imsitumeang

Archive for Juli, 2012|Monthly archive page

Kontribusi Indonesia untuk IMF

In Uncategorized on f 23, 12 at 6:35 am

Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) sebagai konstitusi atau hukum tertinggi menjamin peran Indonesia untuk bebas aktif di fora internasional demi perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sayangnya, peran itu menjadi latah atau sekadar ikut-ikutan meraih citra global. Salah satunya ialah keikutsertaan Indonesia dalam Group of Twenty (G-20) yang sistematis menghimpun kekuatan ekonomi maju dan berkembang.

Alih-alih memperoleh manfaat ekonomi, Indonesia justru terbebani untuk memantapkan posisinya dalam kelompok 19 negara plus Uni Eropa berperekonomian besar di dunia yang menghimpun hampir 90% Produk Nasional Bruto atau Gross National Product (GNP) dunia, 80% perdagangan dunia, dan 2/3 penduduk dunia. Belakangan G-20 hanya menjadi ajang konsultasi dan kerjasama moneter menuju stabilitas keuangan internasional dan pemecahan masalah negara tertentu saja.

Yang merupakan beban ialah kesepakatan G-20 dalam Konferensi Tingkat Tinggi G-20 di Los Cabos, Meksiko, 18-19 Juni 2012, untuk berkontribusi kepada Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) untuk memperkuat permodalannya. Jepang menyiapkan US$ 60 miliar, China US$ 43 miliar, Singapura US$ 4 miliar, dan seolah tak mau ketinggalan, Indonesia US$ 1 miliar (sekitar Rp 9,5 triliun).

IMF bertanggungjawab mengatur sistem finansial global dan menyediakan pinjaman kepada negara anggotanya untuk membantu keseimbangan neraca keuangan masing-masing negara. Misinya membantu negara yang kesulitan ekonominya serius, dan imbalannya negara bersangkutan wajib melakukan kebijakan tertentu. Indonesia mengalaminya ketika krisis mata uang, krisis moneter, dan krisis ekonomi tahun 1997-1998 era Presiden Soeharto dan Michel Camdessus selaku Managing Director IMF. Peran institusi Bretton Woods ini menjadi kontroversi karena pola bantuannya selalu beserta syarat-syarat, juga structural adjustment programmes.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (BKF Kemkeu) Bambang Brodjonegoro meyakini bahwa kontribusi Indonesia berwujud pembelian surat berharga IMF yang tidak merugikan negara, karena uangnya bukan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melainkan cadangan devisa (foreign exchange reserves) atau simpanan mata uang asing oleh bank sentral dan otoritas moneter. Jadi, simpanan ini aset bank sentral dalam beberapa mata uang cadangan (reserve currency) seperti dolar, euro, atau yen yang penggunaannya untuk menjamin kewajiban.

Pemerintah meyakini uang untuk pembelian surat berharga IMF menjadi aset negara dan bagian pengelolaan cadangan devisa. Pemerintah mempertimbangkan rencana sumbangan itu dan keputusannya di tangan presiden selaku kepala pemerintahan yang memegang kekuasaan eksekutif. Pertimbangan lainnya ekonomi Indonesia relatif bagus sebagai emerging market dan kapasitas ekonominya terbesar di kawasan Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara atau Association of Southeast Asian Nations (ASEAN).

Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Dermawan Wintarto Martowardojo dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Muhammad Hatta Rajasa antusias meyakinkan publik bahwa sumbangan tersebut mengangkat derajat Indonesia. Argumentasi mereka merasionalisasi alasan kontribusi agar posisi Indonesia makin terhormat dan kastanya menaik. Mereka memamerkan kehebatan Indonesia sekaligus mendeklarasikan ekonomi Indonesia yang kokoh dan maju.

Benarkah Indonesia berlimpah uang? Bukankah untuk memenuhi kebutuhan seperti membangun infrastruktur sekolah serta jalan dan jembatan justru pemerintah kekurangan dana dan harus berutang? Kita membutuhkan banyak alokasi anggaran dan belanja kesehatan, pertanian, perikanan, pertahanan, keamanan, atau dana kesejahteraan rakyat lainnya. APBN bahkan defisit agar berbagai kebutuhan alokasi tercukupi. Sesungguhnya sumbangan untuk IMF tak signifikan. Managing Director IMF Christine Lagarde mengakui bahwa IMF membutuhkan US$ 430 miliar.

Sesungguhnya di Indonesia masih timpang antara kesejahteraan rakyat dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) sebagai ukuran perbandingan harapan hidup, melek huruf, pendidikan, dan standar hidup untuk semua negara. United Nation Development Program (UNDP) tahun 2011 memosisikan IPM Indonesia di peringkat 124 dari 187 negara. Terpaut jauh dari peringkat Singapura (26), Brunei Darussalam (33), Malaysia (61), Thailand (103), dan Filipina (112).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penduduk miskin per bulan Maret 2012 berjumlah 29,13 juta jiwa atau 11,96 persen yang berkurang 890 ribu. Selama periode Maret 2011 hingga Maret 2012, jumlah penduduk miskin di perkotaan berkurang 399,5 ribu orang dari 11,0 juta orang. Di perdesaan juga berkurang 487 ribu orang dari 18,97 juta orang. Penduduk menganggur berjumlah 8,12 juta dari 119,4 juta angkatan kerja.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kemkeu per bulan Mei 2012 mendata pemerintah memiliki total utang Rp 1.944,14 triliun atau bertambah Rp 140,65 triliun dari posisi Rp 1.803,49 triliun akhir tahun 2011. Utang pemerintah tersebut terdiri atas pinjaman Rp 639,88 triliun dan surat berharga Rp 1.304,26 triliun.

Memang rasio jumlah utang terhadap Produk Domestik Bruto atau Gross Domestic Product (GDP) Gross Domestic Product (GDP) yang bernilai Rp 7.226 triliun di level 26,5% atau lebih rendah ketimbang rata-rata rasio negara berkembang (39%) dan negara maju (109%). Utang yang terus bertambah jelas membahayakan, apalagi pembayaran utang yang masa waktunya habis alias jatuh tempo cukup besar. Pelemahan rupiah yang mempengaruhi rasio tentunya membutuhkan intervensi Bank Indonesia (BI).

Cadangan devisa sesungguhnya lampu kuning. Hingga akhir bulan Mei 2012 cadangan devisa menurun US$ 4,9 miliar menjadi US$ 111,5 miliar dari sebelumnya US$ 116,4 miliar bulan April.

Di tengah kondisi keuangan negara yang tidak aman, kontribusi US$ 1 miliar kepada IMF jelas berlebihan. Pemerintah harus membatalkannya. Jangan demi meraih citra global, pemerintah menutup mata atas kenyataan di dalam negeri. Apalah artinya hebat di mata anggota G-20 tapi faktanya jumlah kemiskinan dan pengangguran masih besar. Dana Rp 9,4 triliun untuk kepentingan rakyat terasa sekali manfaatnya.

Iklan

Jokowi Sosok Pilihan Warga Jakarta

In Uncategorized on f 16, 12 at 9:16 am

Nih die, Betawi punye gaye. Hasil exit poll membuktikan betapa kecewa atau betapa bosan, jenuh, dan capeknya warga Jakarta. Masalah Ibukota seabreg-abreg. Mereka kagak pengen lagi calon nomor 1 (Fauzi Bowo alias Foke) memimpin Jakarta. Ia seharusnya legowo, gantian; menyerahkan jabatan dan kekuasaannya kepada orang yang mampu dan amanah, bukan ngotot. Cuman nyang ane heran, udah tau si gubernur ngumbar janji-janji, ngape pade milih die lagi ye? Ckckck… Lagian die kepalang sesumbar lima taon lalu, “aye ahlinye”. Eh, abang kite ini ternyate bukan ahlinye, Jakarta makin parah aje. Macetnye kagak ketulungan, di mane-mane. Banjirnye duh… Prestasi ape? Aye kagak ngerasain? Aye kepengen Jakarta makin baek.

Ternyata warga Jakarta cerdas-cerdas. Di kelurahan saya, Pasar Manggis (Setiabudi), Foke memang populer tapi masyarakat tak lagi menyukainya. Joko Widodo alias Jokowi yang lebih populer dan masyarakat menyukainya. Mereka simpati, terbantu oleh publikasi media massa yang massif. Citranya sungguh positif. Jokowi yang tidak mengambil gaji selama dua periode (karena menjadi walikota tidak lebih sebagai pengabdian) dan menolak fasilitas (mobil dinas warisan walikota sebelumnya) hanya sebagian berita positif tentangnya. Mobil Kiat Esemka menjadi tunggangan barunya, selain menggenjot onthel berkeliling kota. Dia nggak gila protokoler, beda banget ame Foke. Kalau kita melewati rumah dinas gubernur di Jl Syamsurizal (Menteng), banyak petugas berjaga di sana.

Trus, Jokowi memindahkan pedagang kaki lima (PKL) sambil tumpengan. Makan barengnya hingga 54 kali. Di sini, petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) membawa pentungan dan tameng. Ia menolak pasar modern milik provinsi dan menentang proyek Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, merenovasi (membangun) pasar tradisional mirip mall. Ia tak luput memperbaiki pelayanan publik seperti pengurusan kartu tanda penduduk (KTP) hanya kurang 24 jam.

Ia patut dan pantas menjadi teladan pejabat negeri ini, dari tingkat rendah ke tingkat tinggi. Kepemimpinannya anti-korupsi dan pemerintahannya transparan. Dia melawan arus utama ketika banyak pejabat di Jakarta dan kota lainnya justru hidup hedonis. Mereka ramai-ramai, tanpa malu-malu, menguras Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Yang bikin kita bertambah yakin, grafik kepemimpinan Jokowi di Solo semakin lama semakin naik. Jarang-jarang lho suara incumbent di atas 91%. Fenomena ini kali kesatu terjadi di Indonesia. Biasanya turun.

Karena dia ogah mengumbar janji, dia menebar laku. Kehidupan (politik) di Solo pun adem ayem tanpa gejolak. Padahal, wong Solo termasuk orang bersumbu pendek. Tapi mereka sangat melek politik. Ketika tahun 1996, Solo menjadi basis gerakan Mega-Bintang, koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan antara (PDIP) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Mengendalikan nafsu duniawi adalah kekuatan luar biasa. Memosisikan jabatan dan kekuasaan sebagai amanah Allah SWT agar menjadi rahmat merupakan sikap pemimpin yang melaksanakan pesan-pesan ketuhanan. Itulah sikap zuhud dan sufistik, yang meletakkan dunia di tangannya, bukan di hati. Pemimpin seperti ini tidak takut kehilangan jabatan dan tak sakit jika kekuasaannya terlepas. Dia tak berambisi, namun saat berkuasa dia memiliki tanggungjawab moral, baik kepada manusia maupun Tuhan-nya. Figur seperti ini wajar menjadi harapan publik yang “haus” oleh kepemimpinan yang mengerti, memahami, dan mengayomi rakyatnya.

Sehari-hari Jokowi memang turun ke bawah alias turba. Ia melihat dan mendengar keluh kesah warganya, mengetahui lika-liku wilayahnya, mempelajari seluk-beluk masyarakatnya. Ia bertindak cepat dan tepat. Asumsi saya, begitulah Jokowi. Dahulu kita memiliki tokoh yang zuhud dan sufistik. Sebut saja Mohammad Hatta, Sjahrir, Soekarno (sebelum tahun 1965), Agus Salim, dan banyak lagi.

Hasil exit poll atau hitungan cepat (quick count) beberapa lembaga survei menobatkan Jokowi bersama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai pasangan yang jumlah pemilihnya terbanyak. Meskipun begitu perolehan suara Jokowi-Ahok tak sampai 50 persen lebih sehingga harus berlanjut ke putaran kedua (Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia). Saya gembira, Jokowi melontarkan pernyataan mengejutkan seketika menjawab pertanyaan pers, bahwa langkah awalnya jika resmi menduduki kursi Jakarta-1 ialah membenahi pengelolaan APBD dan birokrasinya. Sebagai ibukota negara yang kapasitas ekonominya besar, DKI Jakarta memiliki nilai APBD yang terbesar di antara daerah lain di wilayah Indonesia. Tahun ini saja nilainya sekitar Rp 36 triliun. Uang sebesar itu seharusnya sanggup mengatasi masalah yang menyandera Jakarta, misalnya layanan kesehatan dan pendidikan.

Perjuangan belum selesai. Operasi-operasi berbau intelijen akan lebih “keras” kepada Jokowi. Ingat chaos di Solo beberapa hari sebelum pencoblosan? Semoga warga Jakarta siap mengantisipasinya. Kepada lawan Jokowi, kita mengingatkan, “Jangan suka operasi intelijen. Ntar ada counter-intelligence, nyahook deh…” Huehue… Pelanggarannya berupa politisasi birokrasi, penyalahgunaan fasilitas negara, dan mendompleng iklan pemerintah di baliho, televisi, radio, dan videotron masih akan menjadi mainan Foke.

Tetapi saya meyakini, putaran kedua bakal banyak lagi warga Jakarta yang berpartisipasi mengikuti pemilu gubernur-wakil gubernur. Dan, Jokowi bisa menang telak, lebih 70%. Trennya gampang terbaca. Foke hanya berjaya di tempat pemungutan suara (TPS) Jl Teuku Umar, Menteng. Selebihnya, Jokowi pemenangnya. Halo warga Solo, relakanlah Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta!!! Kami berdoa semoga Solo mendapatkan pengganti Jokowi yang bisa meneruskan visi misi dan ide-idenya.

Penyakit Lama di Pelabuhan Merak

In Uncategorized on f 13, 12 at 9:17 am

Antrean kendaraan roda empat atau lebih di Pelabuhan Merak, Banten (Jawa), untuk menyeberang ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung (Sumatera), lebih sepekan terakhir, seharusnya tak terulang. Kemacetan dan penumpukan kendaraan di Pelabuhan Penyeberangan Merak memang kerap terjadi. Sayangnya, Pemerintah (Kementerian Perhubungan) dan PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (PT ASDP) Indonesia Ferry (Persero), khususnya cabang Merak, enggan belajar.

Arus penyeberangan Pelabuhan Merak tertahan karena peningkatan kendaraan angkutan sembilan bahan kebutuhan pokok (sembako) sebagai persiapan memasuki bulan Ramadhan. Selain itu, jumlah kendaraan pribadi meningkat karena liburan sekolah. PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mendata sejak hari Minggu (1/7) hingga hari Senin (2/7) kendaraan truk yang menyeberang berjumlah 2.797 unit dan kendaraan pribadi berjumlah 3.382 unit.

Meningkatnya jumlah kendaraan tersebut berbanding terbalik dengan jumlah armada yang beroperasi. Kapal yang beroperasi hanya 21 kapal. Perbandingan supply dan demand yang timpang ini mengakibatkan arus penyeberangan tertahan. Berkurangnya jumlah armada antara lain karena operator menyiapkan kapalnya sebagai angkutan Lebaran bulan Agustus nanti. Bulan Juli 2012, sembilan kapal docking (perawatan).

Kemacetan dan penumpukan belasan kilometer di jalan memasuki Pelabuhan Merak merupakan penyakit lama. Apalagi menjelang hari-hari besar, termasuk Lebaran, penumpukan kendaraan pengangkut sembako menjadi pemandangan yang biasa. Dampaknya sangat besar, yaitu muatan menjadi rusak seperti buah-buahan, sayur-sayuran, di samping pengeluaran pun menjadi membengkak. Antrean juga menimpa kendaraan pribadi.

Tidak ada alasan untuk membenarkan kejadian di Pelabuhan Merak, seperti ungkapan meningkatnya volume kendaraan yang menyeberang karena liburan sekolah. Seharusnya Pemerintah dan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengantisipasinya jauh-jauh hari. Kenapa mereka justru menyalahkan penyeberang? Tak layak dan pantas bila keterbatasan operasional kapal feri roll on roll of (roro) menjadi kambing hitam. Kali ini, misalnya, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengeluhkan berkurangnya jumlah feri.

Antrean kendaraan angkutan bahan kebutuhan pokok dan barang lainnya di Pelabuhan Merak, yang menyeberang ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung, tersebut tidak hanya merugikan pengusaha angkutan. Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) memperkirakan kemacetan dan penumpukan berakibat pemborosan Rp 500 juta per hari setelah membengkaknya biaya awak kendaraan dan biaya bahan bakar.

Masyarakat pun sulit memperoleh bahan kebutuhan pokok atau harus membeli mahal karena langka. Ramadhan hanya tinggal hitungan hari, antisipasi harus sedini mungkin. Merangkak naiknya harga bukan perkara biasa karena menyangkut ketersediaan, pasokan, dan transportasi. Agar rakyat tidak makin tertekan, Kementerian Perhubungan (juga Kementerian Perdagangan) dan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) harus segera menemukan solusinya.

Kementerian Perhubungan dan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) jangan berwacana untuk menyikapi penyakit lama di Pelabuhan Merak. Kementerian Perhubungan tak cukup hanya mengimbau PT ASDP Ferry Indonesia (Persero) Cabang Merak agar memperbaiki manajemennya, utamanya menerapakan prinsip-prinsip good corporate governance (GCG) melalui pengembangan, penerapan, dan penguatan tata kelola perusahaan yang baik. Ingat, kemacetan di Pelabuhan Merak mengganggu penyeberangan Jawa–Sumatera.

Pemerintah bersama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) berkoordinasi sebagai pihak regulator dan pihak operator, serta berkoordinasi dengan pengelola jalan tol dan Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (GAPASDAP) untuk mengurai dan mengantisipasinya. Langkah-langkahnya seperti menambah kapal bantuan yang bertonase besar dan berkapasitas banyak, mengoptimalkan operasionalisasi jumlah kapal dan tripnya per hari untuk mengangkut ± 20.000 orang dan kendaraan ± 4.000 unit, mengoptimalkan port time dan kecermatan pendataan penumpang, kendaraan, dan barang, regrouping kapal di setiap dermaga.

Sembari memperbaiki transportasi penyeberangan di Selat Sunda, Pemerintah harus serius memecahkan kemacetan dan penumpukan yang terus menerus berulang dan berdampak amat luas, yaitu melaksanakan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 86 Tahun 2011 tentang pembangunan Jembatan Selat Sunda. Penundaan rencana pembangunan jembatan berpanjang 27, 4 km dan berbiaya Rp 225 triliun hanya merugikan ekonomi karena terjadi kemacetan dan penumpukan kendaraan di Pelabuhan Merak.

“La Furia Roja” Menulis Ulang Sejarah

In Uncategorized on f 4, 12 at 3:40 am

Euro 2012 telah berakhir. Spanyol mengalahkan Italia empat gol tanpa balas di Olympic Stadium, Kiev, Senin (2/7) dini hari. La Furia Roja mengukuhkan hegemoninya dalam kancah sepakbola di Benua Biru. Mereka mengangkat trofi Henri Delaunay sebagai supremasi tertinggi. Empat penggawa Barcelona, yakni Andres Iniesta, Xavi Hernandez, Cesc Fabregas, dan Sergio Busquets menopang keaktoran David Silva, Jordi Alba, Fernando Torres, dan Juan Mata.

Spanyol semakin pantas ditahbiskan sebagai tim nasional sepakbola yang terbaik sejagat. La Seleccion sukses mencatat sejarah sebagai tim pertama yang beruntun memenangi tiga turnamen Fédération Internationale de Football Association (FIFA), yaitu Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012, juga tim pertama yang sukses mempertahankan trofi Henri Delaunay. La Furia Roja kini sejajar Jerman sebagai pengumpul terbanyak Piala Eropa setelah memenanginya tahun 1964 dan 2008. Selain itu, margin gol Spanyol kontra Italia yang terbesar dalam sejarah final Piala Eropa.

Sesungguhnya Luis Aragones peletak fondasi generasi emas sepakbola Spanyol. Di bawah besutannya, Spanyol menjuarai Euro 2008. Puasa gelar selama 44 tahun pun tuntas. Setelah menjuarai Euro 1964 dan Euro 2008, pencapaian tertinggi tim matador hanya runner-up Euro 1984. Tak dinyana, Aragones resign selepas Euro 2008. Real Federación Española de Fútbol (RFEF) menunjuk Vicente Del Bosque sebagai entrenador Spanyol. Eks pelatih Real Madrid itu memang bertangan dingin.

Gaya tickui-taca (baca: tiki-taka) Spanyol menjadi primadona yang sangat menghibur pecinta sepakbola. Mirip tiki-taka ala Barcelona FC. Tiki-taka hanya mulus berkat skill hebat skuad Spanyol: umpan-umpan pendek dan panjang, umpan-umpan lambung dan umpan-umpan terobosan, serta setiap pemain bergerak tanpa bola. Bola mengalir dari kaki ke kaki menyebabkan alurnya sulit terbaca tim lawan. Alih-alih ngotot merebut bola dan memutus alurnya, para pemain tim lawan biasanya terpana.

Anak-anak asuhan Cesare Prandelli tak berkutik berkat tiki-taka andalan mereka kendati gaya cattenaccio-nya lumayan modern. Selain mengusung pertahanan yang kuat dan ketat, Italia juga menggelar atraksi penyerangan yang tajam nan memikat melalui kolaborasi apik playmaker dengan striker. Kombinasi ini ampuh meladeni tiki-taka Spanyol di babak penyisihan, membuat kocar-kacir barisan pertahanan Inggris di perempatfinal, serta meredam keperkasaan Jerman di semifinal.

Mirip duel Spanyol kontra Italia di fase grup yang berakhir imbang 1-1, laga di Kiev menyuguhkan duel dua kiper nomor wahid, Iker Casillas vs Gianluigi Buffon, dua pass master sekaligus playmaker terbaik dunia, Xavi vs Andrea Pirlo, serta bek tangguh dan gelandang brilian yang memberi forward tajam atau through pass. Aroma sengitnya final terasa seketika setelah wasit Pedro Proenca asal Portugal meniup peluit kick-off. Karena para pemainnya kelas dunia, taktik, kreativitas, dan serangan terbaiknya tersaji di final.

Paling parah Belanda di Afrika Selatan 2010. Seusai menumbangkan Brasil yang gaya sepakbola menyerang, Belanda tidak bermain ala total football yang sebenarnya pondasi tiki-taka. Mereka bermain panik dan kasar, serta egois. Terkadang tekel keras ala rap-rap-nya PSMS (Persatuan Sepak Bola Medan Sekitarnya).

Xavi menolak kritikan La Furia Roja kian membosankan. Apalagi Del Bosque memainkan false number 9 atau striker palsu yang menyebabkan permainan Spanyol sering berkutat di lini tengah. Memiliki rasio operan 93% tepat sasaran di turnamen ini, Xavi adalah sosok sentral ball possession. Spanyol akhirnya menampilkan tipe permainan menyerang yang saat pertandingan sebelumnya tidak terlihat. So, partai puncak ini menjadi penambah bukti kedigdayaan tim matador.

Sebetulnya, Spanyol sejak lama terkenal sebagai bangsa yang melahirkan pemain sepakbola yang teknik mengolah bolanya mumpuni. Namun, kehebatan individu itu tidak terwujud dalam permainan kolektif yang menawan. Sejak Aragones menangani tim, transformasi pun terjadi. Del Bosque menyempurnakannya. Kunci sukses sejatinya adalah kekompakan. Bukan rahasia jika rivalitas dua klub elit La Liga, Barcelona FC dan Real Madrid CF, kerap berimbas negatif terhadap penampilan tim.

Persaingan itu memang tidak bisa terlihat lewat kacamata sepakbola saja. Aspek sosial, budaya, dan politik melingkupinya. Dendam orang Catalan terhadap pemimpin fasis Spanyol yang berpenguasa 36 tahun, Jenderal Fransesco Franco, begitu mengakar. Kebencian itu terlampiaskan di atas lapangan ketika el clasico El Barca versus El Real. Tetapi hebatnya, di atas lapangan sebelas pemain yang berkostum merah kuning La Seleccion seolah melupakan permusuhan. Semua berjuang di bawah panji-panji kebesaran Spanyol. Hasilnya: juara Piala Eropa dan juara Piala Dunia.

Felicitaciones Espana! Campeon, campeon, campeon… Ole ole… Orang-orang Spanyol menyanyikan lirik lagu penyanyi legendaris Manolo Escobar,” La la la la la la la la la… Que viiiva Espana!” Kemenangan kompetitif pertama Spanyol atas Italia setelah nyaris seabad. Kemenangan pertama Spanyol, terakhir, dan satu-satunya terjadi di Olimpiade 1920. Di perempat final Euro 2008, Spanyol mengalahkan Italia lewat tos-tosan setelah bermain imbang di waktu normal dan extra-time.

Seusai laga, yang mengusik emosi pemirsa sepakbola adalah kehadiran anak-anak skuad Spanyol di lapangan. Para pemain menggendong anak-anak dan bermain-main. Torres dan anak-anaknya menjadi sorotan. Ia asyik menikmati kemesraan. Anak-anak bermain bersama ayahnya. Juga terlihat anak-anak usia balita yang imut-imut. Kehadiran anak-anak pemain di lapangan menunjukkan bahwa kesuksesan para bintang sepakbola dunia berkat dukungan dan sokongan keluarga mereka.

Spanyol adalah dream team. Sebagai “penggila” La Furia Roja, strategi bermain Spanyol sungguh menarik. Sebuah kesederhanaan strategi, yakni sebisa mungkin menguasai bola, sebanyak mungkin mengendalikan bola, dan seminim mungkin lawan mendapatkan bola. Mereka tidak berganti gaya sejak awal hingga akhir perhelatan. Tidak seperti Inggris dan Italia yang bertukar gaya saat laga klasik di perempat final Euro 2012.

Spanyol bermain fantastis mirip Barcelona FC minus Lionel Messi. Mereka membuat jatuh hati pecinta sepakbola di seluruh dunia. Mereka menikmati gaya permainan dan akan tetap memainkan ciri khasnya. Fans mengenal gaya permainan mereka dan juga menikmatinya. Xavi menyebut gaya permainan Spanyol sebagai evolusi gaya sepakbola dari mengandalkan permainan keras dan kekuatan fisik ke mengandalkan permainan teknis dan kekuatan otak.

Prestasi Spanyol adalah kemenangan sepakbola modern yang berevolusi dan Spanyol menjadi poros utamanya. Bukan sepakbola pragmatis yang hanya mengutamakan hasil  serta kekuatan fisik. Postur para pemain tim matador, terutama di barisan gelandangnya, untuk ukuran orang Eropa, terbilang mungil. Namun intelegensianya luar biasa. Indonesia seharusnya memainkan sepakbola tiki-taka agar bisa menorehkan prestasi, karena kesamaan postur. Postur rata-rata pemain kita sejajar skuad Spanyol yang berkisar 168-170 cm. Sayangnya, pemain kita senang bermain ala Jerman dan Inggris, yaitu umpan-umpan lambung yang tinggi dan jauh.

Piala Eropa menjadi berkah di tengah krisis ekonomi yang menerpa Benua Biru. Prestasi Spanyol menjadi obat di tengah krisis. Sesaat euforia itu meredam badai krisis. Sukacita orang Spanyol sedikit melupakan krisis meskipun krisisnya tak hilang seketika. Kemenangan yang berbanding terbalik dengan perekonomian negaranya. Di tengah lautan warna merah dan kuning, jeritan-jeritan “campeones, campeones” atau juara, juara bergemuruh di kota-kota Spanyol. Ribuan pendukung menyaksikan layar-layar fans zone. Wajah-wajah dicat, rambut-rambut diwarnai. Syal-syal melilit di bahu atau melingkari pinggang mereka. Bendera-bendera dikibarkan kaum tua dan muda.

Ketidakpastian keuangan serta ekonomi di Spanyol dan zona euro tentu saja mengkhawatirkan. Uniknya, krisis yang menghantam Eropa melibatkan negara-negara yang berpartisipasi. Yunani menyebabkan efek domino krisis Eropa. Pemerintah Spanyol pun mengambil kebijakan penghematan negara, di antaranya menaikkan pajak, memberhentikan para pekerja, dan mengurangi pendanaan untuk layanan kesehatan serta pendidikan. Pemerintah Spanyol juga bailout bank-bank yang hampir bangkrut. Jumlah pengangguran terbanyak di antara 17 negara zona euro. Spanyol terancam resesi. Tetapi ribuan orang menandatangani petisi agar penggawa Spanyol menyumbangkan 300 ribu euro bonusnya kepada negara jika mereka berhasil menjuarai Euro 2012.

La Furia Roja menuntaskan misinya untuk menulis ulang sejarah. Saatnya para pemain yang rata-rata dalam usia emasnya ini mengincar trofi juara Piala Eropa 2012. Jika berhasil, mereka mencetak rekor baru sebagai satu-satunya tim yang tiga kali berturut-turut memenangkan turnamen besar. Sampai bertemu empat tahun nanti di Euro 2016 Prancis. Bravo Spanyol!