imsitumeang

Euforia Sepakbola

In Uncategorized on f 31, 10 at 5:14 am

Pecinta sepakbola di Indonesia sedang euforia. Sepakbola memabukkan mereka. Tidak saja euforia di lapangan stadion, tetapi lebih banyak lagi yang euforia di luar lapangan stadion. Kemenangan kesebelasan Indonesia selama laga penyisihan dan semifinal Piala Suzuki, dulu disebut Piala Tiger, membuat para pemain terekspose.

Tiba-tiba para pemain tim nasional menjadi selebritas yang dielu-elu. Publik Indonesia, termasuk para pemimpin dan elite serta media massa, memperlakukan mereka seolah-olah telah juara dunia. Makanya, banyak waktu dihabiskan di luar lapangan. Mulai wawancara dengan media massa, sarapan pagi dengan keluarga yang mengaku berjasa banyak dalam sepakbola, hingga istigasah.

“Tidak ada pertandingan yang mudah. Semua pemain harus berkonsentrasi penuh di setiap pertandingan,” kata Manajer Manchester United (MU) Sir Alex Ferguson.

Kemenangan dan ekspose benar-benar euforia hingga kita tersadarkan setelah tim nasional ditekuk Malaysia tiga gol tanpa balas di leg pertama final sistem home and away. Markus, sang penjaga gawang, marah karena matanya diganggu sinar laser penonton Malaysia yang iseng. Di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, tim nasional Indonesia seperti pasukan yang teler. Mirip pemain kelas kampung.

Masih ada harapan Indonesia menjadi juara walaupun tipis karena harus mengalahkan Malaysia dengan selisih empat gol. Mau tidak mau, di leg kedua tim nasional Indonesia harus membalas agar agregatnya menjadi 4-3. Di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Indonesia, tim nasional harus seperti pasukan yang kuat dan cepat. Tidak lagi mirip pemain kelas kampung. Tapi, apa mau dikata, mereka hanya mampu menang 2;1. Piala pun milik Malaysia.

Gejala eforia juga terlihat menjelang home di Jakarta. Terjadi peristiwa terparah di luar Stadion Gelora Bung Karno, bukan saat pertandingan melainkan sebelumnya. Para penonton rebutan tiket pertandingan leg kedua. Massa kehilangan akal sehat karena terbuai kebanggaan pada ‘Garuda’. Para pemimpin negeri ini memakluminya sebagai gejala kemunculan nasionalisme yang mengalami defisit belakangan ini.

Stadion dirusak, rumput diinjak, dan petugas tiket digebuk sampai pingsan. Bahkan, ada pengantre yang meninggal. PSSI membuktikan dirinya sebagai organisasi yang tidak memahami kerja. Molor waktu penjualan, jumlah petugas tiket yang tidak berimbang dengan jumlah peminat, serta kealpaan jajaran PSSI yang bertanggung jawab di lapangan melengkapi inkompetensi PSSI.

Segala sesuatu yang overdosis pasti menimbulkan malapetaka. Manakah bagian yang overdosis? Publik, para pemimpin dan elite serta media massa terlalu menyeret sepakbola kita ke urusan di luar lapangan stadion atas nama macam-macam kepentingan. Padahal, sepakbola adalah, terutama, persoalan kompetensi di lapangan stadion.

Publik harus menggunakan akal sehat untuk mengapresiasi kemenangan dan kekalahan. Proporsionalitas menyelamatkan kualitas sepakbola karena dia hidup di tengah publik yang berkualitas juga. Tim nasional dan publik, termasuk para pemimpin dan elite serta media massa, akan menderita kalau semuanya euforia.

Apalagi, cita-cita kita masih jauh, yakni bermain di Piala Dunia sekaligus menjadi tuan rumahnya. Setelah diskualifikasi tahun 2022, Indonesia bersama Malaysia mencoba untuk tahun 2026. Bermain di Piala Dunia dan menjadi tuan rumah tentu saja menarik. Tapi, menuju ke sana kita harus melewati kompetisi yang seru karena mulai banyak negara yang memiliki reputasi persepakbolaan.

Keinginan menjadi tuan rumah harus didukung oleh prestasi. Padahal, harus diakui, prestasi kita, untuk level Asia saja, masih di bawah. Jujur, kita malah sering merasakan kemunduran prestasi. Alih-alih prestasi semakin berkembang, yang justru sering adalah baku hantam para pendukung kesebelasan. Ada wasit yang diperlakukan tidak sepantasnya, ada penonton yang gregetan lalu berlari di tengah lapanan dan menyarangkan bola, ada polisi yang mencampuri pertandingan, dan sebagainya.

Tentu, akan menyenangkan jika satu saat nanti, apakah tahun 2026 atau setelahnya, Indonesia bermain di Piala Dunia dan menjadi tuan rumahnya. Mumpung masih banyak waktu, pertama-tama kita harus memberesi persepakbolaan di dalam negeri. Kalau sudah ada tanda-tanda prestasi makin bagus, pembinaan makin apik, dan fasilitas olahraga juga makin baik, kita jauh lebih bangga mengenakan atribut ‘merah putih’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: