imsitumeang

Di Negeri Dhewek-dhewek…

In Uncategorized on f 8, 12 at 7:21 am

Nasib rakyat di republik ini ibarat anak yatim piatu. Tak ada mengurus mereka! Pemerintah dan parlemen tidak lagi memedulikan rakyat. Apatis. Tenggelam dalam kesibukan mengurus masalahnya sendiri-sendiri. Kompleks, sehingga tak sempat memikirkan nasib rakyat.

Di sisi pemerintah, masalah demi masalah tak kunjung terurai. Masalah satu belum tuntas, eh masalah lain muncul. Begitu dan begitu terus. Makin hari masalah makin bertumpuk-tumpuk. Entah kapan dan entah bagaimana menyelesaikannya. Terlebih karena pucuk pimpinan nasional lebih sibuk bersolek demi citranya di mata publik.

Contohnya, masalah yang menguras energi pemerintah ialah birokrasi yang sakit kronis. Birokrasi ternyata tidak berisi manusia berkompeten. Seperti diungkapkan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Men PAN dan RB) Azwar Abubakar, hanya sekitar lima persen aparat birokrasi yang tergolong berkompeten. Sisanya, hanya aparat yang tidak menguasai masalah, miskin pengetahuan, juga kerdil inisiatif dan tanggung jawabnya melayani kepentingan rakyat.

Birokrasi juga sakit kronis karena mengidap korupsi stadium lanjut. Meski program remunerasinya aduhai, tabiat korup jajaran birokrasi malah menjadi-jadi. Korupsi di tubuh pemerintahan kian menggurita — karena bukan monopoli pejabat eselon atas, melainkan mewabahi pegawai kelas kroco. Sampai-sampai apa yang dulu tak terbayangkan kini terjadi.

Bayangkan saja, pegawai seperti Gayus Halomoan Tambunan atau Dhana Widyatmika — notabene pegawai relatif muda dan masih level rendahan — mampu menumpuk kekayaan hingga puluhan miliar rupiah. Gayus divonis bersalah karena korupsi. Sementara kekayaan Dhana sangat mengundang kecurigaan karena jumlahnya amat tidak wajar dibanding posisinya sebagai pegawai level rendah.

Di sisi parlemen, energi terkuras bukan untuk kepentingan rakyat, melainkan kepentingan mereka. Sejak dari menyalurkan syahwat raun ke luar negeri hingga ke nafsu membangun gedung dan ruangan mewah. Mereka sibuk mengakali anggaran belanja negara sebagai bancakan.

Yang menyedihkan, banyak anggota Dewan malas mengikuti sidang atau rapat yang membahas kepentingan negara, juga rakyat. Mereka telanjur sibuk mengurus partai atau bahkan pribadinya. Namun di ranah publik, tanpa malu-malu mereka memasang wajah tak bersalah. Bahkan tak segan-segan berdusta dan memutarbalikkan fakta. Tak jarang mereka berbusa-busa, di layar televisi mereka berkoar seolah-olah habis-habisan memperjuangkan kepentingan rakyat.

Menyedihkan, memang. Indonesia layaknya negeri dhewek-dhewek, karena pemerintah dan parlemen sibuk mengurus masalahnya sendiri-sendiri. Rakyat tidak mempunyai pilihan lain kecuali bertindak dhewek pula. Jangan menyalahkan rakyat yang memilih caranya sendiri dalam menyelesaikan aneka masalah mereka. Makanya, preman dan gangster marak di mana-mana memakai aneka jubah dan topi.

Jika tidak menjadi preman dan gangster, rakyat menjadi hakim yang tak segan-segan membakar hidup-hidup maling yang tepergok dan tertangkap massa. Rakyat tak lagi menghargai simbol negara seperti polisi, jaksa, hakim, dan aparat lainnya. Kemarahan dan kebencian mereka terhadap korupsi dan pelakunya makin memuncak. Terlebih bila sang koruptor ialah penegak hukum, wakil rakyat, dan aparat pemerintah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: