imsitumeang

Tahun Baru Juga Resolusi Baru

In Uncategorized on f 3, 11 at 5:23 am

Dunia menggelar upacara massal menyambut pergantian tahun. Ucapan selamat tahun baru bertebaran di seluruh penjuru dunia nyata maupun maya. Tempat-tempat ibadah dipenuhi kegiatan retrospektif untuk berefleksi kejadian satu tahun ke belakang. Tempat-tempat hiburan dipenuhi acara dekoratif yang menandai pergantian tahun.

Memang penting menandai pergantian tahun. Setidaknya, tanda tersebut mengingatkan kita semua perguliran waktu yang menjadi faktor pengukur kemajuan dan kemunduran seorang manusia, juga perkembangan peradaban. Perputaran waktu juga menjadi unsur bagi perwujudan visi sebuah bangsa.

Cendekiawan Mesir, Hasan Al Bana, membuat ungkapan perjalanan waktu dalam kalimat yang sederhana. “Kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin. Kenyataan esok adalah mimpi hari ini,” begitu ungkapannya. Kalimat sederhana yang bermakna betapa penting visi umat manusia untuk mengawal peradaban.

Untuk memandang hidup seorang manusia di masa mendatang, visi yang bersifat individu barangkali mencukupi. Sedangkan untuk memandang hidup sebuah, seperti Indonesia, yang visi yang bersifat individual tidak mencukupi, melainkan visi bersama atau kolektivitas. Kita memerlukan mimpi yang sama untuk memandu perkembangan peradaban bangsa Indonesia.

Berkali-kali kita di Indonesia melintasi malam pergantian tahun dengan gegap gempita, tak terkecuali malam pergantian tahun yang baru saja berlalu. Dalam setiap pergantian tahun, bangsa Indonesia tidak memiliki visi bersama untuk mengawal perjalanan memasuki tahun yang baru. Lebih sering dan lebih mudah dibaca catatan-catatan yang dibuat bangsa Indonesia adalah perjalanan satu tahun ke belakang.

Memandang ke belakang, sesekali memang diperlukan, tapi kita lebih sering memerlukan untuk memandang ke depan ketika kita menempuh perjalanan. Mengarahkan bangsa Indonesia untuk menempuh perjalanan ke depan belum banyak terwakili oleh sekian banyak outlook yang dibuat berbagai institusi.

Masalahnya, masing-masing institusi memandang lewat kacamatanya. Mereka yang bergelut di dunia bisnis, pandangannya melalui kacamata bisnis. Demikian pula komunitas politik, seni, olahraga, dan berbagai kalangan lainnya, lebih senang memandang dengan teropong masing-masing. Celalanya, terbuka kemungkinan teropong yang dipimpin tidak sama dengan teropong yang memimpin.

Jika begitu, tentunya tidak mudah menentukan arah bangsa Indonesia. Padahal, mimpi atau cita-cita, dan semua konsep yang mengarah ke depan menjadi panduan untuk bergerak. Rubrik Leaders majalah The Economist edisi 18 Desember 2010 membuat catatannya dalam artikel berjudul Redistribution of Hope.

Majalah mengungkap survei Pew Research Center yang menggambarkan persepsi masyarakat tentang perjalanan bangsanya. Dari survei terungkap bahwa sepanjang tahun 2010 sebanyak 87% warga Cina melihat perjalanan bangsanya berada di jalur yang benar.

Sebanyak 45% warga India melihat perjalanan bangsanya berada di jalur yang benar. Hanya 30% warga Amerika, 31% warga Inggris, dan 26% warga Perancis yang melihat perjalannya bangsanya berada di jalur yang benar.

Hasilnya, di tahun yang sama, ekonomi Cina mengalami pertumbuhan 10% dan India 9%. Sementara itu, ekonomi Amerika hanya 3% dan seluruh Eropa rata-rata 2%. Berapa persen warga Indonesia yang meyakini perjalanan bangsanya berada di jalur yang benar?

Begitu kuatnya hubungan antara harapan dan hasil yang dicapai, The Economist kemudian mempunyai kesimpulan lain. Harapan tidak lagi dikategorikan sebagai istilah sesuatu yang belum terjadi tapi sudah menjadi bagian gerakan yang sedang terjadi. Tanpa terwujud harapan bersama, tidak mudah menggerakkan potensi sumberdaya sebuah bangsa menuju peradabannya.

Setelah meninggalkan tahun 2010 dan memasuki tahun 2011, ternyata masih banyak urusan yang semestinya bisa diselesaikan tetapi tetap menjadi urusan di tahun berikutnya. Sekalipun secara umum kita melewati tahun 2010 dengan baik, tapi dari sisi ekonomi pertumbuhan negara kita tidak sekinclong negara tetangga. Pertumbuhannya pun tidak diiringi pemerataan, sehingga kesenjangan ekonomi justru makin melebar.

Dari sisi hukum, banyak pejabat negara yang terjerat kasus pidana, khususnya korupsi. Beberapa sudah divonis, tapi masih banyak sisanya. Kasus Bank Century sampai sekarang macet, begitu pun rekening gendut para jenderal Kepolisian, kasus pajak Gayus Tambunan dan perusahaan-perusahaan yang menilep pajak, masih banyak lagi yang semuanya gelap. Permerintah tak bernyali atau sengaja membiarkan kasus-kasus itu tidak diungkap.

Di sisi pendidikan, meskipun alokasi dana hampir Rp 200 triliun, tetapi masih banyak anak-anak yang tidak sekolah karena tak mampu membayar. Uang kuliah juga melonjak dan mencekik mahasiswa atau calon mahasiswa, sehingga hanya orang-orang yang mampu yang kuliah. Pendidikan belum berpihak kepada masyarakat umum.

Dari sisi politik, masyarakat makin jengah dan jenuh karena perilaku para politisi. Para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), misalnya, malas menghadiri rapat/sidang dan tumpul responsivitasnya terhadap kebutuhan mendesak rakyat. Mereka lebih suka beranjangsana ke luar negeri ketimbang kunjungan kerja di dalam negeri, mereka lebih suka membuat isu-isu baru ketimbang mematangkan revisi undang-undang. Politik dagang sapi juga makin kental untuk meraih kekuasaan. Para politisi tidak pernah memikirkan rakyat yang notabene adalah konstituen mereka.

Dari sisi olahraga, kita baru saja disuguhi semangat sportivitas oleh tim nasional sepakbola dan para suporternya. Meskipun gagal menjadi juara Piala AFF, tetapi semangat mereka untuk bermain yang optimal begitu terlihat, pantang menyerah. Begitu juga suporternya yang menjunjung sportivitas. Urusan sepakbola yang belum selesai adalah memilih pengurus yang profesional, steril dari kepentingan politik.

Bagaimana kita memaknai pergantian tahun? Yang lazim, peringatan tahun baru disambut gegap gempita. Tahun baru identik dengan kemeriahan. Tak mengherankan, banyak digelar acara hura-hura, mulai dari kelas puluhan ribu ke kelas puluhan juta rupiah, bahkan sampai ratusan juta. Mulai dari panggung terbuka, kafe, ke hotel kelas premium.

Apakah tahun baru harus disambut dengan pesta yang mengamburkan begitu banyak uang? Semestinya tidak. Bahkan sebaiknya, menjelang tahun baru kita mengintrospeksi tentang apa yang telah kita lakukan di tahun yang bakal ditinggalkan dan apa yang akan kita lakukan di tahun yang bakal dimasuki. Kita introspeksi: jika baik, harus ditingkatkan; jika buruk, harus diperbaiki.

Pergantian tahun ini bukan sekadar penanda kita memasuki tahun yang baru dan meninggalkan tahun yang lama. Perputaran waktu menjadi momentum untuk menentukan mimpi dan cita-cita bersama di masa mendatang. Semoga urusan yang diwarisi dari tahun 2010 bisa diselesaikan tahun 2011, tidak lagi diwariskan ke tahun 2012. Tahun baru menjadi tahun resolusi. Selamat tahun baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: