain panik dan kasar, serta egois. Terkadang tekel keras ala rap-rap-nya PSMS (Persatuan Sepak Bola Medan Sekitarnya).

Xavi menolak kritikan La Furia Roja kian membosankan. Apalagi Del Bosque memainkan false number 9 atau striker palsu yang menyebabkan permainan Spanyol sering berkutat di lini tengah. Memiliki rasio operan 93% tepat sasaran di turnamen ini, Xavi adalah sosok sentral ball possession. Spanyol akhirnya menampilkan tipe permainan menyerang yang saat pertandingan sebelumnya tidak terlihat. So, partai puncak ini menjadi penambah bukti kedigdayaan tim matador.

Sebetulnya, Spanyol sejak lama terkenal sebagai bangsa yang melahirkan pemain sepakbola yang teknik mengolah bolanya mumpuni. Namun, kehebatan individu itu tidak terwujud dalam permainan kolektif yang menawan. Sejak Aragones menangani tim, transformasi pun terjadi. Del Bosque menyempurnakannya. Kunci sukses sejatinya adalah kekompakan. Bukan rahasia jika rivalitas dua klub elit La Liga, Barcelona FC dan Real Madrid CF, kerap berimbas negatif terhadap penampilan tim.

Persaingan itu memang tidak bisa terlihat lewat kacamata sepakbola saja. Aspek sosial, budaya, dan politik melingkupinya. Dendam orang Catalan terhadap pemimpin fasis Spanyol yang berpenguasa 36 tahun, Jenderal Fransesco Franco, begitu mengakar. Kebencian itu terlampiaskan di atas lapangan ketika el clasico El Barca versus El Real. Tetapi hebatnya, di atas lapangan sebelas pemain yang berkostum merah kuning La Seleccion seolah melupakan permusuhan. Semua berjuang di bawah panji-panji kebesaran Spanyol. Hasilnya: juara Piala Eropa dan juara Piala Dunia.

Felicitaciones Espana! Campeon, campeon, campeon… Ole ole… Orang-orang Spanyol menyanyikan lirik lagu penyanyi legendaris Manolo Escobar,” La la la la la la la la la… Que viiiva Espana!” Kemenangan kompetitif pertama Spanyol atas Italia setelah nyaris seabad. Kemenangan pertama Spanyol, terakhir, dan satu-satunya terjadi di Olimpiade 1920. Di perempat final Euro 2008, Spanyol mengalahkan Italia lewat tos-tosan setelah bermain imbang di waktu normal dan extra-time.

Seusai laga, yang mengusik emosi pemirsa sepakbola adalah kehadiran anak-anak skuad Spanyol di lapangan. Para pemain menggendong anak-anak dan bermain-main. Torres dan anak-anaknya menjadi sorotan. Ia asyik menikmati kemesraan. Anak-anak bermain bersama ayahnya. Juga terlihat anak-anak usia balita yang imut-imut. Kehadiran anak-anak pemain di lapangan menunjukkan bahwa kesuksesan para bintang sepakbola dunia berkat dukungan dan sokongan keluarga mereka.

Spanyol adalah dream team. Sebagai “penggila” La Furia Roja, strategi bermain Spanyol sungguh menarik. Sebuah kesederhanaan strategi, yakni sebisa mungkin menguasai bola, sebanyak mungkin mengendalikan bola, dan seminim mungkin lawan mendapatkan bola. Mereka tidak berganti gaya sejak awal hingga akhir perhelatan. Tidak seperti Inggris dan Italia yang bertukar gaya saat laga klasik di perempat final Euro 2012.

Spanyol bermain fantastis mirip Barcelona FC minus Lionel Messi. Mereka membuat jatuh hati pecinta sepakbola di seluruh dunia. Mereka menikmati gaya permainan dan akan tetap memainkan ciri khasnya. Fans mengenal gaya permainan mereka dan juga menikmatinya. Xavi menyebut gaya permainan Spanyol sebagai evolusi gaya sepakbola dari mengandalkan permainan keras dan kekuatan fisik ke mengandalkan permainan teknis dan kekuatan otak.

Prestasi Spanyol adalah kemenangan sepakbola modern yang berevolusi dan Spanyol menjadi poros utamanya. Bukan sepakbola pragmatis yang hanya mengutamakan hasil  serta kekuatan fisik. Postur para pemain tim matador, terutama di barisan gelandangnya, untuk ukuran orang Eropa, terbilang mungil. Namun intelegensianya luar biasa. Indonesia seharusnya memainkan sepakbola tiki-taka agar bisa menorehkan prestasi, karena kesamaan postur. Postur rata-rata pemain kita sejajar skuad Spanyol yang berkisar 168-170 cm. Sayangnya, pemain kita senang bermain ala Jerman dan Inggris, yaitu umpan-umpan lambung yang tinggi dan jauh.

Piala Eropa menjadi berkah di tengah krisis ekonomi yang menerpa Benua Biru. Prestasi Spanyol menjadi obat di tengah krisis. Sesaat euforia itu meredam badai krisis. Sukacita orang Spanyol sedikit melupakan krisis meskipun krisisnya tak hilang seketika. Kemenangan yang berbanding terbalik dengan perekonomian negaranya. Di tengah lautan warna merah dan kuning, jeritan-jeritan “campeones, campeones” atau juara, juara bergemuruh di kota-kota Spanyol. Ribuan pendukung menyaksikan layar-layar fans zone. Wajah-wajah dicat, rambut-rambut diwarnai. Syal-syal melilit di bahu atau melingkari pinggang mereka. Bendera-bendera dikibarkan kaum tua dan muda.

Ketidakpastian keuangan serta ekonomi di Spanyol dan zona euro tentu saja mengkhawatirkan. Uniknya, krisis yang menghantam Eropa melibatkan negara-negara yang berpartisipasi. Yunani menyebabkan efek domino krisis Eropa. Pemerintah Spanyol pun mengambil kebijakan penghematan negara, di antaranya menaikkan pajak, memberhentikan para pekerja, dan mengurangi pendanaan untuk layanan kesehatan serta pendidikan. Pemerintah Spanyol juga bailout bank-bank yang hampir bangkrut. Jumlah pengangguran terbanyak di antara 17 negara zona euro. Spanyol terancam resesi. Tetapi ribuan orang menandatangani petisi agar penggawa Spanyol menyumbangkan 300 ribu euro bonusnya kepada negara jika mereka berhasil menjuarai Euro 2012.

La Furia Roja menuntaskan misinya untuk menulis ulang sejarah. Saatnya para pemain yang rata-rata dalam usia emasnya ini mengincar trofi juara Piala Eropa 2012. Jika berhasil, mereka mencetak rekor baru sebagai satu-satunya tim yang tiga kali berturut-turut memenangkan turnamen besar. Sampai bertemu empat tahun nanti di Euro 2016 Prancis. Bravo Spanyol!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: