imsitumeang

Kenaikan Harga Sembako yang Merata

In Uncategorized on f 12, 11 at 10:27 am

Kita menyesalkan kenaikan harga sembilan bahan pokok (sembako) yang merata di berbagai daerah hari-hari terakhir ini. Kenaikan tersebut seolah menjadi peristiwa rutin yang terjadi selama bulan Ramadhan dan menjelang Lebaran atau Idul Fitri.

Persoalannya, mengapa selalu begitu? Bukankah bulan Ramadhan dan Lebaran atau hari-hari keagamaan lainnya merupakan peristiwa yang saban waktu dirayakan umat beragama? Jika ya, semestinya Pemerintah bisa memprediksi dan mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Itu di satu sisi.

Sisi lainnya ialah perilaku Pemerintah yang suka menempuh jalan pintas. “Mental pedagang” pejabat kita kambuh jikalau masyarakat kekurangan pangan. Maka kebijakan yang ditempuh ialah mengimpor kebutuhan pangan. Kebijakan yang jangka pendek!

Jika mengimpor kebutuhan pangan yang dibiayai anggaran negara, mereka memperoleh fee yang bisa dibagi-bagi. Macam-macam motifnya, bisa untuk pemasukan partai atau sekadar memenuhi hajat pejabat yang bersangkutan.

“Mental koruptif” pejabat kita merusak kebijakan yang seharusnya ditempuh, yakni bagaimana memenuhi kebutuhan pangan melalui program diversifikasi pangan dan ekstensifikasi/intensifikasi sektor-sektor pertanian, perikanan, dan peternakan. Sayangnya, bukan kebijakan jangka panjang ini yang dipikirkan.

Celakanya, ketergantungan kita terhadap produk pangan impor semakin lama semakin tinggi. Impor pangan tidak terkontrol! Buktinya, harga bahan pangan memang menaik sejak bulan Januari lalu tapi impor pangan juga menaik gila-gilaan.

Hampir semua bahan pangan yang semestinya bisa dipenuhi oleh produk pangan dalam negeri, kini diimpor besar-besaran. Sepanjang bulan Januari hingga Juni 2011, Indonesia mengimpor jutaan ton beras, jagung, kedelai, biji gandum, meslin, tepung terigu, gula pasir, gula tebu, daging, mentega, minyak goreng, susu, telur, ayam, kelapa, kelapa sawit, lada, kopi, cengkeh, kakao, cabe kering, cabai, garam, tembakau, kacang-kacangan, jagung, bawang.

Indonesia juga mengimpor bawang merah belasan ribu ton dari India, Filipina, dan Thailand. Singkong pun diimpor berton-ton dari China dan negara-negara lain. Begitu juga garam yang diimpor hampir dua juta ton dari Australia, Singapura, Selandia Baru, Jerman, dan India.

Indonesia kini menjadi negara pengimpor segalanya. Nilainya Rp 45 triliun total impor pangan sejak bulan Januari hingga Juni 2011. Data membuktikan kebijakan Pemerintah saat ini yang cenderung mengimpor pangan karena mudah ketimbang fokus membangun swasembada pangan yang memerlukan kerja keras.

Bukan karena ketidakmampuan kita memproduksinya sendiri, tapi karena “mental pedagang” dan “mental koruptif” yang menguntungkan pejabat kita atau pihak-pihak tertentu. Akibatnya, sentra-sentra produksi di sejumlah daerah yang dulu berjaya kini merana dan terbengkalai. Misalnya, sentra produksi bawang di Brebes dan Tegal.

Pemerintah tidak fokus membangun swasembada pangan sembari mengurangi impor pangan atau ketergantungan Indonesia yang sangat tinggi terhadap produk pangan luar negeri. Kenaikan harga sembako membuktikan bahwa Indonesia kini ternyata memasuki darurat pangan.

Kenaikan harga bukan lagi masalah rutin yang selalu terjadi selama bulan Ramadhan dan menjelang Lebaran atau Idul Fitri atau hari-hari keagamaan lainnya. Kenaikan harga sembako jangan ditangani parsial hanya mengatasi kenaikan harga sembako selama bulan Ramadhan dan menjelang Lebaran.

Pemerintah jangan bermain-main dengan menyatakan kita memiliki persediaan pangan yang cukup hingga Lebaran. Malah surplus. Kenyataannya, di pasar-pasar kita harga pangan mulai membumbung.

Pemerintah harus menyeluruh mengatasi darurat pangan. Kebijakan jangka panjang, bukan jangka pendek. Pemerintah harus fokus membangun swasembada pangan terutama bahan pangan yang terproduksi di dalam negeri. Jika tidak, Indonesia lambat laun kehilangan kedaulatan pangannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: