imsitumeang

Solusinya Begitu-begitu Saja

In Uncategorized on f 25, 11 at 9:14 am

Reshuffle kabinet kali ini sesungguhnya momentum emas di sisa waktu era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Targentnya, mencapai efisiensi dan efektivitas karena postur organisasinya ramping. Kinerja kabinet hasil perombakan diharapkan kinclong karena berhasil mengubah pesimisme menjadi optimisme.

Saat pengumumkan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II di Istana Negara, Selasa (18/10), Presiden mengaku ada lima dasar pertimbangannya, yaitu kesatu, hasil evaluasi kinerja; kedua, the right man on the right place; ketiga, kebutuhan atau keperluan organisasi; keempat, masukan dan inspirasi masyarakat; kelima, persatuan dalam kemajemukan tanpa mengabaikan integritas dan kapasitas.

Tapi, ia gagal. Yang menonjol justru politik pencitraan yang panggungnya di Cikeas. Postur kabinet hasil reshuffle kian tambun karena penambahan wakil menteri. Wakil menteri memperpanjang rantai komando organisasi. Mestinya, koordinasi antarkementerian menjadi pertimbangan presiden. Betapa rumit struktur dan rentang kendali organisasi yang gemuk. Kian ruwet.

Idealnya, wakil menteri melapisi menteri-menteri triumvirat (menteri dalam negeri, menteri luar negeri, menteri pertahanan) sebagai presidium pimpinan nasional bila presiden dan wakil presiden berhalangan tetap. Belum tentu kementerian bersangkutan membutuhkan wakil menteri.

Karena penambahan wakil menteri, bagaimana penyesuaian struktur organisasinya? Bagaimana pembagian kerja wakil menteri dengan pejabat eselon I: direktur jenderal, sekretaris jenderal, dan inspektur jenderal? Jabatan itu hanya membuat mereka menganggur. Belum lagi kalau masing-masing menteri menyertakan staf khusus?

Persoalan lain, tidak ada pertimbangan presiden untuk memberantas korupsi di kementerian. Setidaknya dua menteri, yakni Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar serta Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng, menjadi sorotan publik karena disinyalir terlibat korupsi.

Kesan absennya pertimbangan pemberantasan korupsi terlihat ketika Yudhoyono menggelar jumpa pers bersama para ketua umum partai koalisi yang mejeng di belakangnya, termasuk Muhaimin. Sungguh pemandangan yang buruk.

Jika para menteri yang disinyalir terlibat korupsi tidak dicopot atau digeser posisinya, jelas sekali keutuhan koalisi menjadi pertimbangan terpenting presiden. Bila evaluasi Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) dirujuk sebagai parameter, lebih 50% menteri tidak kapabel.

Tentu menjadi perdebatan mengapa reshuffle kabinet yang fokusnya ialah kinerja menteri terbukti hanya menambah jabatan wakil menteri. Seolah-olah menteri tidak berprestasi karena ketiadaan wakil yang pas. Sama saja dengan ‘lain ditanya, lain dijawab’. Ibarat kepala yang gatal, kaki yang digaruk.

Bahkan, presiden sengaja mengubah peraturan agar bisa mengangkat orang yang berpangkat menengah menjadi wakil menteri. Peraturan dibikin longgar, tidak lagi merujuk jenjang karier, melainkan asalkan calonnya adalah pegawai negeri.

Dalam manajemen modern, organisasi yang gemuk justru memperburuk kinerja. Efisiensi dan efektivitas hanya tercapai bila postur organisasinya ramping. Postur kabinet yang tambun hanya pemborosan. Menambah wakil menteri berarti, konsekuensinya, terjadi pembengkakan anggaran.

Sisa waktu pemerintahan Yudhoyono hanya tiga tahun. Dalam sisa waktu itu, siapa yang percaya bahwa pemerintahan menjadi lebih bersih kalau menteri yang dipersepsikan korupsi justru bertahan? Siapa yang percaya impor menjadi berhenti karena menteri perdagangannya berganti? Persoalannya, menjelang pemilihan umum tahun 2014, banyak menteri asal partai yang sibuk mengurus partainya.

Menteri boleh baru, menteri yang satu boleh saja dipindahkan ke kementerian lain. Tapi, masalah tetap tak terselesaikan. Solusinya begitu-begitu saja, yakni presiden menyampaikan pidato, mengeluarkan instruksi, tanpa tindakan yang lugas dan tuntas. Reshufffle kabinet mempertegas kemerosotan tanggung jawab presiden. Reshuffle sekadar sandiwara. Kabinet yang baru gagal mengubah pesimisme menjadi optimisme.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: