imsitumeang

Urbanisasi Setelah Mudik Lebaran

In Uncategorized on f 6, 11 at 6:41 am

Setelah mudik Lebaran, persoalan yang menghantui kota-kota besar, termasuk Jakarta, adalah urbanisasi. Biasanya, hari-hari menjelang akhir cuti bersama menjadi puncak arus balik. Cuti bersama yang 10 tahun terakhir ditetapkan Pemerintah, terbukti berhasil memobilisasi warga, baik arus mudik maupun arus balik. Meski banyak kekurangannya, arus mudik dan arus balik tercatat lancar di sejumlah lokasi rawan lalu lintas.

Diperkirakan, arus balik menambah sekitar 100 ribu “penduduk baru” di Jakarta yang bertambah setiap tahun. Hingga pertengahan tahun 2011, tercatat 8.524.190 jiwa penduduk Jakarta, belum terhitung penduduk yang tidak terdaftar, penduduk musiman, dan penduduk yang tinggal di sekitar kawasan penyangga Jakarta seperti Bekasi, Bogor, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Depok yang menuju Jakarta di hari dan jam kerja.

Jadilah Jakarta sebagai ibukota yang hiruk-pikuk dan padat. Berluas 650,4 kilometer persegi (0,03 persen luas Indonesia), Jakarta menampung sekitar 12,5 juta jiwa (5,62 persen penduduk Indonesia) setiap harinya. Akibatnya, Jakarta menjadi wilayah terpadat di Indonesia: 14.299 penduduk per kilometer persegi atau 14,3 orang per meter persegi.

Kehirukpikukan dan kepadatan Jakarta melahirkan banyak persoalan. Tambahan penduduk baru yang memiliki persoalan sosial, ekonomi, budaya, dan politik tak bisa terhenti begitu saja. Satu-satunya perangkat hukum yang menekan urbanisasi ke Jakarta adalah Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 1996 tentang Kependudukan.

Peraturan daerah ini mensyaratkan bagi penduduk yang ke Jakarta, antara lain, memiliki lokasi dan pekerjaan di Jakarta. Persoalannya, peraturan daerah tersebut melawan filosofi urbanisasi, karena penduduk baru menyerbu Jakarta karena di daerah asalnya mereka tidak beroleh kehidupan yang layak. Mereka ke Jakarta justru mencari pekerjaan.

Jumlah penduduk Jakarta yang banyak tak lagi mampu disangga infrastruktur. Misalnya, daya dukung infrastruktur jalan/jembatan yang terbatas memperparah kemacetan lalu lintas. Apalagi, siang hari ratusan ribu kendaraan bermotor menuju Jakarta. Sistem transportasi massal yang buruk kian memperparah kemacetan tersebut.

Ringkasnya, jumlah penduduk Jakarta yang banyak dan tata kelola ibukota yang buruk membuat Jakarta menjadi ibukota yang kurang nyaman. Trotoar berubah menjadi lokasi jualan. Taman menciut luasnya akibat pengembangan permukiman yang tidak terbendung. Perkampungan kumuh juga bertambah.

Jumlah penduduk yang banyak dan tata kelola yang buruk tidak hanya persoalan Pemerintah DKI Jakarta. Urbanisasi ke kota-kota besar, termasuk Jakarta, karena Pemerintah gagal membangun perdesaan. Otonomi daerah yang diharapkan bisa merangsang pertumbuhan dan pembangunan tidak berdampak apa-apa. Sebagian besar ibukota provinsi belum bisa menjadi pusat pertumbuhan dan pembangunan seperti kegiatan perdagangan dan pendidikan. Apalagi, ibukota kabupaten dan kota.

Pemerintah tak bisa menghentikan urbanisasi setelah mudik Lebaran, karena tradisi arus mudik dan arus balik yang saban tahun terjadi. Sepertinya, Pemerintah tak bisa berbuat apa-apa atau mencari solusi untuk menahan urbanisasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: