imsitumeang

Sungguh, Kita Belum Merdeka

In Uncategorized on f 18, 11 at 5:33 am

Tanggal 17 Agustus 2011, kita memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Kali ini ke-66. Dan, setiap memperingati ke berapa pun, kita selalu bertanya-tanya, apakah bangsa Indonesia benar-benar merdeka?

Arti harfiahnya, jelaslah bahwa negeri ini sudah merdeka setelah lepas dari cengkeraman Belanda yang menjajah ratusan tahun. Kita juga sudah merdeka dari Jepang yang menjajah tidak terlalu lama. Setelah merdeka, kita bebas menentukan cita-cita dan kita memiliki kedaulatan mengelola bangsa ini.

Tapi, jika kembali ke pertanyaan apakah kita benar-benar merdeka maka kita menjadi risau. Berbagai persoalan, kita menemui banyak kenyataan yang menyedihkan. Kenyataan yang justru mengarah kepada betapa semu hasil kemerdekaan yang diperjuangkan dengan cucuran darah dan air mata.

Kita masih menyaksikan puluhan juta rakyat di bawah garis garis kesejahteraan. Artinya, kita belum berhasil untuk memerdekakan puluhan juta rakyat dari jeratan kemiskinan. Sementara itu, kita masih menyaksikan hanya segelintir rakyat yang di atas garis kesejahteraan. Artinya, kita hanya berhasil untuk memerdekakan segelintir rakyat dari jeratan kemiskinan. Ada jutaan anak-anak yang tak menikmati pendidikan, layanan kesehatan. Ada banyak anak-anak telantar yang merana di jalanan atau kolong-kolong jembatan.

Kita menyaksikan betapa sumberdaya alam energi dan pertambangan yang melimpah dieksploitasi besar-besaran bukan untuk kemakmuran rakyat dan negara. Emas, minyak, gas, batubara, tembaga, uranium, dan sebagainya tapi kita hanya mengekspornya sebagai bahan mentah. Sumberdaya alam pertanian, kehutanan, perikanan, kelautan, peternakan dan sebagainya juga dieksploitasi besar-besaran yang membinasakan plasma nutfah dan petani atau nelayan. Artinya, kita hanya bermental pedagang. Mestinya, pemerintah mendorong masyarakat untuk berproduksi.

Kita menyaksikan perusahaan-perusahaan asing menguasai hajat hidup orang banyak. Mereka menguasai pertambangan dan energi, serta pertanian, perkebunan, dan peternakan. Mereka pun menguasai perbankan, asuransi, dan industri keuangan lainnya. Mereka menguasai pertanian dan peternakan. Mereka menguasai hampir seluruh lini ekonomi negeri ini. Kita belum merdeka dari penjajahan ekonomi.

Tapi, kita menyaksikan para penguasa negeri ini melakukan berbagai kecurangan dan kebohongan. Kemudian yang tak kalah mengerikan adalah para penyelenggara negara kita acapkali mempertontonkan kecongkakan. Mereka korupsi. Mereka tidak amanah. Korupsi begitu merajalela merampas uang rakyat dan anggaran negara. Mereka justru menjadi broker dan rentenir, mengejar fee proyek-proyek pembangunan. Bukti bahwa negeri kita belum merdeka dari perampok negeri ini. Mereka bukannya membangun negeri ini tapi justru merontokkannya.

Tanggal 17 Agustus 1945 saat Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia, bertepatan dengan bulan Ramadhan. Ramadhan adalah bulan ketika Allah SWT menurunkan Al Quran atau disebut Nuzulul Quran. Kini, peringatan hari kemerdekaan ke-66 Republik Indonesia bertepatan dengan bulan Ramadhan. Istimewanya lagi, 17 Agustus 2011 tahun masehi bertepatan dengan 17 Ramadhan 1432 tahun hijriah. Semestinya kita mengkhidmati kesamaan kalender ini.

Ramadhan adalah bulan penyucian diri bagi umat Islam. Saatnya merenung agar setelahnya kita seolah menjadi bayi yang terlahir kembali. Manusia yang diperbarui. Setelah 66 tahun merdeka, kita harus menjawab pertanyaan mengapa Indonesia bisa merdeka. Founding fathers merupakan pribadi-pribadi yang luar biasa. Sebagai generasi kaum pribumi lapisan atas, mereka menolak berkolaborasi dengan penjajah. Mereka menerima fasilitas keistimewaan, utamanya semasa belajar, tetapi sikapnya tak goyah. Mereka justru ingin Indonesia merdeka.

Menunjukkan bahwa mereka memiliki integritas, karakter yang kuat. Mereka menderita, miskin, dipenjara, dan diasingkan. Mereka tak memilih sebaliknya: memiliki kekayaan dan jabatan mentereng. Karena untuk memilih sebaliknya mereka harus lancung, berbohong, dan berkhianat. Mereka di barisan rakyat dengan mengikuti nurani, mempertahankan harga diri, dan mencari kemuliaan. Karenanya, rumusan Pembukaan UUD 1945 yang syarat makna mewakili keluhuran cita-cita dan penghayatan mereka.

Di usia 66 tahun Indonesia merdeka, kita justru menyaksikan kasus Gayus Halomoan Tambunan dan Muhammad Nazaruddin. Keduanya masih muda tapi terlibat perkara korupsi dan mafia pajak dan mafia anggaran. Tentunya lebih banyak koruptor yang berusia lebih tua, namun perkara korupsi keduanya sungguh mengguncang.

Kini, bangsa Indonesia menghadapi problem integritas para elitenya, bukan rakyatnya. Mereka tak bisa menahan diri dari godaan kuasa dan harta. Mereka sangat permisif. Agar kaya, mereka korupsi. Untuk berkuasa, mereka berkolaborasi dengan atau menjadi hamba kekuatan asing. Rakyatnya dibiarkan merana, Tanah Air-nya di sampingkan. Yang lainnya, menjadi komprador. Mereka lupa bahwa integritas bukan hanya dibutuhkan untuk memerdekakan, tapi juga untuk mewujudkan tujuan kemerdekaan seperti tertulis pada Pembukaan UUD 1945.

Semestinya, setelah 66 tahun merdeka, berbekal kekayaan sumberdaya alam dan sumberdaya lainnya, kita bisa menjadi bangsa yang besar. Rakyat sejahtera, anak-anak menikmati pendidikan. Hari kemerdekaan yang bertepatan dengan bulan puasa mari kita manfaatkan sebagai momentum untuk berjihad melawan keserakahan. Jika berhasil, niscaya kita menjadi bangsa yang sepenuhnya merdeka, bukan kemerdekaan yang semu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: