imsitumeang

Pemerintah Belum Gereget

In Uncategorized on f 30, 10 at 9:11 am

Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono belum greget. Sekurang-kurangnya, kita merasakannya. Tentu saja, setiap perasaan kita bersifat subyektif. Meskipun subyektif, tidak ada salahnya dikemukakan asalkan bermaksud positif, yakni dijadikan sebagai refleksi.

Kita mulai. Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu II belum memadai. Tim ekonomi diharapkan mampu memberi gerak usaha yang kompak, dinamis, dan kreatif. Pun lingkungan swasta dan masyarakat luas. Tapi, beberapa persoalan non-ekonomi menyebabkan suasana kurang bergairah. Sebutlah persoalan eksistensi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) serta kasus-kasus korupsi di kejaksaan, kepolisian, dan pengadilan.

Masa Kabinet Indonesia Bersatu II dimulai dengan sidang kabinet yang dihadiri lengkap menteri di Bali dipimpin Presiden dan Wakil Presiden. Juga diundang sejumlah pengusaha. Maknanya, Pemerintah menginginkan sinergi dengan swasta. Kemudian, dilakukan penilaian yang menunjukkan titik lemah kinerja menteri-menteri. Mungkin terlalu pagi, tetapi tak ada salahnya jika penilaian tersebut dicermati jujur dan serius.

Ada kegalauan jika mengamati faktor internal. Potret umum perekonomian nasional mendata pertumbuhan ekonomi 5,7% tetapi kualitasnya rendah untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran. Kita tidak harus menunggu pertumbuhan ekonomi 7% tahun 2014, karena sangat bisa dicapai andaikan Pemerintah membobol sumbatan pertumbuhan ekonomi.

Kinerja ekonomi membaik tetapi performanya belum optimal. Bahkan, stagnan jika dikalkulasikan dengan faktor pendorongnya. Anggaran negara untuk menstimulus akselerasi pertumbuhan ekonomi ternyata sangat rendah penyerapannya. Problemnya pada sistem dan pelaksananya, baik di pusat maupun di daerah. Sumbatan pertumbuhan ekonomi, seperti biaya tinggi, masih membebani pelaku usaha. Hambatan infrastruktur belum terpecahkan, seperti penyediaan lahan dan pembangunan jalan.

Memecahkan beberapa persoalan tersebut urgensinya adalah kita membutuhkan kapasitas kepemimpinan untuk mengeksekusi dan memastikan keterlaksanaan setiap program Pemerintah. Kita menekankan kinerja perekonomian, karena kecemasan yang kental dan kegelisahan yang kuat karena pertumbuhan ekonomi ternyata melempar sebagian warga ke sektor informal.

Kegalauan bertambah pekat setelah menyaksikan orang-orang bergerombol di sudut-sudut jalan. Hati pun kecut ketika menyaksikan panjangnya antrean orang-orang terdidik mencari dan melamar pekerjaan, serta berebut pekerjaan setiap kali digelar job expo. Fenomenanya merata di seluruh Tanah Air.

Beban berat bertambah menyusul persoalan baru seperti kenaikan tarif listrik dan sederet dampak ikutannya, lalu kenaikan tarif bus, kereta api, tol, dan air minum. Inflasi mengancam daya beli.

Masyarakat juga dibayangi ancaman bencana alam yang nyaris tiada henti. Banjir, longsor, gempa, dan gunung meletus memakan korban harta dan jiwa mereka. Pertanian di sejumlah wilayah mengalami kekeringan, diterjang banjir, dan dimakan hama.

Jika kita mengamati faktor internal, momentum kita tak bisa terlepas dari pengaruh global yang menuntut setiap negara dan bangsa bergerak cepat dan tepat. Satu urusan dalam negeri belum kelar, urusan berikutnya muncul tapi perkembangan luar negeri juga berubah. Krisis Eropa dan kurs China, misalnya. Kita membutuhkan kemampuan menganalisis SWOT (“kekuatan” atau strengths, “kelemahan” atau weaknesses, “kesempatan” atau opportunities, dan “ancaman” atau threats).

Karenanya, kita mendesak Pemerintah, juga pemeritnah daerah, agar memecahkan persoalan. Akumulasi persoalan tanpa solusi pasti bermuara pada kerawanan sosial. Kabinet ini yang terakhir bagi pemerintahan Yudhoyono. Rasional jika perhatian dikonsentrasikan pada keberhasilan, yakni meningkatnya kesejahteraan bagi rakyat, semakin banyaknya pekerjaan, serta semakin meratanya pendidikan. Termasuk bertambah majunya daerah-daerah. Apalagi, mengingat janji-janjinya.

Momentum kini seharusnya lebih kuat sebagai periode kedua yang terakhir baginya. Kita terdorong mengemukakannya karena komitmen untuk berkontribusi memberi masukan yang kritis tapi konstruktif. Perkembangannya belum terlambat. Momentumnya belum terlambat. Bagaimanapun, kita sekarang berkejaran dengan waktu.

Menjelang setahun pemerintahan mereka, tanggal 20 Oktober 2010 yang lalu, publik menuntut kehadiran Pemerintah yang lebih tegas dan cepat. Artinya, lebih jelas dan responsif selama melaksanakan kepemimpinannya. Ungkapan gouverner c’est prevoir, memerintah adalah melihat ke depan, tetap berlaku, bahkan disertai tekanan melihat secara lebih jelas, lebih responsif, serta terlaksana dalam realisasinya yang komprehensif.

Suasana tersebut terungkap memasuki pergantian akhir tahun setelah mengamati berbagai pendapat dan pikiran setahun ini. Jajak pendapat Penelitian dan Pengembangan Kompas untuk setahun pemerintahan Yudhoyono-Boediono mengindikasikan turunnya kepuasan publik terhadap kinerjanya. Padahal, situasi dan kondisi ekonomi dunia dan kepercayaan investasi yang membaik seharusnya dimanfaatkan untuk memperbaiki perekonomian sekaligus meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Apa yang harus dilakukan? Segera memulihkan kepercayaan publik bahwa pemerintahan Yudhoyono-Boediono sanggup menyelenggarakan pemerintahan yang efektif, efisien, dan berwibawa yang melebihi periode Yudhoyono bersama Muhammad Jusuf Kalla. Kuncinya adalah sosok pemerintahan yang diharapkan bahkan dituntut berhasil diwujudkan para menteri dalam kabinetnya. Lebih efektif, efisien, dan berwibawa.

Kecerdasan dan kesigapan Pemerintah untuk memahami persoalan dan bertindak bijak diperlukan. Kaitannya, kita membutuhkan perombakan kabinet. Beberapa posisi kunci menteri sebaiknya diisi sosok yang ahli di bidangnya.

Kita sekarang berkejaran dengan waktu. Mengapa? Bukan sekadar sisa waktu empat tahun usia pemerintahan ini tetapi makna harapan dan kebutuhan publik yang mendesak. Karena yang terakhir bagi pemerintahan Yudhoyono, harapan dan kebutuhan publik menjadi rasional jika menuntut perhatian dikonsentrasikan pada keberhasilan. Periode yang terakhir bagi Yudhoyono sebagai masa pengabdian untuk sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: