imsitumeang

Hikmah Libya Pasca-Qadafi

In Uncategorized on f 9, 11 at 10:12 am

Pasca-Qadafi, banyak hikmah yang dirasakan. Cara tewas penguasa Libya yang berkuasa lebih 40 tahun ini mengenaskan! Tidak kurang ironis, jasadnya diletakkan di ruangan pembeku daging sehingga menjadi tontonan warga. Banyak orang membenci kekejaman Qadafi. Tetapi, kita miris dan prihatin menyaksikan video sejak massa menggiring hingga menembak kepalanya.

Peristiwa sekitar kematian Qadafi tanggal 20 Oktober 2011 dan perlakuan terhadap jasadnya membuktikan terjadi ‘budaya pembalasan’ (culture of vengeance). Budaya yang seolah-olah melekat (embedded) dalam lingkungan masyarakat Libya. Prinsip lama sejak masa Biblikal, one tooth for one tooth, one eye for one eye—satu gigi untuk satu gigi, satu mata untuk satu mata—dalam lingkungan masyarakat Timur Tengah, terlihat telanjang sekitar kematian Qadafi.

Padahal, Islam mengajarkan agar kita tidak sewenang-wenang memperlakukan musuh. Islam juga mengajarkan agar kita mengadili orang yang bersalah; bahkan ketika yang bersangkutan terbukti melakukan kejahatan, Islam mengajarkan agar kita memberi pemaafan. Prinsip dan ajaran yang mulia karena mungkin bisa mengakhiri mata rantai kekerasan, keaniayaan, dan kezaliman.

Kematian Qadafi belum mengakhiri cerita. Masih terjadi konsolidasi kekuasaan di Libya pasca-Qadafi. Kematiannya merupakan awal transisi kekuasaan yang sulit karena pergumulan. Pihak asing, khususnya negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), mulai mengklaim imbalan berwujud penguasaan minyak dan gas Libya sebagai kompensasi bantuan mereka menumbangkan rezim Qadafi.

Kematian Qadafi juga tidak menghentikan kekerasan di dunia Arab atau Timur Tengah. Rezim-rezim yang sekarang ditentang rakyatnya, seperti Presiden Bashar Assad di Suriah dan Presiden Ali Abdullah Saleh di Yaman, belum terbuka mata hatinya masing-masing untuk mengakhiri kekuasaannya sekaligus menghentikan kekerasan kepada rakyatnya. Kendati jumlah korban tewas dan luka-luka bertambah dari waktu ke waktu, rezim-rezim itu belum mengusahakan perdamaian.

Persitiwa sekitar kematian Qadafi sejak awal hingga akhir menjadi pelajaran bahwa kekerasan yang menyebabkan korban tewas dan luka-luka menjadi alasan bagi pihak asing, seperti Perancis dan Amerika Serikat, untuk campur tangan. Tanpa bantuan militer, persenjataan, intelijen, dan logistik NATO sulit dibayangkan pasukan perlawanan sipil yang dikendalikan Dewan Transisi Nasional bisa mengalahkan pasukan Qadafi—termasuk tentara sewaan yang didatangkannya dari berbagai negara.

Karena itu, sangat penting bagi para penguasa, siapa pun yang berkuasa, untuk membenahi bangsanya. Selain memerintah sebaik-baiknya demi kemakmuran rakyatnya dan menjunjung prinsip hak asasi manusia sesuai dengan konvensi internasional, para penguasa sepatutnya mengusahakan perdamaian dalam menyelesaikan setiap pertikaian dengan warganya masing-masing. Penggunaan kekerasan—apalagi berskala besar—adalah kejahatan kemanusiaan yang justru mengundang pihak asing menggunakan berbagai cara untuk menumbangkan rezim-rezim semacam itu.

Dorongan agar pihak asing campur tangan kian bertambah jika negara yang bergolak memiliki kekayaan sumberdaya alam, khususnya minyak dan gas, seperti Libya. Atau, jika negara tersebut memiliki posisi geo-strategis yang penting untuk pengendalian kawasan seperti Timur Tengah. Suriah dan Yaman merupakan negara-negara yang posisi geo-strategisnya penting dalam konteks kepentingan Amerika Serikat dan negara-negara Barat lain, khususnya dalam konflik yang masih berlanjut di antara Palestina dan Israel. Bukan tidak mungkin negara-negara Barat menggunakan berbagai cara untuk menumbangkan penguasa negara-negara itu.

Bagi kita di Indonesia, hikmahnya ialah bahwa di tengah ketidakpuasan terhadap pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono maka semestinya warga mengeskpresikannya tanpa kebrutalan atau menghindari anarki. Kekerasan demi kekerasan hanya membentuk lingkaran kekerasan yang sulit terputus. Pada saat yang sama Pemerintah lebih arif untuk sungguh-sungguh memperbaiki keadaan, sehingga pihak asing tidak campur tangan—yang niscaya ujungnya hanya tragedi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: