imsitumeang

Ketagihan atau Ketergantungan Impor?

In Uncategorized on f 20, 11 at 4:52 am

Pejabat kita ibarat pedagang. Mereka ketagihan impor, dari kebutuhan sepele seperti garam atau tusuk gigi hinggi kebutuhan berat seperti gerbong kereta api atau bis. Kegiatan impor memang menggiurkan pedagang komoditas impor dan pejabat pemberi izin impor. Mereka bisa menikmati keuntungan berganda dan fee. Misalnya, keuntungan impor daging sapi disebut-sebut dinikmati partai yang kader-kadernya menjadi pejabat di kementerian tertentu.

Celakanya, sengaja atau tidak sengaja, ketagihan impor justru merugikan rakyat, bangsa, dan negara kita. Petani atau industri yang menghasilkan kebutuhan impor menjadi mati perlahan-lahan. Bangsa menjadi terbiasa mengimpor atau tidak mandiri memenuhi kebutuhannya melalui produksi di dalam negeri. Keuangan negara pun terkuras.

Kini, ketergantungan kita kepada komoditas impor makin mengkhawatirkan. Di sektor pangan, isi perut penduduk di negeri ini semakin tergantung hasil bumi negara lain. Nilai impor pangan Indonesia semester I tahun 2011 Rp 45,6 triliun atau bertambah Rp 5 triliun dibanding semester I tahun 2010 Rp 39,91 triliun.

Komoditas impor bervariasi, mulai dari beras, jagung, singkong, bawang merah, cabai, hingga ke buah-buahan seperti apel washington, jeruk mandarin, kelengkeng china, anggur tanpa biji, buah pir, dan durian montong.

Bahkan, Indonesia yang garis pantainya terpanjang di dunia mengimpor garam. Tak hanya itu, pemerintah juga mengimpor daging sapi untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.

Jumlahnya semua jenis yang diimpor bertambah dari waktu ke waktu. Terakhir, misalnya, pemerintah menambah 28 ribu ton kuota impor daging sapi beku. Total impor daging sapi beku tahun ini adalah 100 ribu ton.

Penambahan semua jenis bahan pangan impor memicu protes. Peternak dan petani khawatir pertambahan kuota impor bakal mendistorsi harga bahan pangan lokal seperti daging sapi lokal. Apalagi, jumlah sapi lokal kini 14,8 juta ekor yang melebihi target swasembada sapi, yaitu 14,3 juta ekor.

Seharusnya, tidak ada lagi alasan mengimpor. Tapi, pemerintah berkukuh menambah kuota. Dalihnya agar stok cukup maka keran impor dibuka. Persoalan serupa juga terjadi untuk komoditi impor seperti garam, buah-buahan, dan bahan pangan lainnya.

Kengototan tersebut menegaskan bahwa pemerintah tidak memiliki keberpihakan kepada sumberdaya lokal. Sekaligus menunjukkan pemerintah tidak memiliki keinginan untuk membangun kedaulatan pangan.

Padahal, membangun kemandirian pangan merupakan persoalan mendesak yang harus dibenahi. Sebab menyangkut kebutuhan primer rakyat. Terlalu menggantungkan pemenuhan kebutuhan pokok kepada produk impor menjadi bumerang di suatu waktu.

Perkembangan menjadi sulit pasca-kesepakatan perdagangan bebas (terbatas) atau free (preferential) trade agreement antara Indonesia dan negara-negara ASEAN (The Association of Southeast Asian Nations), ASEAN-China, Indonesia-Pakistan, dan pakta lainnya. Sementara pemerintah belum menyiapkan kompensasi bagi para petani lokal yang mencakup revitalisasi perkebunan, penyiapan lahan sentra, dan lain-lain.

Ancaman krisis pangan menghantui dunia dan pasar pangan global tidak bisa menjadi sumber stok. Indonesia harus mengandalkan pasokan dalam negeri. Memang, membangun swasembada pangan membutuhkan kerja keras dan waktu lama, tetapi bukan perkara mustahil mencapainya karena negara-negara yang mandiri seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan pun melakukannya. Kita memenuhi syarat sumberdaya, sejak lahan yang luas, iklim yang tropis, penduduk yang agraris, hingga pasar yang besar.

Masalah pokoknya ialah keberpihakan pemerintah kepada sektor pertanian. Juga, tidak ada keberanian pemerintah memberangus kartel pangan membuat negeri ini menjadi ketagihan impor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: