imsitumeang

Kejujuran yang Terusir

In Uncategorized on f 22, 11 at 7:53 am

Berat nian tekanan yang dialami keluarga Siami (32), penduduk Kelurahan Gadel, Kecamatan Tandes, Kota Surabaya, Jawa Timur, setelah mengungkap ketidakjujuran kaum pendidik di negeri ini. Anaknya, Alif Achmad Maulana alias Aam, diperintah gurunya memberi contekan kepada murid lainnya selama Ujian Nasional (UN) Sekolah Dasar (SD), 10-12 Mei lalu. Peristiwa yang disebut sebagai kasus nyontek massal.

Saat melaporkannya ke Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gadel II, tempat anaknya bersekolah, pihak sekolah tidak mempedulikannya. Bisa dipahami, karena kelak terungkap bahwa pihak sekolah, atau kepala sekolah dan dua oknum guru, terlibat kasus itu.

Tetapi, yang mengagetkan ialah perangai masyarakat—para orang tua wali murid lainnya. Siami dan keluarganya malah dikuyo-kuyo jiran sekampung, dicerca, didemo, bahkan diusir dari domisilinya di Kelurahan Karangpoh. Akhirnya, keluarga Siami yang mengungsi. Wali murid kelas VI SDN Gadel II menolak pengungkapan Siami dan Aam.

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Muhammad Nuh berkomentar hambar dan normatif. Ia menghargai upaya keluarga Siami, tapi kecurangan pelaksanaan UN di sekolah itu tidak terbukti. Padahal, pemaksaan begitu jelas dialami Aam karena keculasan guru-gurunya.

Sebenarnya, setiap momen pelaksanaan UN, saat itu pula sebagian masyarakat mempertanyakan integritas pelaksanaannya. Paling tidak, tersirat melalui pengawasan dan pengamanan ujian. Selain itu, berbagai pihak memperingatkan agar segenap pihak jujur.

Tapi, jika pihak sekolah justru berlaku buruk maka benar-benar petaka bagi dunia pendidikan. Bisa jadi, tidak hanya SD Negeri 2 Gadel yang melakukannya juga sekolah lain yang berbeda modusnya. Ditengarai, kasus nyontek massal terjadi karena anggapan sekaligus tuntutan bahwa kesuksesan di bidang pendidikan ditentukan oleh persentase kelulusan murid atau siswa di satu sekolah atau satu daerah.

Dan, sepertinya beriringan dengan keinginan masyarakat. Mereka ingin anaknya berhasil sekolah. Sayangnya, keberhasilan yang sempit dimengerti. Semata-mata agar anak bernilai bagus dan naik kelas atau lulus dan melanjutkan sekolahnya kendati caranya tidak terpuji.

Kasus mencontek massal juga mengungkapkan betapa kian terlupakan penanaman dan pengembangan karakter generasi muda dalam dunia pendidikan. Sebuah pukulan bagi dunia pendidikan. Saat dunia pendidikan digadang-gadang menjadi pusat penanaman dan pengembangan karakter insan mulia, saat itu pula terungkap peristiwa yang memalukan dunia pendidikan itu sendiri.

Tindakan masyarakat terhadap kejujuran keluarga Siami menjadi tantangan bagi penanaman dan pengembangan karakter kemanusiaan seperti nilai-nilai keadilan serta menjunjung harkat dan martabat manusia. Sebenarnya, pengusiran hanya ungkapan emosi sesaat tapi mengkhawatirkan jika sikap tersebut mewakili tabiat mereka. Apalagi, dalam masyarakat berkembang sikap permisif terhadap perilaku tak terpuji, seperti korupsi.

Karena itulah, pendidikan karakter mendapat momentum untuk dipercepat dan diperluas. Pemerintah harus tepat dan cerdas bergerak. Khususnya dalam dunia pendidikan, oknum pendidik yang mencemari dunia pendidikan harus dihukum. Sebaliknya, mengapresiasi perilaku luhur.

Guru sendiri, dan ini sangat diperlukan, harus kembali dibekali pemahaman makna dan tujuan pendidikan. Misalnya, ukuran keberhasilan bukan semata-mata prestasi akademik, namun hakikinya adalah pembentukan keluhuran insani, menanamkan dan mengembangkan jati diri sebagai manusia.

Pemerintah juga harus mencari strategi tepat dan cerdas untuk memberi pemahaman kepada masyarakat. Guru, sebagai perpanjangan tangan pemerintah dan negara, menjadi ujung tombak penanaman dan pengembangan karakter generasi muda. Kendati guru bertindak bodoh dalam kasus tersebut, sesungguhnya mereka salah satu pihak yang senantiasa diharapkan menjadi penerang, yaitu sosok yang selalu digugu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: