imsitumeang

Memilih Calon “Jakarta-1”

In Uncategorized on f 16, 12 at 10:33 am

Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta menetapkan enam pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017 beserta nomornya hari Jumat tanggal 11 Mei 2012. Penetapan itu menandai pertarungan mereka merebut posisi DKI-1 setelah KPU DKI Jakarta memverifikasi dukungan mereka. Keenamnya seluruh bakal calon gubernur dan wakil gubernur yang mendaftar.

Partai  politik (satu atau beberapa partai politik) peserta pemilihan umum mengusulkan empat pasangan calon sebelum pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah (pemilukada) DKI Jakarta, sisanya dua pasangan calon melalui jalur perorangan atau independen. Pasangan calon yang bersaing tiga di antaranya  sosok berpengalaman di pemerintahan. Selain Foke, sapaan Fauzi Bowo yang incumbent, lainnya ialah Alex Noerdin dan Joko Widodo alias Jokowi. Alex merupakan Gubernur Sumatera Selatan yang sebelumnya dua periode sebagai Bupati Musi Banyuasin dan Jokowi yang Walikota Surakarta atau Solo.

Selengkapnya, pasangan calon nomor (1) DR-Ing H Fauzi Bowo—Mayjen (Purn) H Nachrowi Ramli, SE melalui jalur partai politik. Pengusungnya Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Bulan Bintang, Partai Matahari Bangsa, dan Partai Kebangkitan Nasional Ulama.

Pasangan calon nomor (2) Mayjen TNI (Purn) Drs H Hendardji Soepandji, SH—Ir H A Riza Patria, MBA melalui jalur perorangan. Pendukungnya 419.416 jiwa.

Pasangan calon nomor (3) Ir H Joko Widodo—Ir Basuki Tjahaja Purnama, MM melalui jalur partai politik. Pengusungnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Gerakan Indonesia Raya.

Pasangan calon nomor (4) DR H M Hidayat Nur Wahid, MA—Prof DR Didik Junaedi Rachbini melalui jalur partai politik. Pengusungnya Partai Keadilan Sejahtera.

Pasangan calon nomor (5) Faisal Batubara—Biem Triani Benjamin melalui jalur perorangan. Pendukungnya 487.150 jiwa.

Pasangan calon nomor (6) Ir H Alex Noerdin, SH—Letjen Marinir (Purn) H Nono Sampono melalui jalur partai politik. Pengusungnya Partai Golongan Karya, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Damai Sejahtera, Partai Patriot, Partai Karya Peduli Bangsa, Partai Kesatuan Demokrasi Indonesia, Partai Republika Nusantara, Partai Perjuangan Indonesia Baru, Partai Persatuan Daerah, Partai Indonesia Sejahtera, Partai Nasional Benteng Kerakyatan Indonesia, Partai Buruh, Partai Pemuda Indonesia, Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia, Partai Penegak Demokrasi Indonesia, Partai Indonesia Marhaenisme, Partai Merdeka, dan Partai Sarekat Indonesia.

Rakyat telah banyak mengetahui rekam jejak enam pasangan calon ini. Foke terus menerus berjuang untuk mengatasi masalah Jakarta, Alex berhasil menggratiskan sekolah dan berobat di wilayahnya, serta Jokowi yang dekat wong alit di Solo dan kandidat walikota terbaik dunia versi The City Mayors Foundation.

Merujuk trek rekor setiap calon, rakyat bisa menimbang-nimbang tokoh yang cocok memimpin Jakarta. Tetapi tidak berarti hanya tiga calon gubernur itu yang diperhitungkan. Tiga calon gubernur lainnya, Hidayat Nur Wahid, Faisal Basri, dan Hendardji Soepandji, juga memiliki kemampuan. Setidaknya visi dan misi mereka memimpin Jakarta tercermin oleh program yang dikampanyekan.

Ketika genderang bertabuh, Jakarta berpotensi konflik selama pemilukada. Potensi konfliknya lebih besar ketimbang daerah lain. Kerumitan masalah Jakarta tentu saja melebihi daerah lain. Potensi konflik itu jangan dianggap enteng karena bisa menjadi bara api yang siap membakar Jakarta.

Jumlah pasangan calon yang bertarung terbilang banyak. Semakin banyak petarung, semakin besar potensi konfliknya. Apalagi setiap pasangan calon sulit memenangi pertarungan satu putaran saja.

Jakarta kerap disebut Indonesia mini. Etnik seluruh daerah Indonesia berkumpul di Jakarta. Isu-isu primordial rawan menjadi pemicu. “Kampanye hitam” bermuatan sentimen primordialisme bertebaran sejak kemunculan pasangan calon. Sentimen primordial seperti etnisitas menjadi alasan Foke nyalon kembali. Ia mengklaim sebagai satu-satunya putera Betawi yang dekat etnis tersebut.

Foke memang memenangi pemilukada yang menandai pertama kalinya putera Betawi menjadi gubernur di daerahnya. Para pendahulunya bukan Betawi. Ia juga orang sipil pertama setelah kalangan militer—Ali Sadikin, Tjokropranolo, Soeprapto, Wiyogo Atmodarminto, Suryadi Soedirja, Sutiyoso—memimpin Jakarta sekitar 41 tahun.

Tidak seorang pun menginginkan Pemilukada DKI Jakarta ricuh dan rusuh. Konflik sebesar atau sekecil apa pun hanya menodai demokrasi. Oleh karena itu, setiap warga Jakarta harus menjaga pemilukada yang fair.

Para kandidat harus bersikap sportif. Mereka jangan curang dan culas demi memenangi pertarungan. Mereka harus siap menang sekaligus siap kalah.

KPU harus bersikap netral dan menyosialisasikan pemilukada agar rakyat memahaminya dan berpartisipasi sebagai pemilih saat hari pencoblosan hari Rabu tanggal 11 Juli 2012. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan masyarakat harus mengawasinya dan melaporkan kecurangan dan pelanggaran kepada pihak berwenang. Sementara aparat keamanan harus sigak bertindak dan memerkarakan kecuarangan dan pelanggaran tanpa pembiaran sekecil apa pun.

Perkembangan yang kondusif mendukung rakyat pemilih menentukan pilihannya kepada kandidat terbaik yang berkapasitas menyelesaikan masalah Jakarta. Pasangan calon yang memiliki visi besar dan kuat demi kepentingan warga Jakarta. Rakyat jangan memilih hanya karena sentimen primordial, apalagi teriming-iming uang. Pemilih menjadi penentu masa depan Jakarta.

Kini semua terpulang kepada pemilih sebagai pemilik suara. Siapa yang pantas memimpin Jakarta tentunya didasari kemampuan. Ingat, gubernur dan wakil gubernur terpilih memimpin Jakarta selama lima tahun ke depan. Jika salah memilih, berarti kecewa selama lima tahun seperti kita merasakannya sekarang.

Agar penyesalan tidak terjadi dan berlarut-larut, tokoh masyarakat, agama, serta tokoh Jakarta dan nasional selayaknya berperan untuk membantu rakyat yang terdaftar sebagai pemilih untuk menentukan siapa yang layak memimpin Jakarta.

Setiap pasangan calon pasti menerapkan “ilmu kecap”, memuji dan menyatakan dirinya yang terbaik. Semua mengaku nomor satu. Semuanya berupaya optimal untuk menarik simpati pemilih kendati harus menjelek-jelekkan pasangan calon lain, hingga “serangan uang”.

Rakyat pemilik suara harus dicerahkan agar memilih calon penguasa yang terbaik. Jangan salah memilih, sebab baik buruknya Jakarta tidak hanya memengaruhi warga Jakarta, tetapi menyangkut banyak orang. Jakarta menjadi ukuran Indonesia di mata dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: