imsitumeang

Islamofobia dan Teori Konspirasi 9/11

In Uncategorized on f 14, 11 at 9:36 am

Tanggal 11 September (9/11), 10 tahun lalu, dunia terhenyak ketika seluruh gedung World Trade Center (WTC) di Manhattan, New York, dan sebagian gedung Pentagon atau gedung Departemen Pertahanan di Arlington, Virginia, luluh lantak oleh serangan yang dituduh pelakunya adalah orang-orang radikal. Sekitar 3.000 korbannya. Amerika Serikat (AS) terisak-isak menangis dan menjerit-jerit ketakutan.

Hingga kini, peristiwa 11 September menyisakan sembilan teori konspirasi.

1. AS mengetahui serangan. Presiden ketika itu, George Walker Bush Junior, mengatakan bahwa tidak ada seorang pun di pemerintahannya yang mengira negaranya diserang oleh pesawat yang menubruk gedung pencakar langit. Tapi, beberapa pekan sebelumnya, ketika sejumlah pemimpin G-8 bertemu di Genoa, Italia, Bush memperhitungkan skenario tersebut. Mereka menyiapkan misil antipesawat di dekat lokasi acara. Sebelumnya, Italia terancam diserang lewat udara.

2. WTC runtuh karena peledak. Sejumlah fisikawan, pakar teknik sipil, dan penggemar teori konspirasi mempercayai bahwa gedung WTC diledakkan dari dalam, bukan semata ditubruk pesawat, karena teknik bangunannya yang tertanam kokoh tapi hancur hingga ke dasar. Menurut mereka, sejumlah besar bahan peledak disimpan di WTC di ruang-ruang strategis dan diledakkan.

3. Pialang saham berperan. Sebelum 9/11, ada aksi pasar saham yang berdampak luas. Misalnya, United Airlines dan American Airlines, yang pesawatnya dibajak, melepas sahamnya besar-besaran. Sementara perusahaan keamanan, yang meraup untung pascaserangan WTC, kebanjiran order saham. Saham Morgan Stanley yang berkantor di WTC juga menjual sahamnya besar-besaran.

4. Pesawat bisa ditembak. NORAD (North American Aerospace Defense Command atau Komando Pertahanan Amerika Utara) seharusnya menembak pesawat-pesawat yang dibajak atau menghalaunya mendekati target. Tapi, NORAD tidak melakukannya dan mereka “terlambat” mengetahui pembajakan pesawat.

5. Pesawat di Pentagon. Teori lainnya menyatakan, Pentagon tidak diserang oleh pesawat American Airlines flight 77 karena memiliki ribuan kamera pengintai. Anehnya, tidak ada satupun kamera pengintai yang merekam pesawat tersebut akan menghantam gedung Pentagon. Teori konspirasi menghubungkan serangan Pentagon dengan oknum AS yang menembakkan misil ke markas itu.

6. Kotak hitam. Setiap pesawat memiliki dua kotak hitam yang menyimpan informasi penerbangan. Anehnya, tidak ada satupun ditemukan kotak hitam pesawat-pesawat yang menghantam gedung WTC. Belakangan, para pekerja yang membersihkan sisa-sisa reruntuhan gedung WTC mengakui bahwa mereka menolong agen federal mencari tiga dari empat kotak hitam di sana. Pentagon menyatakan, kotak hitam sangat rusak dan sulit terbaca. Yang bisa terbaca hanya kotak hitam United Airlines flight 93 yang jatuh di Pennsylvania.

7. Aksi CIA (Central Intelligence Agency) dan Mossad (Ha-Mossad le-Modiin ule-Tafkidim Meyuhadim). Mantan Presiden Italia Francesco Cossiga ikut memberi teori konspirasi. Menurutnya, ada informasi kaum kiri Italia yang menyatakan CIA dan Mossad dibantu Zionist yang mendalangi serangan ke gedung WTC agar negara-negara Arab di bawah tuduhan terorisme dan mendorong negara-negara adikuasa Barat mengambil bagian di perang Irak dan Afghanistan. Mereka menjadikan Islam dan umat Muslim sebagai kambing hitam. Bahkan, badan intelejen Pakistan ISI (Inter-Service Intelligence) mengklaim mengetahui rencana tersebut.

8. Bukan pesawat tapi misil. Asumsinya, jika badan pesawat berbahan alumnium yang kekuatannya rendah meruntuhkan gedung WTC maka jangan-jangan bukan pesawat yang menabrak gedung WTC tapi misil berefek hologram menyerupai pesawat. Teori konspirasi ini didukung analisis frame per frame siaran tabrakan yang menunjukkan bentuk pesawat lebih menyerupai selongsong cerutu yang lonjong.

9. Demi minyak. Menghancurkan gedung WTC membuka jalan bagi negara-negara Barat untuk menguasai minyak di Timur Tengah. Penggemar teori konspirasi meyakini bahwa perusahaan-perusahaan minyak raksasa dunia memiliki sumberdaya untuk melakukan serangan.

Terlepas dari sembilan teori konspirasi yang belum banyak terungkap, peristiwa 9/11 mengubah sejarah karena melahirkan kelompok-kelompok ekstrem nasionalis dan konservatis yang membenci orang asing, khususnya umat Islam. Mereka menjadi kelompok yang bernama Islamofobia, yaitu kelompok yang menakuti Islam.

Opini yang menyudutkan umat Islam pun terbentuk, sejak berperan sebagai musuh di film-film Hollywood, menyimbolkan pedang untuk ajaran Islam, menerbitkan kartun yang menghina Nabi Muhammad SAW, hingga mendistorsi sejarah Islam.

Islamofobia berikut opininya belakangan berdampak sangat besar di AS dan perkembangan Islam. Mereka menjadikan Islam menjadi ancaman. Kemajemukan yang didengung-dengungkan hanya menyangkut bukan Islam. Umat Islam makin terusik di negara-negara Eropa dan AS, juga belahan dunia lainnya. Malah, berbagai kegiatan, termasuk latihan militer, memuat materi yang mengupas ketakutan terhadap Islam.

Islamofobia sangat dirasakan umat Muslim di negara-negara Eropa dan AS. Mereka tidak bisa berbuat, selain menerima perlakuan tidak manusiawi. Misalnya, mereka sulit mendirikan masjid dan tidak boleh, bahkan izinnya tidak keluar. Intinya, kebebasan beragama dibatasi demi keamanan versi mereka.

Selain Islamofobia, peristiwa tersebut menguntungkan pemerintahan George Walker Bush Junior. Ia menjadi simbol pahlawan yang memerangi teroris. Rezim Bush mencap umat Muslim sebagai musuh yang harus diperangi.

Kebijakan pemerintahan AS berubah drastis sejak era komunisfobia yang dikampanyekan senator Joseph McCarthy 60 tahun silam. Sebagai panglima, Bush memberantas apa pun yang dituduh teroris berlabel Islam. Mereka menyerang Irak dan Afghanistan yang justru menambah korban dibanding peristiwa 11 September. Tak hanya Irak dan Afganistan, AS memenjarakan sejumlah orang di Guantanamo, Kuba, sambil memburu Usamah bin Ladin, pemimpin Al-Qaidah, tokoh yang dituduh otak serangan peristiwa 11 September.

AS mengklaim telah berhasil membunuh Usamah melalui serangan pasukan khusus Angkatan Laut AS, Navy’s SEALs (Sea, Air, and Land Teams), di Abbottabad, Pakistan. Kiprahnya habis. Presiden AS, Barrack Hussein Obama, menegaskan bahwa perang melawan Al-Qaidah dan Usamah bukan perang melawan Islam. Tapi, tidak mengurangi kekhawatiran umat Islam, khususnya di AS, apalagi menjelang peringatan 11 September.

Statistik kependudukan AS mencatat, antara enam dan sembilan juta jumlah umat Muslim di AS dan mereka mayoritas berpendidikan yang tinggi, berpenghasilan yang cukup, berpekerjaan yang penting. Namun, kelompok ekstrem kanan di AS masih berupaya untuk mencabut hak-hak politik dan sosial umat Muslim di negara yang “melindungi” kebebasan beragama itu.

Kita berharap agar Pemerintah AS segera mengantisipasi gejala Islamofobia. Pejabat Pemerintahan AS, mulai dari Presiden Obama, para menterinya, senator, hingga ke gubernur meredam kelompok Islamofobia.

Kita juga berharap pemuka-pemuka umat Islam, Kristen, dan Yahudi tidak henti-hentinya mengingatkan toleransi beragama. Masing-masing mengklaim sebagai penganut otoritas kebenaran sehingga melakukan aksi-aksi kekerasan kepada kelompok lain.

Islamofobia dan klaim otoritas kebenaran merupakan lingkaran yang tak ada akhirnya. Berputar-putar mirip dendam turun-temurun. Islam adalah damai. Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: