imsitumeang

Intervensi Barat di Libya

In Uncategorized on f 30, 11 at 12:50 pm

Krisis Libya kian memburuk. Bangsa Libya terpecah antara kelompok pendukung dan penentang Moammar Khadafy. Khadafy merekayasa perpecahan untuk mempertahankan kekuasaannya yang diguncang oleh gerakan protes rakyat.

Awalnya, ia memerintahkan pasukannya menghadapi kaum demonstran. Represif. Tembakan brutal pasukannya yang menewaskan ratusan orang, mungkin lebih 1.000 orang, ternyata gagal meredam gelombang demonstrasi. Ia pun terdesak.

Bukannya mundur, Khadafy justru menggalang kekuatan kelompok pendukungnya untuk dibenturkan dengan kelompok penentangnya. Akhirnya, bangsa Libya terpecah-pecah yang memicu perang saudara. Perang saudara yang ganas. Khadafy mengerahkan rudal, tank, senjata, dan jet tempur. Pembunuhan dilakukan tentara Libya dan tentara bayaran Libya.

Pemimpin dunia mengecam aksi brutal Khadafy, karena demi mempertahankan kekuasaannya, ia sampai hati membunuh rakyatnya. Ia mempertahankan kekuasaannya agar tak tumbang, seperti penguasa di Tunisia dan Mesir. Rupa-rupanya kekuasaan lebih penting bagi Khadafy ketimbang kepentingan rakyatnya.

Upaya Khadafy diperkirakan gagal, karena kelompok penentangnya tidak menakuti intimidasi represif Khadafy. Kejatuhannya tinggal menunggu waktu. Jangan-jangan nasib Khadafy jauh lebih buruk ketimbang akhir riwayat penguasa Tunisia dan Mesir. Khadafy bisa saja menghadapi pengadilan rakyat di tengah kekacauan.

Perkembangan di Libya menjadi keprihatinan internasional. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mengeluarkan sanksi. Kali ini, semua anggota DK PBB bersatu pendapatnya, tanpa abstain. China dan Rusia yang kasus-kasus lainnya kerap berbeda pendapat, misalnya, tanpa ragu-ragu mendukung sanksi.

Selain itu, DK PBB membekukan aset-aset pemimpin Libya dan melarang 16 pemimpin Libya, termasuk Khadafy, dan sejumlah anggota keluarganya meninggalkan Libya. DK PBB menerapkan embargo senjata terhadap Libya dan melarang setiap negara anggota PBB mengirimkan tentara bayaran ke Libya.

DK PBB meminta Pengadilan Kriminal Internasional (International Criminal Court) untuk menginvestigasi kejahatan kemanusiaan terhadap penduduk selama pergolakan. Rusia dan China, yang bukan anggota ICC, mendukungnya. Amerika Serikat, yang bukan anggota ICC, juga mendukungnya.

Sanksi terhadap Khadafy adalah pas. Memang begitu seharusnya. Tindakan tegas DK PBB tidak lain menghentikan berlanjutnya pembunuhan yang dilakukan tentara Libya dan tentara bayaran Libya.

Barat pun mengirim kapal perang ke dekat wilayah Libya di Laut Tengah untuk mengantisipasi situasi dan kondisi yang lebih memburuk. Yang dipertanyakan, apakah operasi sekadar menegakkan zona larangan terbang, melumpuhkan angkatan udara Khadafy, atau menggulingkan Khadafy. Kalau tujuannya menggulingkan kolonel yang berkuasa lebih 41 tahun, urusan bisa lama.

Resolusi 1973 DK PBB ditanggapi pro-kontra. Ada negara yang marah, karena pelaksanaannya menyimpang. Bagi Presiden Rusia Vladimir Putin, misalnya, Resolusi 1973 “cacat dan keliru”. Ia menyebut aksi koalisi militer Barat, yang dimotori Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis, bak “seruan Perang Salib di Zaman Pertengahan”.

Resolusi yang disetujui oleh Liga Arab memberi kewenangan “mengambil semua langkah yang diperlukan” untuk melindungi rakyat Libya dari tentara pro-Khadafy. DK PBB menyatakan bahwa tindakan rezim Khadafy terhadap rakyatnya—yang disebut Pemerintah Libya sebagai pemberontak—terkategori “kejahatan terhadap kemanusiaan”. Karenanya, harus dihentikan.

Dari 15 negara anggota DK PBB, 10 negara di antaranya mendukung resolusi tersebut. Tidak satu pun yang menentang. Tetapi, lima negara—yakni Brasil, China, Jerman, India, dan Rusia—abstain.

Yang menjadi persoalan adalah pelaksanaan resolusi. Berbekal resolusi, koalisi militer mengerahkan kekuatan untuk menghentikan gerakan pendukung Khadafy. Penggunaan kekuatan militer itulah—apalagi banyak berjatuhan korban jiwa—yang mendorong sikap penentangan, bahkan pengecaman, terhadap aksi koalisi militer. Bahkan, Liga Arab yang awalnya mendukung sanksi, akhirnya mengecam.

Negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis yang tergabung koalisi militer, memiliki kemampuan militer yang lebih jika menyerang Khadafy, seperti Presiden George Walker Bush yang menyerang Saddam Hussein di Irak. Tapi, kecil kemungkinan mereka melancarkan aksi militer gaya cowboy Bush, kecuali perkembangan lebih memburuk.

Koalisi militer mudah menyerang Libya ketimbang Afganistan, karena wilayah geografisnya berbatasan dengan Laut Tengah. Kekuatan militer hanya satu faktor yang ditimbang Barat. Setelah lama terperangkap di Irak dan Afganistan, pemimpin Barat lebih banyak menimbang konsekuensi terlibat konflik yang baru.

Faktor lain yang ditimbang adalah pandangan dunia Arab bahwa krisis Libya hanya urusan internal dunia Arab dan kekuatan asing jangan mencampurinya. Liga Arab pun menyatakan, pemimpin Libya harus menghentikan kekerasan, menghormati “hak sah” rakyat. Lalu, Liga Arab menangguhkan partisipasi Libya, karena kekejaman aparat keamanan Khadafy terhadap rakyat yang memprotes kekuasaannya.

Perkembangan Libya memasuki tahap kritis. Perang saudara mencapai skala yang penuh. Maka, Barat termotivasi turun tangan. Pertimbangan lainnya, Libya adalah salah satu pemasok minyak yang penting di dunia, karena menghasilkan kurang lebih 1,6 juta barel minyak per hari. Sekarang saja dunia merasakan dampak geger politik di Timur Tengah dan Afrika Utara, yaitu harga minyak yang terus membubung.

Jadi, di satu sisi masuk akal kalau negara-negara Arab menginginkan penyelesaian urusan internal mereka. Namun, di lain sisi masuk akal juga kalau negara-negara Barat, yang banyak bergantung minyak, berkepentingan agar konflik tidak berlarut-larut di Libya.

Berbagai desakan disampaikan kepada Khadafy, tetapi ia tidak menggubrisnya. Khadafy juga tidak menggubris resolusi DK PBB. Dengan dalih menjaga pelaksanaan zona larangan terbang, Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris melancarkan serangan ke Libya. Intervensi militer bertujuan untuk memastikan pesawat Libya tidak terbang lagi dalam misi menyerang penentang Khadafy.

Tindakan Khadafy patut dikecam tapi sikapnya tidak mempedulikan desakan internasional agar segera menghentikan kekejaman terhadap rakyatnya sendiri. Kebrutalan pasukan Khadafy tidak boleh dibiarkan. Bagaimana caranya? Sekalipun tidak gampang memilih cara terbaik, opsi militer mengandung potensi memperburuk keadaan.

Apa pun alasannya, penggunaan aksi militer, lebih-lebih yang bersifat intervensi, merupakan opsi terburuk. Penggunaan kekuatan militer senantiasa mengundang korban jiwa dan kerugian harta yang tidak sedikit. Tetap menjadi pertanyaan, apakah serangan ke Libya menghentikan keganasan pasukan Khadafy? Dalam reaksinya, Khadafy menyatakan tidak mau tunduk terhadap tekanan Barat, antara lain ia mempersenjatai pendukungnya.

Perlawanan Khadafy membuat perkembangan di Libya bertambah runyam. Khadafy, yang enggan kehilangan kekuasaan, memerintahkan pasukan pendukung dan tentara sewaannya menyerang kaum penentang dari udara, darat, dan laut.

Tapi, gelombang serangan Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris pastinya diikuti gelombang berikutnya. Sementara intervensi militer gagal di Irak dan Afganistan. Menjadi pertanyaan sejauh mana intervensi militer menyelesaikan krisis Libya. Persoalan Libya justru bertambah rumit. Menjatuhkan Khadafy hanya mengakibatkan perpecahan di negeri tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: