imsitumeang

Subsidi BBM yang Mencekik

In Uncategorized on f 18, 11 at 10:55 am

Pemerintah tercekik politik anggaran buatannya. Karena mementingkan popularitas dan pencitraan ketimbang rasionalitas, pemerintah terjerat anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang melonjak.

Pemantik lonjakan subsidi ialah harga minyak dunia yang tinggi di kisaran US$ 100/barel. Sejak awal Mei lalu, harga pertamax Rp 9.050/liter atau dua kali lipat harga premium yang Rp 4.500. Akibatnya, pengendara yang mengonsumsi BBM nonsubsidi beralih ke BBM subsidi. Beban anggaran pun bertambah.

Tetapi, pemerintah bergeming. Pemerintah memilih berbagai opsi masalah BBM yang telah dicoba, termasuk menaikkan harga BBM.

Pemerintah bertindak seolah-olah menaikkan harga BBM bukan persoalan, berapa pun biaya yang dikeluarkan untuk menyubsidi BBM maka pemerintah melakukannya. Sebab, pemerintah menganggap subsidi satu-satunya cara membantu perekonomian rakyat.

Padahal, anggaran subsidi tersebut habis terbakar di jalan raya, terutama oleh kendaraan pribadi. Lebih bermanfaat dan menguntungkan perekonomian kita apabila subsidi BBM dikurangi dan anggarannya dialihkan untuk pembangunan transportasi.

Apakah pemerintah tidak berpikir bahwa transportasi yang massal, lancar, nyaman, dan aman mendorong masyarakat untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi dan mereka beralih ke kendaraan umum.

Tidak rasional jika pemerintah menyubsidi harga BBM terus-menerus atau tanpa batas dan membiarkan rakyat tidak mengetahui bahwa kenaikan harga minyak mencekik anggaran negara. Pembodohan jika pemerintah membiarkan mereka memboroskan BBM yang didominasi energi fosil, yang tidak terbarukan dan bakal habis. Pemerintah harus mengedukasi masyarakat untuk membatasi dan berhemat menggunakan BBM.

Sembari melakukan berbagai tindakan tersebut, pemerintah harus konsisten mengembangkan energi alternatif yang didominasi energi nonfosil, yang terbarukan dan tidak habis, serta menjamin tersedianya sejak hulu hingga hilir. Persoalannya, sejak kita mengalami krisis BBM, tidak terdengar dan terlihat program pemerintah mengembangkan energi alternatif.

Tanpa menafikan ledakan tabung gas di beberapa lokasi, pemerintah sukses mengonversi penggunaan BBM dari minyak tanah ke elpiji. Seharusnya, pemerintah juga bisa mengonversi penggunaan energi dari fosil ke nonfosil. Apalagi, penjuru Nusantara mengandung kekayaan sumber energi yang bisa dimanfaatkan sebagai alternatif.

Era minyak yang murah, berakhir. Kenyataan yang harus dihadapi. Tetapi, pemerintah jangan bunuh diri, karena mementingkan popularitas dan pencitraan ketimbang rasionalitas. Akibatnya, pemerintah tercekik politik anggaran buatannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: