imsitumeang

Kemenangan Dilma Juga Kemenangan Lula

In Uncategorized on f 4, 10 at 9:27 am

Kemenangan Dilma Rousseff sebagai presiden Brasil yang dicalonkan partai yang berkuasa, Partai Pekerja, melalui pemilihan Ahad (31/10/2010), berkat peran Luiz Inacio “Lula” da Silva yang sangat populer (hingga level 80%). Lula adalah presiden yang akan digantikannya per tanggal 1 Januari 2011.

Dilma menjadi perempuan pertama Brasil yang terpilih menjadi presiden berkat dukungan 55,8% suara, mengalahkan pesaingnya, mantan Gubernur Negara Bagian Sao Paulo Jose Serra, yang dicalonkan Partai Sosial Demokrat Brasil, yang mengantungi 44,2% suara. Hingga empat tahun ke depan, ia memimpin negara ekonomi terbesar di Amerika Latin sesuai ikrarnya untuk memberantas kemiskinan 20 juta warganya.

“Saya mengulangi janji saya yang utama: pemberantasan kemiskinan,” mantan kepala kabinet sayap kiri untuk Lula itu mengatakannya saat menyampaikan pidato kemenangan. “Kami tidak akan beristirahat sementara banyak warga Brasil yang kelaparan.”

“Pemberantasan kemiskinan yang ekstrim merupakan tujuan saya. Namun dengan rendah hati saya memohon dukungan semua yang dapat membantu menjembatani jarak negara yang memisahkan kami dan membuat Brasil sebagai negara maju,” Rousseff menyatakannya.

Sewaktu kampanye, ia berjanji mempertahankan kebijakan pendahulu yang juga mentornya, Lula. Rousseff menandaskan, akan “menghargai kepercayaan” warga Brasil yang memilihnya.

Faktor Lula sebagai kunci penentu kemenangan Dilma, yang kurang populer. Lula yang sangat populer di dalam negeri dan di luar negeri berkampanye guna memenangkan Dilma, anak buahnya dalam kabinet. Betapa hebat pengaruh Lula sehingga Dilma yang kurang populer tiba-tiba melejit hanya hitungan bulan.

Akhirnya, Dilma banyak didukung suara negara-negara bagian di wilayah timur laut yang relatif miskin, sedangkan Jose banyak mengantungi suara negara-negara bagian di wilayah selatan yang metropolis dan menjadi pusat perputaran uang.

Jadi, kemenangan Dilma juga kemenangan Lula. Jika diizinkan bertarung lagi, Lula diprediksi meraih kemenangan. Namun, tokoh karismatik Partai Buruh itu tidak mencalonkan diri karena konstitusi Brasil hanya mengizinkan periode kekuasaan presiden dua kali empat tahun.

Baik Lula, Dilma, maupun Jose memiliki latar belakang yang sama, yaitu aktor pembaru sosial. Jika Lula melalui gerakan sosial kaum buruh, Dilma menempuh cara yang radikal, yaitu bergabung dengan gerakan gerilya antijunta militer tahun 1960-an dan 1970-an yang ditahan tiga tahun oleh rezim militer. Karir Dilma selanjutnya adalah pegawai negeri, kemudian menteri energi, dan terakhir kepala staf pemerintahan Lula. Sedangkan Jose adalah mantan aktivis mahasiswa yang menjadi pelarian politik di era yang sama.

Meskipun memilih jalan hidup yang keras, mereka adalah sosok-sosok moderat yang memahami kompromi. Berbeda dengan sekutu-sekutunya di kawasan Amerika Latin seperti Hugo Chavez dari Venezuela atau Evo Morales dari Bolivia, Lula relatif moderat dalam merealisasikan program-programnya untuk mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial di Brasil. Kesediannya membayar utang-utang Brasil ke Dana Moneter Internasional (IMF) dan kehati-hatiannya melaksanakan reforma agraria dikritik partainya.

Sebagai penasihat ekonomi Lula, Dilma memiliki keahlian menjaga performa pembangunan ekonomi. Apakah Dilma sanggup meneruskan kebijakan kiri moderat yang bisa dikritik gerakan buruh dan petani tak bertanah sebagai basis pertainya atau gerakan prolingkungan yang tidak puas terhadap hasil kerja Lula, masih menjadi pertanyaan.

Tapi, perubahan bersejarah telah ditempuh Dilma. Perempuan tegas dan keras tersebut bersedia dicalonkan sebagai presiden setelah didorong Lula untuk menggantikannya. Tapi, pengaruh Lula yang besar melahirkan spekulasi ia hanya di bawah bayang-bayang nama besar bekas tukang sepatu itu.

Faktanya, mayoritas rakyat Brasil enggan membiarkan Lula meninggalkan istana.  Mereka berharap ia meneruskan pengaruhnya selama pemerintahan Dilma. Dilma pun mengisyaratkan akan melanjutkan kebijakan politik dan ekonomi Lula yang berorientasi untuk kepentingan orang banyak.

Pemerintahan Dilma menanggung beban yang tidak sedikit untuk meneruskan keberhasilan pemerintahan Lula yang diakui kawan atau lawannya. Bukan hanya wong cilik Brasil yang mencintai Lula karena programnya yang berhasil mentransformasi Brasil di bidang pangan, pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan, juga kaum elite yang terkesan kebijakan Lula untuk membangun infrastruktur dan meletakkan basis yang kuat bagi industri dan energi Brasil.

Pemilihan presiden yang diselenggarakan menggugah emosional rakyat Brasil. Mereka merasa kehilangan Lula, bukan suasana menyambut bakal tampilnya presiden yang baru. Lula menjabat sejak tahun 2002.

Suasana yang mirip pengalaman Rusia. Meskipun berpengaruh, Presiden Vladimir Putin tidak bisa mencalonkan diri lagi karena dibatasi konstitusi. Sebagaimana Lula, Putin mencalonkan kandidat yang dipilihnya. Kini Putin menjabat sebagai Perdana Menteri Federasi Rusia dan calon yang dijagokannya, Dmitry Medvedev, menjadi presiden.

Reuters yang dikutip The Jakarta Post (1/10/2010) memberitakan, jutaan rakyat Brasil banyak membicarakan presiden yang akan pergi ketimbang presiden yang akan datang. Selama delapan tahun memimpin, Lula berhasil mengubah jutaan rakyat miskin Brasil menjadi kelas menengah yang leluasa membelanjakan uang. Lula juga berjasa mengubah Brasil menjadi satu pemimpin ekonomi dan diplomasi di kawasan.

Karier Lula sebagai presiden mencatat sejumlah hal. Memang, periode kedua masa jabatannya, Lula tidak seberhasil periode kesatu masa jabatannya. Tapi, prestasinya tidak sebatas bidang ekonomi. Ia dianggap simbol keberhasilan orang banyak, kelas pekerja, yang mencapai posisi puncaknya dan memajukan bangsanya.

Dengan pengakuan tersebut, Lula mencapai “akhir yang baik”. Ia adalah pemimpin yang dilahirkan rakyat biasa atau malah melarat. Berkat ketekunannya meniti karier politik disertai visi-misi dan konsistensinya bekerja untuk membawa Brasil menuju derajat yang tinggi, Lula menjadi sosok pemimpin ideal yang komplit. Lula membuktikannya dan rakyat Brasil—bahkan dunia—menjadi saksinya.

Rakyat kita juga mengidamkan pemimpin yang berhasil mentransformasi Indonesia seperti yang dilakukan Lula. Proses pemilihan presiden Brasil sangat ditentukan oleh kejelasan platform dan keberpihakan partai dan calon presidennya terhadap pilihan strategi menyejahterakan rakyat.

Kita juga mempelajari bahwa rekam jejak para calon pemimpin yang bersaing di sana sangat jelas, erat, dan dekat dengan pemikiran dan pembaruan sosial. Para calon presiden dihadirkan secara jelas agar dipilih secara cerdas oleh rakyat untuk memimpin mereka. Mereka dituntut untuk menjaga warisan Lula bahwa keberanian, integritas, dan kinerja pemimpin adalah segala-galanya untuk menyejahterakan rakyatnya. Bukan pencitraan belaka!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: