imsitumeang

Bencana dan Karakter Jepang

In Uncategorized on f 11, 11 at 1:38 am

Jepang kesulitan. Tapi, Jepang bisa bangkit berkat kekuatan, kecerdikan, dan semangat setelah tertimpa bencana gempa, tsunami, dan krisis nuklir. Bencana dahsyat yang terjadinya sekaligus. Mereka membuktikan. Luluh lantak dijatuhi bom atom di Hiroshima dan Nagasaki oleh negara-negara sekutu Amerika Serikat tahun 1945, mereka bertahan hidup kembali. Jepang berjuang dalam suasana duka.

Sejarah peradaban dunia mencatat, Jepang berhasil melalui masa sulit karena karakternya kuat, tegar, dan solider. Semangat gambaru menguatkan Jepang setiap menghadapi kesulitan. Gambaru berarti semangat untuk bertahan dan berusaha habis-habisan. Berbekal semangat gambaru, sekompleks apa pun persoalan, mereka harus memenanginya.

Karakter Jepang menginspirasi Indonesia yang hidup di kawasan Cincin Api (Ring of Fire) Pasifik yang rawan bencana gempa, tsunami, dan letusan gunung berapi. Sebetulnya, kita memiliki semangat gambaru tatkala gempa di Yogyakarta (2006) dan letusan Gunung Merapi (2010), juga tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam (2004). Indonesia memiliki keteguhan, ketegaran, dan solidaritas seperti Jepang.

Semangat bertahan dan berusaha habis-habisan menjadi relevan tatkala kita menghadapi tantangan dan persoalan akut yang tidak terbatas ancaman bencana, yaitu kemiskinan yang dialami petani, nelayan, dan buruh. Kita harus memiliki semangat bertahan dan berusaha habis-habisan untuk memeranginya.

Persoalannya, budaya Indonesia yang cenderung cepat lelah, suka santai, dan kurang tegar, serta tidak biasa bersaing. Apa atau bagaimana kita bersikap dan bertindak jika menghadapi ujian sehebat persoalan Jepang, kita gagap menjawabnya. Entah berapa sering bencana menimpa Indonesia, pemerintah tidak sigap menanggulanginya. Rakyat yang tertimpa bencana dibiarkan merana dan sebagian rakyat yang lain acuh tak acuh.

Ketangguhan Jepang memukau dunia ketika menghadapi tiga bencana sekaligus. Reputasinya sebagai negara-bangsa yang kuat, tegas, dan solider dipuji internasional. Pemerintahnya sigap dan rakyat, baik yang tertimpa bencana maupun yang tidak tertimpa bencana, ibarat senasib sepenanggungan.

Pemerintah Jepang memacu proses evakuasi korban dan distribusi bantuan ke daerah bencana yang belum terjangkau. Mereka mengerahkan sumberdaya ke Jepang timur laut, wilayah yang terparah. Evakuasi korban bencana gempa dan tsunami seiring evakuasi warga yang terancam radiasi nuklir sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi, utara Tokyo.

Mereka sempat panik, wajar. Tapi, Jepang cepat bangkit mengerahkan seluruh sumberdayanya, mulai dari tentara, kapal, sampai ke pesawat. Misalnya, Pemerintah Jepang mengerahkan tentara dua kali lipat jumlahnya, dari 51.000 personel ke 100.000 personel. 145 rumah sakit, dari 170 rumah sakit di seluruh daerah bencana, beroperasi.

Sekalipun kelaparan dan kehausan mendera jutaan orang di sepanjang ribuan kilometer pantai timur Pulau Honshu dan pulau lain di Jepang, para korban tertib menanti distribusi logistik. Mereka antri! Hingga hari keempat pascabencana, tidak terjadi aksi penjarahan atau tindakan tercela lainnya, yang menguatkan citra Jepang sebagai “beradab”.

Warga Jepang tenang menghadapi persoalan akibat bencana. Mereka sabar meski berduka akibat kehilangan orang-orang terkasih dan tersayang, kehancuran harta benda yang dimiliki setelah bekerja bertahun-tahun. Pemerintah pun fokus menangani evakuasi korban dan distribusi bantuan, serta penyelamatan.

Bahaya terpapar radiasi nuklir akibat ledakan dan kebakaran reaktor PLTN Fukushima Daiichi. Jepang belajar dari kasus Chernobyl tahun 1986 dan membangun PLTN-nya lebih baik. Pemerintah menjamin tidak terjadi insiden Chernobyl di Jepang. Kecelakaan nuklir Chernobyl dikritik bahwa Pemerintah Soviet kurang siap dan didebat keamanan PLTN di banyak negara.

Televisi, koran, majalah, radio, dan situs Jepang merilis berita bencana. Jepang mengabarkannya ke penjuru dunia. Media massanya menyebarkan informasi seketika, serentak, mondial, dan interaktif. Televisi, misalnya, merekam kejadian dan momen dramatis yang mendebarkan detik demi detik, jam per jam, sejak awal gempa, tsunami, hingga akhir air bah “diam”. Sungguh mengharukan! Dramatis. Tapi membuat iri, kok Jepang bisa? Amerika Serikat saja tidak bisa!

Elisabeth Byrs, juru bicara Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), menyatakan, ”Perserikatan Bangsa-Bangsa belum mengambil langkah-langkah selama belum ada permintaan. Jepang adalah negara paling siap di dunia (menghadapi bencana).” Ia melanjutkan, ”Jepang menanggapi tiga darurat sekaligus, yakni gempa, tsunami, dan ancaman nuklir, dan melakukannya dengan sangat baik.”

Sembari memuji-muji Jepang yang tabah (stoic), kita mempertanyakan kemampuan Indonesia dan bangsa lain, terutama di Barat, jika ditimpa tiga bencana yang dahsyat sekaligus. Profesor Harvard University, Joseph Nye, menyebut, bencana menjadikan Jepang yang soft power, istilah bagi keberhasilan Jepang mencapai tujuannya dan menarik perhatian bangsa lain. “Meski dilanda tragedi dahsyat, peristiwa menyedihkan, ada fitur-fitur yang sangat menarik dari Jepang,” Nye mengatakannya ke AFP.

“Terlalu dini memprediksi apakah mereka berhasil memulihkan ekonomi. Tapi, dilihat dari jauh, rakyat Jepang memperlihatkan ketabahan saat krisis,” ujar Wakil Direktur Center for Strategic and International Studies Nicholas Szechenyi.

Saat bencana dan tragedi kemanusiaan menimpa sebuah bangsa, citra Jepang justru bertambah atau memperoleh keuntungan. Pakistan, misalnya, menerima bantuan Amerika Serikat dan negara lain setelah dilanda banjir bandang tahun lalu. Tapi, bantuan tersebut tidak mengubah citra Pakistan sebagai bangsa yang kuat, tegar, dan solider di mata dunia. Juga Bangladesh. China dan Haiti dikritik ketika menangani gempa bumi tahun 2008 dan 2009.

Dari kemajuan teknologi dan pengetahuan Jepang, negara-negara Asia yang termasuk kelompok negara yang pertama-tama berkembang dari negara terbelakang, berkembang, ke negara industri, kita menimba pengalamannya. Dari Jepang kita mempelajari bagaimana menghadapi gempa, tsunami, dan krisis nuklir. Berkat sikap dan tindak Jepang yang cerdas dan maju, kita seharusnya sanggup menghadapi bencana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: