imsitumeang

Filosofi Bola Barcelona Nan Atraktif

In Uncategorized on f 13, 11 at 6:29 am

El clasico ibarat laganya semua laga sepakbola. Atensi dan apresiasi pecinta sepakbola menjelang laga Barcelona versus Real Madrid meningkat di belahan dunia. Laga bergengsi itu kembali digelar di Santiago Bernabeu, Minggu (11/12) pagi WIB. Lebih diunggulkan karena statistik pertandingan sebelum laga dan sebagai tuan rumah, jutaan mata, baik Cules maupun Merengues, menyaksikan kegagalan Los Galacticos menghentikan Los Fantasticos. Tidak terdengar Hala Madrid, yang berkumandang malah teriakan Visca El Barca!

Los Azulgranas biasanya berpakem 4-3-3. Artinya, 4 pemain belakang, 3 gelandang, dan 3 penyerang. Beberapa kali mencoba 3-4-3 tetapi menghadapi Real Madrid semestinya Guardiola memilih 4-3-3 mengantisipasi serangan baliknya yang cepat dan bisa mematikan. Ternyata permainan Barcelona berpola 3-4-3, banyak pemain tengah agar sering menguasai bola dan menyerang. Keberanian melawan seteru abadi yang mengandalkan counter attack itu pun berbuah manis.

Gol Alexis Sanchez setelah umpan brilian kandidat peraih Ballon d’Or tiga kali berturut-turut, Lionel El Pulga Messi, yang beraksi sendirian di wilayah pertahanan lawan; tendangan deflected Xavi Hernandez di luar kotak penalti yang membentur bek Marcelo dan berbelok arahnya sehingga kiper sekaligus kapten Iker Casillas tidak bisa menjangkaunya, dan heading Cesc Fabregas menerima umpan crossing bek Dani Alves memperpanjang dominasi sang juara bertahan La Liga. Barcelona sempat terhentak oleh striker El Real Karim Benzema yang melesatkan gol tercepat dalam sejarah el clasico menyusul blunder kiper Victor Valdes ketika 23 detik setelah kick off babak kesatu.

Kesimpulannya, gaya permainan El Barca Es Mas Que Un Club masih di atas level El Real. Barcelona mempermalu Real Madrid karena kelihaian lini tengahnya, taktik brilian Guardiola, dan mental juara penggawa Barca. Kepada La Sexta usai pertandingan, Xavi yang penampilannya ke-600 berseragam The Catalans meyakini, bahwa “Kami jauh lebih superior hari ini. Kami bermain berani. Kami tidak bisa meraih kemenangan tanpa bermain sempurna di setiap lini,” ucapnya. Presiden El Barca Sandro Rosell juga lugas menyatakan, bahwa Barca tidak sulit berduel dengan tim sehebat El Real.

Rivalitas klasik yang mendarah daging di antara Barcelona dan Real Madrid, The Special One menitahkan pasukan Si Putih mengalahkan pasukan Si Biru-Merah. Marca memberitakan 10 titahnya, yakni tidak kebobolan terutama di interval 45 menit babak kesatu, Madridista bakal membuat Santiago Bernabeu layaknya neraka, jangan merisaukan wasit tetapi mewaspadai kartu, memanfaatkan bola-bola udara sebagai kelemahan Barca, jangan kehilangan ball possession, tidak membuka ruang di lini belakang, memerhatikan intensitas, tekanan, kecepatan, dan ritme; mengantisipasi ekstra keras mobilitas pemain Barca, full konsentrasi dan koordinasi pergerakan antarpemain, serta karena mempertaruhkan harga diri maka jangan cemas bermain.

Kiranya 10 titah El Speciale da Una bertujuan untuk melumpuhkan tiki-taka ala Barca. Di jagat sepak bola, tiki-taka adalah gaya bermain yang mengandalkan bola menyusuri tanah atau sesekali di atas kepala, passing (umpan) panjang pendek yang akurat ke semua arah, fokus memerhatian gerakan bola, melakukan gerakan tanpa bola, dan mengalirkan bola ke semua area; passing segitiga atau melingkar, baik ke kaki maupun ke dada dan kepala; serta menguasai bola sebanyak mungkin dan menjebol gawang lawan sebanyak-banyaknya. Setiap menjelang pertandaingan, entrenador Guardiola selalu mengajak pasukannya membuktikan bahwa Barca merupakan tim terhebat di dunia. Barca pun menjelma sebagai team to beat yang dihindari lawan.

Buku The Linguistics of Football mencatat, istilah tiki-taka mengemuka ketika Andres Montes, wartawan televisi La Sexta, mengucapkan “Estamos tocando tiki-taka tiki-taka” atau “Kami bermain tiki-taka tiki-taka”, ketika mengomentari laga tim Spanyol kontra tim Tunisia di Piala Dunia 2006. A style of possession football originating from Spain is tiki-taka. Simple football and possession football = total football = tiki-taka. Jadi, esensi tiki-takanya sama dengan total fooball: “Pemain bertahan dan penyerang memiliki porsi yang sama.” Tak ada transisi saat menyerang atau sebaliknya.

Barcelona mulai mengusung filosofi ini dekade 70-an sejak kepelatihan Rinus Michels dan Johan Cruyff sebagai pemainnya. Setelah melatih dekade 80-an, Cruyff mematangkannya dan banyak pelatih yang terus menerus menjadikannya sebagai ciri khas Barca, termasuk Guardiola yang berusaha menyempurkannya. Frank Rijkaard juga mempraktikkannya kendati tidak kentara.

Tiki-taka versi Guardiola lebih cepat dan pressure-nya lebih ketat ketika kehilangan bola dan mendominasi ball possession. Ditopang punggawa lulusan La Masia yang memiliki bakat, skill, dan stamina semisal Xavi, Andres Iniesta, dan Messi, pemain-pemain Barca kerap menggiring bola selama atau sejauh mungkin tanpa khawatir terkuras tenaganya dan kehilangan bola. Pengecualian bagi Messi, justru ia sering mencetak gol dan memberi assist. Tiki-taka plus kejeniusan pemain-pemainnya menjadikan Barca sebagai tim terbaik di dunia.

Mereka memiliki filosofi bermain yang menjadikannya sebagai tim atraktif yang disegani dan dihormati. Bandingkan dengan pendekatan Mourinho yang pragmatis, tim tidak harus bermain indah atau berformasi catenaccio meredam ritme tiki-taka karena yang terpenting ialah skornya. Resep yang ampuh saat ia menukangi Inter Milan, bukan Real Madrid. Pemain legendaris Real Madrid, Alfredo Di Stefano, menyebutnya sepakbola “tanpa kepribadian”. Jika terbukti Barca memenangi kembali laga bergensi tersebut, tidak terlalu mengejutkan.

Dalam lima laga terakhir di La Liga, Messi cs mencatat empat kali menang dan hanya sekali seri. Skor fantastisnya 6-2 di Santiago Bernabeu tanggal 3 Mei 2009. Ketika pertemuan terakhir di kandang El Real Madrid, kedua tim imbang, 1-1. Sedangkan dalam lima laga terakhir di semua kompetisi, El Real hanya menang sekali, yakni final Copa Del Rey tanggal 21 April 2011 setelah gol tunggal Cristiano Ronaldo memasuki injury time. Sejak itu El real tak berkutik setiap bertemu Barca, yakni dua kali seri di semifinal Liga Champions 2010-2011 dan dua kali kalah di Piala Super Spanyol 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: