imsitumeang

Jangan Lewatkan Momentum

In Uncategorized on f 6, 11 at 5:04 am

Hakikatnya, waktu adalah momentum jika kita memiliki visi dan mewujudnya melalui misi dan program. Karenanya, setiap pergantian tahun merupakan upaya untuk merebut perubahan. Untuk kesekian kalinya, kita kembali mengalamai siklus waktu.

Kita meninggalkan tahun 2010, dan kita memasuki tahun 2011. Sebuah tahun pertama dasawarsa kedua abad ke-21. Bagi banyak bangsa, awal dasawarsa kerap dimaknai sebagai awal lompatan besar.

Brasil, Rusia, India, dan China yang kini raksasa ekonomi dunia memulai perbaikan ekonominya di awal dasawarsa. Brasil, misalnya, menggunakan pendekatan bernama ekonomi pasar sosial sejak tahun 1991. Sebuah pendekatan kerakyatan yang tidak membiarkan ekonomi pasar tanpa kontrol.

Hasilnya ekonomi Brasil bertumbuh melesat. Pendapatan per kapitanya US$8.040, atau tiga kali lipat Indonesia yang US$2.700. Padahal, 30 tahun lalu, pendapatan per kapita negara berpenduduk sekitar 200 juta jiwa tersebut hanya US$1.000. Brasil juga berhasil mengangkat 29 juta jiwa penduduknya dari kemiskinan.

India juga melakukannya. Ekonominya fantastis dan mencatat rekor kedua setelah China. Kunci kesuksesannya adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Kota Bangalore, contohnya, menjadi pusat teknologi informasi dunia.

Bahkan, India dikenal sebagai pemasok ahliwan dunia. Awal dasawarsa pertama abad ke-21, dari 150 ribu pekerja asing di perusahaan information technology (IT) Amerika Serikat, 60 ribu di antaranya pakar software berdarah India.

Bagaimana Indonesia? Mampukah bangsa berpenduduk sekitar 238 juta jiwa ini merebut momentumnya di awal dasawarsa?

Jawabannya kembali kepada kemampuan, kemauan, dan ketabahan para pemangku kepentingan (stakeholders) di negeri ini untuk merebut kesempatan tesebut. Jalan menuju perekonomian yang menjanjikan itu tertata sejak tahun 2010. Indikator makroekonomi menunjukkannya.

Tahun 2010, hingga kuartal ketiga, pertumbuhan ekonomi kita 5,8%. Ekspor 15%, atau melebihi target pemerintah yang 10%. Cadangan devisa lebih US$90 miliar, sebuah rekor seumur Republik Indonesia. Yang mengkhawatirkan adalah pertumbuhan impor 17% dan inflasi 6% yang meleset dari target.

Banyak yang optimistis pertumbuhan ekonomi tahun 2011 bisa lebih tinggi. Syaratnya, pemerintah sanggup, bisa, dan konsisten menyelesaikan pekerjaan rumah yang menumpuk. Yang telah terjadi tahun 2010 tidak bisa diubah dan yang akan terjadi tahun 2011 belum dapat diketahui.

Penyediaan infrastruktur, pemberantasan korupsi, pembenahan birokrasi, peningkatan daya saing, dan penyerapan anggaran merupakan problem serius yang tidak selesai. Selain itu, pertambahan penduduk yang tinggi atau 1,49%. Idealnya, 1,2%.

Belum lagi, kasus-kasus besar yang mandeg pengusutannya tahun 2010 harus dituntaskan tahun ini. Kasus bailout Bank Century, mafia pajak Gayus Halomoan Tambunan, dan kasus-kasus lainnya, baik di level nasional maupun lokal, yang selama tahun 2010 dibiarkan stag pengusutannya harus digeber tahun ini. Kasus-kasus itu harus dituntaskan dengan mengutamakan rasa keadilan dan kebenaran.

Di tahun 2010, cukup banyak yang telah dicapai, namun jauh lebih banyak lagi yang harus dicapai tahun 2011. Kita berharap agar di tahun yang baru ini kehidupan seluruh negeri menjadi lebih baik. Untuk mewujudkannya, harapan harus didukung rencana dan kinerja yang lebih produktif, suasana dan iklim lebih kondusif, komitmen yang konsisten, serta keputusan yang lebih cepat, tegas, tepat, dan jujur.

Di sini para pemimpin berperan. Mereka menentukan arah bangsa yang menyangkut hajat hidup seluruh penduduk. Mislanya, setiap pengambilan keputusan yang cepat, tegas, tepat, dan jujur akan membuat kehidupan kita menjadi lebih baik. Sebaliknya, pengambilan keputusan yang lambat, ragu, salah, dan korup justru membuat kehidupan kita menjadi lebih buruk.

Para pemimpin di lembaga eksekutif, mulai dari presiden, wakil presiden, beserta menteri-menteri, gubernur, bupati, walikota, camat, hingga ke kepala desa dan lurah beserta aparat birokrasinya harus memprioritaskan kepentingan publik dan bukan kepentingan pribadi, keluarga, kongsi, atau koalisi dalam pengambilan keputusan.

Demikian pula, para pemimpin di lembaga legislatif dan yudikatif harus meningkatkan performanya, baik kuantitatif maupun kualitatif.

Kesalahan terbesar bangsa ini adalah ogah atau malas belajar dari masa lalu, atau terlalu banyak kepentingan yang ikut campur. Jika orang pintar setiap hari membuat kesalahan yang baru maka orang bodoh adalah mereka yang setiap hari, setiap pekan, setiap bulan, dan setiap tahun melakukan kesalahan yang sama.

Tahun berganti, para pemimpin datang dan pergi, tetapi bangsa ini seperti jalan di tempat. Sementara bangsa lain melaju yang kecepatannya mengagumkan. Jika berbagai urusan tidak kelar, momentumnya akan lewat. Alhasil, kita hanya menjadi bangsa penonton yang bersorak melihat bangsa-bangsa lain melesat.

Peralihan masa dari Orde Baru ke Orde Reformasi menyajikan secercah harapan bagi kehidupan yang sungguh-sungguh demokratis. Tetapi, ketika usia orde reformasi lebih satu dasawarsa, kita justru menyaksikan praktik demokrasi semu dan bukan demokrasi konkrit, demokrasi prosedural dan bukan demokrasi substansial.

Kita harus menjadikan tahun 2011 sebagai era konsolidasi demokrasi. Hanya dengan konsolidasi demokrasi, politik di negara ini akan bisa beralih dari politik transaksional ke politik transformatif yang berpijak dan berpihak pada kepentingan rakyat.

Dan, demokrasi di negeri ini sungguh-sungguh telah beranjak dari demokrasi prosedural ke demokrasi substansial hanya jika praktik politiknya telah berpijak dan berpihak pada kepentingan rakyat, bukan kepentingan kekuasaan belaka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: