imsitumeang

Pemimpin yang Narsistik

In Uncategorized on f 25, 11 at 8:59 am

APA akibatnya jika sebuah negara dikelola seorang pemimpin yang narsistik alias penganut narsisme? Mengerikan! Marilah kita membayangkan, seorang pemimpin yang kegemarannya hanya mematut-matut penampilan dan kesibukannya hanya menyedot-nyedot perhatian ketimbang bersibuk-sibuk membaiki performa kepresidenan beserta kabinetnya.

Menjadi kebutuhan psikologis bila pemimpin membutuhkan narsisme tapi sedikit saja. Tentunya, pemimpin harus merasa bahwa penampilannya nyaman bagi pribadinya dan orang-orang sekitarnya, percaya diri, dan bekerja sebaik-baiknya. Tetapi narsisme jangan kebablasan. Narsisme harus dikendalikan.

Keinginan agar bisa lama berkuasa, misalnya, adalah narsisme yang bablas. Sang pemimpin yang terlalu mencintai tahta menjadikan dirinya pusat kekuasaan, menyebabkan ia ogah berbagi kekuasaan. Apalagi ia menolak jika konstitusi membatasi kekuasaannya atau syahwat kekuasaannya dibatasi, sehingga ia terpaksa diturunkan oleh rakyatnya.

Presiden Mesir Hosni Mubarak contoh mutakhirnya. Tapi agaknya bukan yang terakhir, karena riwayat beberapa pemimpin tidak membikin jera mereka. Jelasnya, Mubarak tidak mengambil hikmah kejatuhan Presiden Soeharto dan Ferdinand Edralín Marcos.

Ringkasnya, pemimpin harus keluar dari “keegoan”. Narsisme harus berganti menjadi altruisme, yaitu pemimpin berkuasa bagi kepentingan orang lain. Bukan pribadi tapi umum. Salah satu kualitas altruisme adalah tanpa pamrih. Memberi tanpa meminta, berkorban tanpa imbalan.

Kiranya, pemimpin altruistis semakin langka di negeri kita. Bahkan, sistem politik sengaja membunuhnya. Sekarang tidak ada anak bangsa yang menjadi pemimpin tanpa jual beli. Kekuasaan diraih melalui politik transaksi dan politik uang. Hampir tak tersisa jabatan melalui pemilihan umum tanpa “investasi”, entah berbentuk barang ataupun jasa.

Akibatnya, korupsi menjadi penyakit penyelenggara negara. Seperti anggota dewan perwakilan rakyat (DPR) dan gubernur/bupati/walikota yang menjabat melalui pemilihan umum.

Lainnya, penyelenggara negara menyalahgunakan kekuasaannya. Seperti bupati/walikota “menjual” formasi bagi calon pegawai negeri sipil berharga minimal Rp100 juta. Mereka melakukannya agar cepat mengembalikan modalnya yang jor-joran ketika pemilihan umum. Makanya, adalah bijak menimbang kembali usulan agar kepala daerah dipilih oleh dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD).

Kita harus menumbuhkembangkan kesadaran warga agar tidak memilih pemimpin yang narsistik. Kita harus memilih pemimpin yang memiliki kinerja lebih produktif, suasana dan iklim lebih kondusif, komitmen lebih kuat, dan keputusan lebih cepat, tegas, tepat, adil, dan jujur.

Pemimpin harus mengambil peranan karena tangan mereka menentukan arah sejarah bangsa. Di tangan para pemimpin tersebut diputuskan hajat hidup seluruh penduduk.

Keputusan yang lebih cepat, tegas, tepat, adil, dan jujur untuk kepentingan umum bisa menyebabkan kehidupan kita menjadi lebih sehat. Sebaliknya, keputusan yang lebih lambat, ragu, salah, zalim, dan bohong untuk kepentingan pribadi disertai tindakan korup dan sempit justru menyebabkan kehidupan kita menjadi lebih sakit.

Para pemimpin di pemerintahan, mulai presiden/wakil presiden beserta menteri-menterinya, gubernur, bupati/walikota, camat, hingga kepala desa/lurah dan seluruh aparat birokrasinya hendaknya memprioritaskan kepentingan umum dan bukan kepentingan pribadi, termasuk keluarga, kongsi, atau koalisi, dalam setiap keputusannya.

Semoga para pemimpin diberi kekuatan dan kesadaran betapa krusial tanggung jawab mereka. Mereka datang dan pergi tapi Indonesia hanya bergerak di tempat, sementara bangsa lain mengagumkan kemajuannya.

Kesalahan terbesar bangsa ini adalah enggan mempelajari masa lalu. Pembeda antara orang pintar dan orang bodoh: orang pintar setiap hari melakukan kesalahan yang baru tapi orang bodoh setiap hari, setiap bulan, dan setiap tahun melakukan kesalahan yang sama. Pemimpin yang narsistik tergolong orang bodoh!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: