imsitumeang

Arah Pergolakan Timur Tengah

In Uncategorized on f 7, 11 at 6:39 am

Pergolakan di kawasan Timur Tengah sulit diramal arahnya. Tetapi, perkembangnnya dibanding-bandingkan dengan pergolakan di kawasan Eropa Timur akhir dasawarsa 1980-an. Mungkinkah peristiwa di Eropa Timur sekitar 30 tahun lalu terulang di Timur Tengah?

Gerakan prodemokrasi di Eropa Timur merontokkan satu per satu kekuasaan komunisme. Perang Dingin berakhir seiring ambruknya Uni Soviet. Perubahan besar menerjang semua negara Eropa Timur, tanpa terkecuali. Dunia pun terkesima. Gelombangnya menggulung ibarat tsunami setelah Tembok Berlin dirobohkan tahun 1989.

Bagaimana Timur Tengah? Timur Tengah tidak memiliki pusat gravitasi politik seperti Tembok Berlin. Kairo bukan Berlin. Tunis, ibukota Tunisia, berbeda dengan Berlin. Juga Sana’a, ibukota Yaman.

Kendati banyak perbedaan, tuntutan reformasi dan demokratisasi di beberapa negara Timur Tengah sekeras beberapa negara Eropa Timur akhir. Gemuruh seruannya sungguh mengusik dan menggetarkan pemimpin-pemimpin di Timur Tengah yang umumnya tidak demokratis pemerintahannya.

Apalagi, kaum demonstran tidak hanya menuntut reformasi dan demokratisasi, tetapi juga pengunduran diri pemimpin-pemimpin yang otoriter dan korup. Persoalan berikutnya tentu saja menyangkut pemindahan kekuasaan yang memberi kesempatan bagi demokratisasi, termasuk penghargaan hak asasi manusia.

Tidak sedikit pula yang mencemaskan kemungkinan militer atau kaum ekstremis membajak gerakan rakyat di Mesir atau negara-negara tetangganya. Mereka ingin mengambil alih kekuasaan. Jika terjadi maka demokratisasi sulit dilaksanakan. Persoalan lebih pelik dan krisis akan berkepanjangan.

Gerakan rakyat yang didukung kelompok dan partai oposisi—baik di Tunisia maupun Mesir—berhasil mendorong kelompok dan partai oposisi di negara-negara lainnya. Jangan sampai rakyat Mesir tidak kompak menuntut pengunduran diri Presiden Hosni Mubarak dan jangan sampai rakyat Mesir diadu domba sehingga terbagi menjadi pendukung dan penentang Mubarak.

Kenyataan yang kontras dengan gerakan di Eropa Timur yang memiliki latar belakang budaya, sosial, mentalitas, dan persoalan yang berbeda. Atas pertimbangan itu, apa yang cocok di Eropa Timur belum tentu cocok di Timur Tengah. Tetapi, Mesir selama ini dianggap sebagai “mercusuar” Dunia Arab, termasuk di bidang politik.

Bangsa-bangsa Timur Tengah diharapkan menemukan caranya masing-masing menuju demokratisasi. Tantangan mendesaknya adalah pergolakan di Mesir dan negara-negara tetangganya saat ini jangan dibiarkan berlarut-larut dan memburuk, yang berisiko dan menyebabkan pertumpahan darah yang lebih banyak.

Sejak semula dikhawatirkan bahwa gerakan rakyat menuntut pengunduran Mubarak menular ke negara-negara lain di Dunia Arab. Apa yang terjadi di Mesir juga sedikit banyak dipengaruhi oleh gerakan serupa di Tunisia. Rakyat Tunisia berhasil memaksa Presiden Ben Ali meninggalkan negerinya.

Tidak mustahil kalau pergolakan itu menggetarkan pemimpin otokratik yang selama ini erat memegang kekuasaannya dan cenderung “meredam” oposisi. Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh yang berkuasa sejak tahun 1978 mulai merasakan akibatnya. Karena itu, ia buru-buru menyatakan tidak nyalon lagi pada Pemilu 2013 dan anaknya yang semula disiapkan sebagai penggantinya pun tidak mencalonkan diri.

Raja Yordania Abdullah II juga mengambil langkah antisipatif. Sejak 12 tahun silam menggantikan ayahnya, ia delapan kali membongkar pemerintahan. Tapi, pergolakan di Tunisia, dan terutama di Mesir, telah mendorongnya untuk sekali lagi membongkar pemerintahan dan menjanjikan reformasi politik dan ekonomi.

Sebelumnya, penguasa Suriah, Bashir al-Assad, menyatakan, “Inilah saatnya untuk reformasi”. Tindakannya dilakukan setelah beredar seruan “hari perlawanan” terhadap Bashir lewat Facebook dan Twitter yang terlarang di negeri itu. Otoritas Palestina juga menyatakan akan menggelar pemilu lokal.

Tsunami demokrasi tengah melanda Timur Tengah. Dan, gelpmbang “Era Baru” cepat atau lambat segera menggulung ibarat tsunami kendati bentuknya belum begitu jelas. Namun, pemimpin-pemimpin di Timur Tengah akan tersingkir jika tidak mengakomodasi tuntutan rakyatnya dan mengambil langkah antisipatif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: