imsitumeang

Rembetan Gejolak di Dunia Arab

In Uncategorized on f 2, 11 at 12:48 pm

Akhir pergolakan negara-negara Arab di Timur Tengah sangat tergantung banyak faktor. Sudan dipasti terpecah dua negara. Pertanyaannya, apakah rezim Bashir juga bakal ditumbangkan? Ben Ali meninggalkan kekuasaannya di Tunisia. Kini, Husni Mubarak sedang bertahan.

Pergolakan di Aljazair untuk sementara bisa diredam. Tetapi, rembetan gejolak dari Tunisi mulai terasa di Yaman dan Yordania. Kita menunggu apa yang bakal terjadi di Libya dan Suriah.

Lama dikritik absennya demokrasi di negara-negara Arab. Sebagian negeri-negeri di sana dipimpin penguasa otoriter, sebagian lagi dipimpin raja dalam sistem monarki absolut. Menariknya, yang bergolak adalah negara-negara yang menghapus sistem monarki, sedangkan Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, yang berbentuk monarki absolut, tanpa gejolak.

Terdapat faktor utama yang sama di antara negara-negara yang bergolak, yakni kemiskinan dan ketimpangan. Juga ada faktor ketidakmampuan pemimpin negara-negara tersebut mengelola kepentingan negara-negara Barat.

Pasca-peristiwa 9/11 di Amerika Serikat, negara-negara Barat menggelontorkan program deradikalisasi Islam dan demokratisasi untuk sejumlah negara dan kawasan. Memang diperlukan penelitian seberapa kuat relasi antara program tersebut dan pergolakan saat ini.

Kita bersepakat bahwa demokrasi merupakan sistem yang terbaik yang ada kini. Karenanya, keharusan menerapkannya adalah keniscayaan. Tapi, demokrasi juga mengandung beberapa varian. Banyak negara digolongkan demokratis yang menerapkan sistem monarki konstitusional.

Ada negara seperti Singapura yang tak bisa digolongkan demokratis tapi perkembangannya baik. Kita juga menemukan ‘negara’ diskriminatif dan ekspansif seperti Israel yang jarang diusik, bahkan selalu disokong negara-negara Barat–yang menganggap dirinya sebagai penentu atau penilai maju mundurnya demokrasi di setiap negara.

Karenanya, isu demokrasi selalu kontradiksi dengan realitasnya. Praktiknya ada faktor kehidupan sosial, kepemimpinan politik, situasi kondisi geopolitik, dan sumberdaya alamnya. Makanya, mengapa Arab Saudi, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab bisa adem dan terhindar tekanan demokratisasi yang didesak dunia internasional.

Selebihnya adalah ketidakmampuan penguasa mengelola daya dukung di dalam negerinya. Mubarak berupaya untuk bertahan karena masih didukung militer, keadaan yang tidak dimiliki Ben Ali.

Selain itu, negara-negara Barat belum yakin bahwa penguasa yang menggantikannya bisa mengendalikan kekuatan politik yang anti-Barat seperti Ikhwanul Muslimin. Faktor ini yang dulunya tak dimiliki Saddam Hussein sebagai penguasa Irak, sehingga kendati kokoh berkuasa ia bisa diinvasi pasukan multilateral yang dipimpin Amerika Serikat.

Sedangkan, penguasa Aljazair dikaruniai keuntungan lain karena menjadi alternatif pemasok gas ke Eropa selain Rusia. Jika negeri di Afrika bagian utara juga bergolak, Eropa akan menderita karena lonjakan harga gas dan pasokannya terancam, karena kawasan Aljazair dilewati pipa-pipa gas.

Hingga kini, kita sulit memprediksi hasil pergolakan di negara-negara Arab seperti kita tak bisa mengekspektasi bagaimana Saddam atau Ben Ali ditumbangkan. Bisa jadi akan muncul keseimbangan baru yang lebih demokratis. Utamanya melunak sikapnya terhadap kepentingan Barat dan tidak mengganggu eksistensi Israel.

Kita berharap negara-negara tersebut bisa melakukan reformasi yang demokratis tanpa kehilangan integritas dan visi. Sehingga, kesejahteraan rakyatnya terpenuhi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: