imsitumeang

Indonesia Menangis

In Uncategorized on f 4, 10 at 6:45 am

Kabar duka menimpa saudara-saudara kita di Kepulauan Mentawai (Sumatera Barat) serta Sleman (Daerah Istimewa Yogyakarta), Magelang, Boyolali, dan Klaten (Jawa Tengah). Gempa berkekuatan 7,2 Skala Richter mengguncang lautan Kepulauan Mentawai hingga terasa di Padang diikuti tsunami yang memorak-porandakan desa-desa di sana. Ratusan orang dinyatakan meninggal dan ratusan lainnya menghilang. Ratusan rumah hancur setelah dihantam gelombang tsunami setinggi dua meter.

Di Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten ribuan orang mengungsi karena wedhus gembel (awan panas) bersama muntahan lainnya keluar dari kawah Gunung Merapi yang statusnya meningkat bertahap menjadi awas. Aktivitasnya terus menggeliat bahkan beberapa kali terjadi letusan terkeras dan terbesar sejak beberapa pekan. Abu vulkaniknya terbawa hembusan angin hingga melewati perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Media massa memberitakan dua peristiwa alam dalam situasi kondisi kritis: Indonesia Menangis. Tajuk Rencana Kompas (Kamis, 28 Oktober 2010) yang berjudul “Daulat Alam di Mentawai dan Merapi” menjelaskan betapa natural alam berekspresi guna mencapai keseimbangan yang baru. Posisi geografis Indonesia menyebabkan kita harus bersahabat dengan bencana: gempa, banjir, longsor, atau gunung api meletus.

Misalnya, kenapa Indonesia sering dilanda gempa dan gunung api meletus? Karena Indonesia terletak di antara wilayah seismik teraktif kesatu, Cincin Api Pasifik atau Lingkaran Api Pasifik (Ring of Fire), dan wilayah seismik teraktif kedua, Alpide. Cincin Api Pasifik mengelilingi cekungan Samudera Pasifik tapi berbentuk tapal kuda yang mencakup wilayah sepanjang 40.000 km.

Sabuk dari ujung selatan Chili, mencapai pantai Pasifik di Amerika Selatan ke Amerika Tengah (bercabang ke Karibia), memanjang sepanjang pantai Mexico ke California, terus ke Alaska. Sabuk berlanjut dari Alaska ke Kamchatka, melintasi Kepulauan Kuril dan Kepulauan Aleut, terus memanjang ke Jepang, Filipina, Indonesia, Papua Nugini, dan melintasi berbagai kepulauan Pasifik.

Sekitar 90% dari seluruh gempa dan 81% dari gempa terbesar terjadi di Cincin Api Pasifik. Sabuk berikutnya (5-6% dari seluruh gempa dan 17% dari gempa terbesar) adalah Alpide yang membentang dari Jawa ke Sumatera, Himalaya, Mediterania, hingga Atlantika. Lalu, sabuk Mid-Atlantic Ridge.

Berarti, pulau-pulau di Indonesia selalu mengalami gempa terkuat dan letusan gunung api terkuat di Bumi karena lempeng-lempeng terlibat dorong-dorongan abadi. Aktivitas gunung api menghasilkan gempa vulkanik, gempa tektonik, dan gempa tremor. Daerah yang rawan gempa bumi disertai tsunami serta rawan letusan gunung api terjadi di sepanjang Ring of Fire dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Banda, hingga Maluku.

Daerah rawan bencana gempa diikuti tsunami hampir semuanya dihuni populasi yang padat, hanya tiga daerah yang tidak rawan gempa, yakni Kalimantan, Belitung, dan Kepulauan Riau.

Letusan satu gunung api sebenarnya tidak mempengaruhi aktivitas gunung api lainnya. Tapi setelah Gunung Merapi meletus, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat 22 gunung api meningkat aktivitasnya. Ke-22 gunung api tersebut atau berstatus di atas normal, yaitu status waspada, status siaga, dan status awas, disertai rekomendasi pembatasan aktivitas manusia di kawasan rawan bencana. Pihak yang mengeksekusi rekomendasi adalah pemerintah daerah setempat.

Gunung api berstatus waspada adalah Gunung Seulawah Agam (Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam), Gunung Sinabung (Karo, Sumatera Utara), Gunung Talang (Solok, Sumatera Barat), Gunung Kaba (di perbatasan Kabupaten Rejang Lebong dan Kabupaten Kepahiang, Bengkulu), Gunung Kerinci (Kerinci, Jambi), Gunung Anak Krakatau (Selat Sunda, Lampung), Gunung Papandayan (Garut, Jawa Barat), Gunung Slamet (di perbatasan Brebes, Banyumas, Purbalingga, Tegal, dan Pemalang, Jawa Tengah), Gunung Bromo (Pegunungan Tengger, Jawa Timur) dan Gunung Semeru (Lumajang, Jawa Timur), Gunung Batur (Bangli, Bali), Gunung Rinjani (Bima, Nusa Tenggara Barat), Gunung Sangeang Api (Bima, Nusa Tenggara Barat), Gunung Rokatenda (Flores, Nusa Tenggara Timur), Gunung Egon (Sikka, Nusa Tenggara Timur), Gunung Soputan (Minahasa, Sulawesi Utara), Gunung Lokon (Tomohon, Sulawesi Utara), Gunung Gamalama (Ternate, Maluku Utara), dan Gunung Dukono (Halmahera Utara, Maluku Utara).

Gunung api berstatus siaga adalah Gunung Karangetang (di Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Sulawesi Utara) dan Gunung Ibu (Halmahera Barat, Maluku Utara). Sedangkan yang berstatus awas adalah Gunung Merapi yang secara administratif termasuk wilayah Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten.

Sejak ratusan tahun lalu bencana membayangi kita. Kini, ditambah kelakuan kita yang merusak alam hingga memudahkan bencana. Adalah tugas kita untuk menyikapi semua isyarat bencana yang sayangnya hingga kali ini kita selalu berposisi defensif dan “menerima kekalahan” atau “merasakan dampak” setiap kali alam mencapai keseimbangan baru.

Berkat sains atau ilmu pengetahuan yang mutakhir melalui sistem sensor dan detektor untuk mengetahui, atau setidaknya mengurangi, potensi dampak bencana jika kita tidak sanggup menghindari sepenuhnya. Semestinya kita bisa dalam posisi baik yang diwujudkan oleh jumlah korban yang minimal—atau bahkan nirkorban—manakala terjadi bencana.

Semuanya menuntut kesiapan. Untuk pemerintah, berlaku pepatah gouverner c’est prevoir atau “memerintah itu melihat lebih dulu, atau melihat ke depan”. Dengan kemampuan melihat ke depan, sebagian hasil alam yang dieksploitasi—dari minyak dan gas ke hasil hutan—digunakan untuk melengkapi sensor gunung api, detektor tsunami, dan pemberi peringatan dini lainnya.

Jangan terjadi lagi seperti gempa diikuti tsunami di Kepulauan Mentawai. Bayangkan, pemerintah mengetahui setelah 12 jam kejadian. Lebih memprihatinkan lagi, kabar diketahui dari media massa asing, bukan lembaga nasional yang terkait gempa dan tsunami.

Ringkasnya, gempa diikuti tsunami terjadi Senin, 25 Oktober 2010, pukul 21.40 WIB. Pemerintah memperoleh info lengkap dari media massa asing esok harinya, pukul 10.00 WIB. Kendati terlambat, pemerintah tidak langsung mengirim bantuan. Terbukti bahwa pengiriman bantuan lewat kapal dan helikopter dilakukan pagi hari berikutnya.

Celakanya, keterlambatan informasi mengakibatkan kelambatan penanganan korban. Distribusi bahan makanan untuk para pengungsi, misalnya, tidak tersalur sehingga sebagian korban sempat menahan lapar. Ketersendatan bantuan tak pelak menambah penderitaan korban.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: