imsitumeang

Persoalan Berlapis-lapis, Watak Kepemimpinan Bagaimana?

In Uncategorized on f 30, 10 at 9:59 am

Masa krisis dan kacau memerlukan kepemimpinan negara yang berperan lebih besar dibanding masa normal dan stabil. Makanya, misalnya, di mana-mana bencana, termasuk bencana alam, bisa menjadi semacam tes kepemimpinan para pemimpin negara.

Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama membatalkan kunjungannya ke Indonesia bahkan dua kali karena urusan di dalam negeri. Ia mengutamakan penyelesaian masalah di dalam negerinya ketimbang ke Indonesia, yang juga penting sebagai bagian politik luar negeri Amerika Serikat.

Sebaliknya, Presiden Pakistan Asif Ali Zardari menjadi sasaran kritik dan kecaman di negerinya. Ketika rakyatnya bertarung melawan banjir yang menewaskan 1.600 orang, jutaan orang menjadi pengungsi yang kekurangan pangan tapi terserang penyakit, ia justru di Inggris.

Cerita yang mirip terjadi di Rusia. Gelombang panas dan kebakaran hutan, terutama di sekitar Moskwa yang menewaskan sekitar 100 orang setiap hari, mendorong orang untuk berani mengungkap kemarahannya bercampur kecewa kepada Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin dan para pejabat Moskwa. Masyarakat menilai para pejabat gagal mengatasi bencana.

Kejadian di Rusia amat menarik. Mereka menuntut seorang pejabat yang selama ini dianggap berkuasa dan berpengaruh, bahkan lebih luas dan kuat daripada Presiden Dimitry Medvedev, agar mundur. Padahal, sejak terjadi kebakaran hutan di sekitar Moskwa dan gelombang panas, Putin terhitung sebagai pejabat yang sibuk untuk mengurusi bencana.

Bahkan, ia menjadikan dirinya sebagai pusat kegiatan untuk mengatasi bencana dan menampilkan dirinya sebagai pemimpin yang bekerja sangat tegas, efektif, dan efisien dibanding Medvedev. Ternyata, yang dilakukan Putin belum memuaskan.

Dunia memuji Presiden Cile Sebastian Pinera. Apa yang diperlihatkannya melukiskan semua watak kepemimpinan. Ia menginspirasi dunia. Ia juga berempati, mengoordinasi, ia menuntaskan pekerjaannya. Pinera juga dekat dengan situasi kondisi krisis, hingga ia tak ragu mengurungkan lawatan ke Eropa. Terselamatkannya 33 pekerja tambang yang terjebak di liang pertambangan sedalam 700 meter selama 69 hari membuktikan keunggulan kepemimpinan Pinera. Presiden Bolivia Evo Morales pun ke Cile untuk menyambut satu-satunya pekerja tambang asal Bolivia, Carlos Mamani.

Perannya menghidupkan optimisme. Tatkala ia bertekad menyelamatkan petambang yang terjebak, beberapa kali ia diingatkan stafnya bahwa peluang penyelamatan kecil dan bisa lama. Tapi, Pinera bersiteguh dengan tekadnya menyelamatkan petambang. Presiden Cile juga memerintahkan agar perusahaan tambang mencairkan rekening petambang, hingga gaji mereka bisa diterima keluarga.

Di Indonesia, seakan menjadi pola, begitu sebuah persoalan lama tidak segera dibereskan maka kesulitan serta-merta menyusul persoalan baru. Pemerintah boleh mengakui telah berupaya mengatasi berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, dan keamanan tetapi rakyat belum puas. Ekspektasi perbaikan dan perubahan yang cepat dan jelas di kalangan rakyat telanjur meninggi, lebih-lebih dalam situasi kondisi pancaroba seperti yang dialami Indonesia.

Mungkin pula rakyat hanya menuntut dan berharap, atau tidak mau tahu kompleksitas persoalan. Setiap persoalan memiliki kompleksitasnya sendiri-sendiri. Kerumitan bertambah jika berbagai persoalan dengan kompleksitasnya dibiarkan menumpuk, tumpang tindih. Benar-benar menjadi benang kusut yang sulit diurai.

Sering terjadi Pemerintah kerepotan luar biasa karena terlambat turun tangan, sementara persoalan terlanjur merebak seperti kasus elpiji atau Jakarta. Pola penyelesaian melalui cara-cara biasa yang mungkin saja memadai di masa lalu tapi di masa kini terlalu lamban dan bertele-tele. Karenanya, diperlukan terobosan yang radikal dengan prioritas yang jelas.

Misalnya, kemiskinan dan pengangguran harus dikurangi melalui program yang terukur. Kesenjangan ekonomi yang kronis harus diperbaiki. Tidak sedikit warga yang hidup berkecukupan, tetapi masih banyak yang hidup kekurangan sandang, pangan, dan papan, termasuk kesehatan dan pendidikan. Kekayaan bagi segelintir orang berarti kemiskinan bagi orang lain

Kesenjangan semakin terasa hari-hari ini di tengah harga-harga yang melambung tinggi. Daya beli yang rendah benar-benar membuat frustrasi sebagian warga, terutama yang berpenghasilan atau berpendapatan rendah. Tanpa mengabaikan persoalan penting lainnya, masalah kemiskinan dan pengangguran dan penciptaan kesejahteraan harus menjadi prioritas sesuai dengan amanat konstitusi.

Memprihatinkan jika konsentrasi menciptakan kesejahteraan sering terganggu oleh kegaduhan politik. Padahal, pilihan-pilihan besar sulit terlahir dari ketajaman pikiran politisi, tetapi dari penguasaan sains dan teknologi di bawah kepemimpinan nasional yang visioner, kuat, tegas, dan berwibawa.

Masa krisis dan kacau memang memerlukan peran kepemimpinan yang lebih besar dibanding masa normal dan stabil. Rakyat membutuhkan seorang pemimpin yang memiliki kesediaan dan kesadaran untuk mengambil risiko-risiko demi pencapaian sebuah tujuan yang luhur.

Watak kepemimpinan menjadi penting. Meskipun kepemimpinan adalah fitur yang selalu diperlukan oleh setiap masyarakat dan segala zaman, tapi tidak ada seorang pemimpin pun yang cocok untuk segala musim apalagi di era yang persoalannya berlapis-lapis seperti kini. Sangat dibutuhkan watak kepemimpinan yang mampu mengurai berbagai persoalan yang tumpang tindih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: