imsitumeang

Biaya Mahal di Sekolah Negeri

In Uncategorized on f 11, 11 at 10:56 am

Juli menjadi bulan terberat bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Di samping karena harga kebutuhan pokok yang meroket, mereka harus menyediakan dana berjumlah banyak untuk membayar uang sekolah bagi anak-anak mereka. Para orangtua mengeluhkan sulit dan mahalnya pendidikan di sekolah negeri di Tanah Air ini kendati nilai akademis anak mereka memenuhi syarat.

Yang sungguh mengenaskan, oknum-oknum guru dan kepala sekolah, utamanya di sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA), tanpa malu-malu mematok uang berjumlah banyak. Jual beli kursi pun terjadi. Kepandaian tidak penting asalkan ada segepok pitih maka si anak dijamin diterima di sekolah itu.

Sejak sebelum kelulusan, praktik kotor marak terjadi. Tidak sedikit orang tua ditawari nilai evaluasi yang bagus untuk putra-putrinya disertai imbalan jasa. Anak yang bodoh dan bernilai jelek, berkat sogokan jutaan rupiah bisa bernilai bagus, misalnya, untuk tingkat sekolah dasar (SD).

Anak yang pandai dan bernilai bagus tapi ogah “bermain kotor” hanya bisa menangis. Mental mereka terguncang akibat praktik kotor yang dilakukan oknum-oknum guru dan kepala sekolah yang seharusnya mendidik generasi bangsa masa depan. Orang tua yang jujur menolak tawaran “menyuap” agar anaknya bernilai bagus.

Oknum-oknum guru SMP juga terang-terangan mematok sejak Rp 5 juta hingga Rp 20 juta. Jumlahnya tergantung status sekolah apakah favorit atau tidak. Guru-guru tidak menjunjung etika dan moral. Oknum-oknum guru dan kepala sekolah hanya mementingkan materi demi kepuasan nafsunya, sehingga program sekolah gratis untuk SMP dan SD hanya utopia. Bualan kaum politisi di siang bolong.

Tidak hanya SMP dan SD, biaya di SMA dan perguruan tinggi negeri (PTN) juga bertambah mahal. Banyak orangtua terkejut karena setelah anaknya diterima di universitas atau institut negeri, ternyata biaya yang harus dibayar sangat mahal. Jangan-jangan, mahasiswa yang bisa kuliah di PTN mayoritas berlatar keluarga mampu. Celakanya, alokasi dan jumlah unit cost yang ditentukan PTN tidak transparan penggunaannya.

Fenomena ini sangat mengkhawatirkan kita. Praktik kotor dunia pendidikan akan melahirkan dan menumbuhkan generasi bangsa yang berpikir sempit dan instan. Mereka tidak harus belajar untuk diterima sekolah favorit. Tidak harus meluangkan waktu untuk persiapan ujian jika nilai evaluasi bisa dikatrol dengan uang. Mereka pun tidak harus bermental hebat untuk menatap masa depannya, karena semuanya bisa diatur, tentunya dengan uang.

Kelakukan oknum-oknum guru dan kepala sekolah tersebut merusak mental generasi bangsa. Anak yang pandai harus menerima kenyataan tidak bisa bersekolah di SD, SMP, SMA favorit karena tidak sanggup menyiapkan uang. Motivasi mereka hancur karena kelakuan oknum-oknum guru dan kepala sekolah serta para orangtua yang tidak jujur.

Yang terjadi kelak, kita melahirkan generasi bangsa yang koruptif, kolusif, nepotis, dan tidak jujur. Generasi bangsa yang selalu menyelesaikan masalah dengan cingcai dan cara-cara instan lainnya, bersikap cengeng jika menghadapi orang-orang yang pandai dan baik. Pelajaran agama sama sekali tidak berbekas di generasi bangsa seperti ini. Kita semakin terpuruk ke jurang kehancuran yang dahsyat.

Kita tidak menuduh semua pendidik bermain kotor. Tidak semua sekolah membuat aturan main yang menjijikkan. Masih banyak oknum guru dan kepala sekolah yang menjunjung etika dan moral. Mereka yang harus diapresiasi, karena mereka garda kemajuan. Mereka layak disebut “guru bangsa” yang patut digugu.

Kita berharap Pemerintah (Presiden, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Menteri Pendidikan Nasional) menindak kasus-kasus yang menyebalkan ini. Kita menolak jika Pemerintah menyatakan tidak ada temuan seperti itu. Semua komponen bangsa harus memperbaiki dunia pendidikan yang bobrok tersebut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: