imsitumeang

Archive for September, 2011|Monthly archive page

Ketagihan atau Ketergantungan Impor?

In Uncategorized on f 20, 11 at 4:52 am

Pejabat kita ibarat pedagang. Mereka ketagihan impor, dari kebutuhan sepele seperti garam atau tusuk gigi hinggi kebutuhan berat seperti gerbong kereta api atau bis. Kegiatan impor memang menggiurkan pedagang komoditas impor dan pejabat pemberi izin impor. Mereka bisa menikmati keuntungan berganda dan fee. Misalnya, keuntungan impor daging sapi disebut-sebut dinikmati partai yang kader-kadernya menjadi pejabat di kementerian tertentu.

Celakanya, sengaja atau tidak sengaja, ketagihan impor justru merugikan rakyat, bangsa, dan negara kita. Petani atau industri yang menghasilkan kebutuhan impor menjadi mati perlahan-lahan. Bangsa menjadi terbiasa mengimpor atau tidak mandiri memenuhi kebutuhannya melalui produksi di dalam negeri. Keuangan negara pun terkuras.

Kini, ketergantungan kita kepada komoditas impor makin mengkhawatirkan. Di sektor pangan, isi perut penduduk di negeri ini semakin tergantung hasil bumi negara lain. Nilai impor pangan Indonesia semester I tahun 2011 Rp 45,6 triliun atau bertambah Rp 5 triliun dibanding semester I tahun 2010 Rp 39,91 triliun.

Komoditas impor bervariasi, mulai dari beras, jagung, singkong, bawang merah, cabai, hingga ke buah-buahan seperti apel washington, jeruk mandarin, kelengkeng china, anggur tanpa biji, buah pir, dan durian montong.

Bahkan, Indonesia yang garis pantainya terpanjang di dunia mengimpor garam. Tak hanya itu, pemerintah juga mengimpor daging sapi untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.

Jumlahnya semua jenis yang diimpor bertambah dari waktu ke waktu. Terakhir, misalnya, pemerintah menambah 28 ribu ton kuota impor daging sapi beku. Total impor daging sapi beku tahun ini adalah 100 ribu ton.

Penambahan semua jenis bahan pangan impor memicu protes. Peternak dan petani khawatir pertambahan kuota impor bakal mendistorsi harga bahan pangan lokal seperti daging sapi lokal. Apalagi, jumlah sapi lokal kini 14,8 juta ekor yang melebihi target swasembada sapi, yaitu 14,3 juta ekor.

Seharusnya, tidak ada lagi alasan mengimpor. Tapi, pemerintah berkukuh menambah kuota. Dalihnya agar stok cukup maka keran impor dibuka. Persoalan serupa juga terjadi untuk komoditi impor seperti garam, buah-buahan, dan bahan pangan lainnya.

Kengototan tersebut menegaskan bahwa pemerintah tidak memiliki keberpihakan kepada sumberdaya lokal. Sekaligus menunjukkan pemerintah tidak memiliki keinginan untuk membangun kedaulatan pangan.

Padahal, membangun kemandirian pangan merupakan persoalan mendesak yang harus dibenahi. Sebab menyangkut kebutuhan primer rakyat. Terlalu menggantungkan pemenuhan kebutuhan pokok kepada produk impor menjadi bumerang di suatu waktu.

Perkembangan menjadi sulit pasca-kesepakatan perdagangan bebas (terbatas) atau free (preferential) trade agreement antara Indonesia dan negara-negara ASEAN (The Association of Southeast Asian Nations), ASEAN-China, Indonesia-Pakistan, dan pakta lainnya. Sementara pemerintah belum menyiapkan kompensasi bagi para petani lokal yang mencakup revitalisasi perkebunan, penyiapan lahan sentra, dan lain-lain.

Ancaman krisis pangan menghantui dunia dan pasar pangan global tidak bisa menjadi sumber stok. Indonesia harus mengandalkan pasokan dalam negeri. Memang, membangun swasembada pangan membutuhkan kerja keras dan waktu lama, tetapi bukan perkara mustahil mencapainya karena negara-negara yang mandiri seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan pun melakukannya. Kita memenuhi syarat sumberdaya, sejak lahan yang luas, iklim yang tropis, penduduk yang agraris, hingga pasar yang besar.

Masalah pokoknya ialah keberpihakan pemerintah kepada sektor pertanian. Juga, tidak ada keberanian pemerintah memberangus kartel pangan membuat negeri ini menjadi ketagihan impor.

Iklan

Islamofobia dan Teori Konspirasi 9/11

In Uncategorized on f 14, 11 at 9:36 am

Tanggal 11 September (9/11), 10 tahun lalu, dunia terhenyak ketika seluruh gedung World Trade Center (WTC) di Manhattan, New York, dan sebagian gedung Pentagon atau gedung Departemen Pertahanan di Arlington, Virginia, luluh lantak oleh serangan yang dituduh pelakunya adalah orang-orang radikal. Sekitar 3.000 korbannya. Amerika Serikat (AS) terisak-isak menangis dan menjerit-jerit ketakutan.

Hingga kini, peristiwa 11 September menyisakan sembilan teori konspirasi.

1. AS mengetahui serangan. Presiden ketika itu, George Walker Bush Junior, mengatakan bahwa tidak ada seorang pun di pemerintahannya yang mengira negaranya diserang oleh pesawat yang menubruk gedung pencakar langit. Tapi, beberapa pekan sebelumnya, ketika sejumlah pemimpin G-8 bertemu di Genoa, Italia, Bush memperhitungkan skenario tersebut. Mereka menyiapkan misil antipesawat di dekat lokasi acara. Sebelumnya, Italia terancam diserang lewat udara.

2. WTC runtuh karena peledak. Sejumlah fisikawan, pakar teknik sipil, dan penggemar teori konspirasi mempercayai bahwa gedung WTC diledakkan dari dalam, bukan semata ditubruk pesawat, karena teknik bangunannya yang tertanam kokoh tapi hancur hingga ke dasar. Menurut mereka, sejumlah besar bahan peledak disimpan di WTC di ruang-ruang strategis dan diledakkan.

3. Pialang saham berperan. Sebelum 9/11, ada aksi pasar saham yang berdampak luas. Misalnya, United Airlines dan American Airlines, yang pesawatnya dibajak, melepas sahamnya besar-besaran. Sementara perusahaan keamanan, yang meraup untung pascaserangan WTC, kebanjiran order saham. Saham Morgan Stanley yang berkantor di WTC juga menjual sahamnya besar-besaran.

4. Pesawat bisa ditembak. NORAD (North American Aerospace Defense Command atau Komando Pertahanan Amerika Utara) seharusnya menembak pesawat-pesawat yang dibajak atau menghalaunya mendekati target. Tapi, NORAD tidak melakukannya dan mereka “terlambat” mengetahui pembajakan pesawat.

5. Pesawat di Pentagon. Teori lainnya menyatakan, Pentagon tidak diserang oleh pesawat American Airlines flight 77 karena memiliki ribuan kamera pengintai. Anehnya, tidak ada satupun kamera pengintai yang merekam pesawat tersebut akan menghantam gedung Pentagon. Teori konspirasi menghubungkan serangan Pentagon dengan oknum AS yang menembakkan misil ke markas itu.

6. Kotak hitam. Setiap pesawat memiliki dua kotak hitam yang menyimpan informasi penerbangan. Anehnya, tidak ada satupun ditemukan kotak hitam pesawat-pesawat yang menghantam gedung WTC. Belakangan, para pekerja yang membersihkan sisa-sisa reruntuhan gedung WTC mengakui bahwa mereka menolong agen federal mencari tiga dari empat kotak hitam di sana. Pentagon menyatakan, kotak hitam sangat rusak dan sulit terbaca. Yang bisa terbaca hanya kotak hitam United Airlines flight 93 yang jatuh di Pennsylvania.

7. Aksi CIA (Central Intelligence Agency) dan Mossad (Ha-Mossad le-Modiin ule-Tafkidim Meyuhadim). Mantan Presiden Italia Francesco Cossiga ikut memberi teori konspirasi. Menurutnya, ada informasi kaum kiri Italia yang menyatakan CIA dan Mossad dibantu Zionist yang mendalangi serangan ke gedung WTC agar negara-negara Arab di bawah tuduhan terorisme dan mendorong negara-negara adikuasa Barat mengambil bagian di perang Irak dan Afghanistan. Mereka menjadikan Islam dan umat Muslim sebagai kambing hitam. Bahkan, badan intelejen Pakistan ISI (Inter-Service Intelligence) mengklaim mengetahui rencana tersebut.

8. Bukan pesawat tapi misil. Asumsinya, jika badan pesawat berbahan alumnium yang kekuatannya rendah meruntuhkan gedung WTC maka jangan-jangan bukan pesawat yang menabrak gedung WTC tapi misil berefek hologram menyerupai pesawat. Teori konspirasi ini didukung analisis frame per frame siaran tabrakan yang menunjukkan bentuk pesawat lebih menyerupai selongsong cerutu yang lonjong.

9. Demi minyak. Menghancurkan gedung WTC membuka jalan bagi negara-negara Barat untuk menguasai minyak di Timur Tengah. Penggemar teori konspirasi meyakini bahwa perusahaan-perusahaan minyak raksasa dunia memiliki sumberdaya untuk melakukan serangan.

Terlepas dari sembilan teori konspirasi yang belum banyak terungkap, peristiwa 9/11 mengubah sejarah karena melahirkan kelompok-kelompok ekstrem nasionalis dan konservatis yang membenci orang asing, khususnya umat Islam. Mereka menjadi kelompok yang bernama Islamofobia, yaitu kelompok yang menakuti Islam.

Opini yang menyudutkan umat Islam pun terbentuk, sejak berperan sebagai musuh di film-film Hollywood, menyimbolkan pedang untuk ajaran Islam, menerbitkan kartun yang menghina Nabi Muhammad SAW, hingga mendistorsi sejarah Islam.

Islamofobia berikut opininya belakangan berdampak sangat besar di AS dan perkembangan Islam. Mereka menjadikan Islam menjadi ancaman. Kemajemukan yang didengung-dengungkan hanya menyangkut bukan Islam. Umat Islam makin terusik di negara-negara Eropa dan AS, juga belahan dunia lainnya. Malah, berbagai kegiatan, termasuk latihan militer, memuat materi yang mengupas ketakutan terhadap Islam.

Islamofobia sangat dirasakan umat Muslim di negara-negara Eropa dan AS. Mereka tidak bisa berbuat, selain menerima perlakuan tidak manusiawi. Misalnya, mereka sulit mendirikan masjid dan tidak boleh, bahkan izinnya tidak keluar. Intinya, kebebasan beragama dibatasi demi keamanan versi mereka.

Selain Islamofobia, peristiwa tersebut menguntungkan pemerintahan George Walker Bush Junior. Ia menjadi simbol pahlawan yang memerangi teroris. Rezim Bush mencap umat Muslim sebagai musuh yang harus diperangi.

Kebijakan pemerintahan AS berubah drastis sejak era komunisfobia yang dikampanyekan senator Joseph McCarthy 60 tahun silam. Sebagai panglima, Bush memberantas apa pun yang dituduh teroris berlabel Islam. Mereka menyerang Irak dan Afghanistan yang justru menambah korban dibanding peristiwa 11 September. Tak hanya Irak dan Afganistan, AS memenjarakan sejumlah orang di Guantanamo, Kuba, sambil memburu Usamah bin Ladin, pemimpin Al-Qaidah, tokoh yang dituduh otak serangan peristiwa 11 September.

AS mengklaim telah berhasil membunuh Usamah melalui serangan pasukan khusus Angkatan Laut AS, Navy’s SEALs (Sea, Air, and Land Teams), di Abbottabad, Pakistan. Kiprahnya habis. Presiden AS, Barrack Hussein Obama, menegaskan bahwa perang melawan Al-Qaidah dan Usamah bukan perang melawan Islam. Tapi, tidak mengurangi kekhawatiran umat Islam, khususnya di AS, apalagi menjelang peringatan 11 September.

Statistik kependudukan AS mencatat, antara enam dan sembilan juta jumlah umat Muslim di AS dan mereka mayoritas berpendidikan yang tinggi, berpenghasilan yang cukup, berpekerjaan yang penting. Namun, kelompok ekstrem kanan di AS masih berupaya untuk mencabut hak-hak politik dan sosial umat Muslim di negara yang “melindungi” kebebasan beragama itu.

Kita berharap agar Pemerintah AS segera mengantisipasi gejala Islamofobia. Pejabat Pemerintahan AS, mulai dari Presiden Obama, para menterinya, senator, hingga ke gubernur meredam kelompok Islamofobia.

Kita juga berharap pemuka-pemuka umat Islam, Kristen, dan Yahudi tidak henti-hentinya mengingatkan toleransi beragama. Masing-masing mengklaim sebagai penganut otoritas kebenaran sehingga melakukan aksi-aksi kekerasan kepada kelompok lain.

Islamofobia dan klaim otoritas kebenaran merupakan lingkaran yang tak ada akhirnya. Berputar-putar mirip dendam turun-temurun. Islam adalah damai. Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.

Urbanisasi Setelah Mudik Lebaran

In Uncategorized on f 6, 11 at 6:41 am

Setelah mudik Lebaran, persoalan yang menghantui kota-kota besar, termasuk Jakarta, adalah urbanisasi. Biasanya, hari-hari menjelang akhir cuti bersama menjadi puncak arus balik. Cuti bersama yang 10 tahun terakhir ditetapkan Pemerintah, terbukti berhasil memobilisasi warga, baik arus mudik maupun arus balik. Meski banyak kekurangannya, arus mudik dan arus balik tercatat lancar di sejumlah lokasi rawan lalu lintas.

Diperkirakan, arus balik menambah sekitar 100 ribu “penduduk baru” di Jakarta yang bertambah setiap tahun. Hingga pertengahan tahun 2011, tercatat 8.524.190 jiwa penduduk Jakarta, belum terhitung penduduk yang tidak terdaftar, penduduk musiman, dan penduduk yang tinggal di sekitar kawasan penyangga Jakarta seperti Bekasi, Bogor, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Depok yang menuju Jakarta di hari dan jam kerja.

Jadilah Jakarta sebagai ibukota yang hiruk-pikuk dan padat. Berluas 650,4 kilometer persegi (0,03 persen luas Indonesia), Jakarta menampung sekitar 12,5 juta jiwa (5,62 persen penduduk Indonesia) setiap harinya. Akibatnya, Jakarta menjadi wilayah terpadat di Indonesia: 14.299 penduduk per kilometer persegi atau 14,3 orang per meter persegi.

Kehirukpikukan dan kepadatan Jakarta melahirkan banyak persoalan. Tambahan penduduk baru yang memiliki persoalan sosial, ekonomi, budaya, dan politik tak bisa terhenti begitu saja. Satu-satunya perangkat hukum yang menekan urbanisasi ke Jakarta adalah Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 1996 tentang Kependudukan.

Peraturan daerah ini mensyaratkan bagi penduduk yang ke Jakarta, antara lain, memiliki lokasi dan pekerjaan di Jakarta. Persoalannya, peraturan daerah tersebut melawan filosofi urbanisasi, karena penduduk baru menyerbu Jakarta karena di daerah asalnya mereka tidak beroleh kehidupan yang layak. Mereka ke Jakarta justru mencari pekerjaan.

Jumlah penduduk Jakarta yang banyak tak lagi mampu disangga infrastruktur. Misalnya, daya dukung infrastruktur jalan/jembatan yang terbatas memperparah kemacetan lalu lintas. Apalagi, siang hari ratusan ribu kendaraan bermotor menuju Jakarta. Sistem transportasi massal yang buruk kian memperparah kemacetan tersebut.

Ringkasnya, jumlah penduduk Jakarta yang banyak dan tata kelola ibukota yang buruk membuat Jakarta menjadi ibukota yang kurang nyaman. Trotoar berubah menjadi lokasi jualan. Taman menciut luasnya akibat pengembangan permukiman yang tidak terbendung. Perkampungan kumuh juga bertambah.

Jumlah penduduk yang banyak dan tata kelola yang buruk tidak hanya persoalan Pemerintah DKI Jakarta. Urbanisasi ke kota-kota besar, termasuk Jakarta, karena Pemerintah gagal membangun perdesaan. Otonomi daerah yang diharapkan bisa merangsang pertumbuhan dan pembangunan tidak berdampak apa-apa. Sebagian besar ibukota provinsi belum bisa menjadi pusat pertumbuhan dan pembangunan seperti kegiatan perdagangan dan pendidikan. Apalagi, ibukota kabupaten dan kota.

Pemerintah tak bisa menghentikan urbanisasi setelah mudik Lebaran, karena tradisi arus mudik dan arus balik yang saban tahun terjadi. Sepertinya, Pemerintah tak bisa berbuat apa-apa atau mencari solusi untuk menahan urbanisasi.