imsitumeang

Tahun 2012 Tahun Kegaduhan

In Uncategorized on f 3, 12 at 4:23 am

Memasuki tahun 2012 kita memiliki banyak tanda tanya, salah satunya bagaimana percaturan politik di Indonesia. Kita berharap percaturan politik lebih bermartabat dan condong ke kepentingan rakyat. Tahun lalu hanya riuh di tataran elite.

Di tahun yang baru, kita juga berharap pertumbuhan ekonomi menjadi lebih baik, tidak sekadar bagus. Pertumbuhan ekonomi yang memiliki kemampuan bertahan dan menghindari dampak krisis Eropa sekaligus menyentuh langsung kebutuhan rakyat.

Sesungguhnya kendati tahun 2011 berlalu dan menapaki tahun 2012, kita menggantung banyak asa. Namun, kita mesti bersiap untuk memendam kecewa. Harapan demi harapan tersebut bakal sulit terwujud. Maka kegaduhan menghantui tahun 2012.

Isyarat akan terjadi hiruk pikuk justru menguat. Susilo Bambang Yudhoyono memperkirakan tahun 2012 bisa menjelma sebagai pentas kegaduhan. Pengamat setali tiga uang. Mereka kompak bersuara suhu memanas satu tahun ke depan.

Korupsi dan kolusi di lingkungan pemerintahan tingkat pusat dan daerah (provinsi, kabupaten/kota) makin meraja lela. Indikator keberhasilan pengelolaan keuangan pemerintah masih sekitar terserapnya anggaran pendapat belanja negara (APBN)/anggaran pendapat belanja daerah (APBD). Proficiat buat Yudhoyono dan Budiyono karena invesment grade bagus. Tapi apakah rakyat merata menikmatinya?

Tahun 2012 ibarat pusaran persoalan, moment menyatunya seabrek masalah besar yang tak terselesaikan tahun lalu dan start kompetisinya di tahun 2013. Kasus hukum beraroma politik dan ekonomi, seperti skandal Bank Century, mafia pajak, dan dugaan korupsi dan kolusi di sejumlah kementerian, menjadi sumber kegaduhan.

Kasus-kasus yang menyeret elite dan partai politik memicu drama saling sandera diikuti saling barter sebagai lakon utama, baik koalisi maupun oposisi. Tercipta “koalisi baru”. Barter politik berbarengan dengan barter ekonomi, atau barter lain sebagai upaya untuk menumpuk modal menjelang tahun 2014.

Belum lagi persoalan urgen lainnya. Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemerintahan Daerah, RUU Keistimewaan Yogyakarta, atau isu revisi UU Pemilihan Umum (Pemilu) seperti parliamentary threshold yang menggantung dan wajib tuntas tahun ini. Partai politik bertarung habis-habisan agar sistem pemilu yang disepakati menguntungkan mereka.

Rivalitas kian sengit sebab tahun 2012 merupakan arena pemanasan menjelang laga sesungguhnya, pemilu tahun 2014. Energi partai politik bakal tersedot untuk beauty contest mempromosikan sosok ketua umumnya sebagai kandidat calon RI-1.

Begitu pula anggota Dewan, baik di tingkat pusat maupun daerah, yang selama ini lebih sibuk mengurusi kepentingannya makin rajin mengumpulkan modal, memoles citra, dan mematut diri agar tetap bercokol di Senayan.

Jelas, kian teralihkan perhatian elite demi memuaskan syahwat diri dan kelompoknya, rakyat yang lama terpinggirkan kian terabaikan. Saluran aspirasi yang tersumbat benar-benar mampat. Tahun 2012, elite mengabaikan tujuan menyejahterakan rakyat.

Setiap pergantian tahun sejatinya peluang atau kesempatan menuju perbaikan. Namun, elite selalu gagal menghadirkan perubahan karena mereka kadung terjebak pola saling sandera dan saling barter di bidang politik dan ekonomi, juga hukum. Jika semua elite memuaskan nafsu birahi diri dan kelompoknya, mengabaikan kepentingan bangsanya, bagaimana percaturan politik dan pertumbuhan ekonomi? Kegaduhan demi kegaduhan menjadi niscaya. Ironis!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: