imsitumeang

WikiLeaks, Diplomasi, dan Dunia Penuh Curiga

In Uncategorized on f 30, 10 at 7:00 am

Pembocoran informasi oleh situs WikiLeaks membuat merah padam wajah Amerika Serikat. Dokumen berklasifikasi “rahasia” jatuh ke tangan pihak yang tidak berwenang. Kalau saja dokumen milik negara yang tidak canggih menangani informasi, kita mudah mengerti. Tapi, yang mengalami kebocoran informasi adalah negara yang maju teknologinya.

Dari kawat diplomatik antara kedutaan Amerika Serikat di sejumlah negara dan Washington DC, dunia mengetahui apa dan bagaimana penilaian diplomat Amerika Serikat tentang pemimpin dunia, yang banyak di antaranya sahabat-sahabat Amerika Serikat. Ada mengomentari kanselir Jerman, presiden Perancis, dan perdana menteri Inggris. Kalau hanya mengomentari pemimpin, di negara demokrasi itu lumrah. Yang menghebohkan, pemimpin negara-negara Arab atau Timur Tengah mengimbau Amerika Serikat untuk menyerang Iran guna menghentikan program nuklirnya.

Dalam persoalan menilai pemimpin, yang jadi kikuk adalah Amerika Serikat; sedangkan untuk persoalan Iran, tak disangsikan lagi yang terbongkar sikapnya adalah negara-negara Arab. Negara-negara Arab sahabat Amerika Serikat memilih tidak mengomentari informasi yang dibocorkan. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton meyakini hubungan diplomatik bisa menahan keguncangan antara Amerika Serikat dengan negara yang disebut-sebut.

Di luar reaksi, baik di negara-negara yang pemimpinnya disebut-sebut dalam kawat maupun di Amerika Serikat, pengamat internasional dan diplomasi bisa membandingkan apa yang disampaikan Amerika Serikat dalam diplomasinya, dan apa yang sebenarnya isi hati Amerika Serikat.

Untuk negara-negara Arab, ternyata apa yang dibicarakan di forum-forum internasional dan diplomasi berlainan dengan apa yang terungkap di belakang layar. Seperti dikutip International Herald Tribune, mana berani negara-negara Arab menyampaikan imbauan kepada Amerika Serikat untuk menyerang Iran. Masyarakat dunia mengetahui bagaimana sikap Arab Saudi terhadap Iran, misalnya.

Sekarang, masyarakat dunia juga mengetahui apa yang terjadi sebelum Israel menyerang Gaza; bagaimana hubungan antara presiden dan perdana menteri Rusia; bagaimana kebiasaan pemimpin Libya; bagaimana mafia di Rusia; bagaimana Amerika Serikat berusaha untuk mencampuri urusan di banyak negara; banyak persoalan lain menyangkut China, bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Banyak yang diketahui masyarakat dunia, sekurang-kurangnya mempertegas bahwa Amerika Serikat selalu ingin menjadi polisi di mana-mana.

Di luar reaksi juga, kita memahami maksud dan tujuan pembocoran oleh WikiLeaks sebagai bukti kuatnya visi Julian Assange, pendiri dan pemimpin redaksi situs yang kini amat masyhur di dunia. Dia sungguh berani, padahal Amerika Serikat sudah memperingatkan sebelum ia membocorkan isi kawat.

Kita memahami misi WikiLeaks, bahwa pembocoran isi kawat dilakukan untuk memerangi korupsi pemerintah dan korporasi. Mereka menyatakan apa diperbuat adalah demi ”keadilan” dan ”transparansi”. Keterbukaan yang berani. Awalnya kita hanya menduga-duga, akhirnya kita mengetahui ternyata di balik berbagai informasi yang dirilis, sebenarnya banyak informasi yang tersembunyi, dan boleh jadi maknanya bertolak belakang dengan informasi yang dirilis.

Nah, ada sebuah pertanyaan: Apakah ini pertanda berakhirnya diplomasi zaman kini?

Tidak gampang menjawabnya. Tetapi, pembocoran isi kabel diplomatik bukan perkara baru dalam dunia diplomasi. Malah, pembocoran rahasia diplomatik setua usia diplomasi itu sendiri, sejak pengiriman surat-surat rahasia menggunakan jasa merpati.

Dari kepentingan diplomasi, tindakan WikiLeaks akan mengurangi atau bahkan menghancurkan nuansa pokok atau inti seni diplomasi. Karena dasar terjadinya atau berlangsungnya diplomasi adalah kepercayaan, trust. Tanpanya, tidak mungkin terjalin hubungan. Karenanya, pembocoran sedikit pun ”rahasia” diplomasi sangat mencederai atau merusak kepercayaan.

Dalam banyak kasus, diplomasi tertutup mampu menyelesaikan masalah. Makanya, tidak mustahil akan tumbuh saling curiga di antara negara-negara, bangsa-bangsa. Kasus WikiLeaks juga tidak mustahil akan mempersulit pembangunan dan penguatan hubungan internasional. Tidak hanya diplomasi Amerika Serikat yang akan menghadapi kesulitan, tetapi juga negara-negara lain. Tugas para diplomat, para duta besar, pun akan lebih sulit. Mereka akan ”kekurangan” sumber informasi dan lebih berhati-hati.

Apakah itu berarti akan membuat diplomasi lebih tertutup; akan lebih sedikit laporan-laporan tertulis, para diplomat akan sedikit bicara, misalnya. Semuanya bisa terjadi dan kasus WikiLeaks akan mendorong kelahiran era diplomasi baru menanggapi perkembangan dan kemajuan teknologi informasi. Tantangan bagi dunia diplomasi.

Hikmahnya, di era informasi yang penuh liku dan jebakan, kita tak bisa begitu saja terlena hanya karena kelimpahan informasi. Ternyata, tetap—atau bahkan semakin—dibutuhkan kewaspadaan. Selain itu, dibutuhkan komunikasi yang jujur dan tulus, bahkan di antara negara-negara yang tergolong sahabat kita sekalipun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: