imsitumeang

Kaya Tapi Indonesia Rawan Pangan

In Uncategorized on f 25, 10 at 4:38 am

INDONESIA dipredikati negeri yang varian tanaman pangannya beragam. Tapi, tidak serta-merta memenuhi kebutuhan penduduknya.

Kementerian Pertanian mendata, daerah-daerah yang rawan pangan di Tanah Air sekitar 4,5%, sebagian besar di Indonesia bagian timur.

Fakta lain yang memprihatinkan, global hunger index (indeks kelaparan dunia) yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memosisikan, dari lima kategori, Indonesia termasuk negara yang berkategori ‘serius’ rawan pangan.

Lima kategorinya, dari yang terburuk ‘sangat mengkhawatirkan’, ‘mengkhawatirkan’, ‘serius’, ‘moderat’, ke yang terbaik ‘rendah’. Jadi, kategori ‘serius’ rawan pangan tergolong buruk, karena hanya satu tingkat di atas kategori ‘mengkhawatirkan’.

Indeks kelaparan dunia mencatat 122 negara dalam tahap berkembang dan transisi, sisanya 29 negara memiliki tingkat kelaparan yang ‘sangat mengkhawatirkan’ dan ‘mengkhawatirkan’, antara lain Burundi, Chad, Kongo, dan Eritrea. Sebagian besar mereka di Sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan.

Berarti, negara-negara tersebut hanya satu tingkat lebih jelek jika dibanding Indonesia. Bagi negara-negara di Afrika yang varian tanaman pangannya tidak beragam alias terbatas, jika terancaman rawan pangan bisa dianggap wajar. Tetapi, bagi Indonesia yang varian tanaman pangannya beragam, malah tergolong negara yang memiliki megabiodiversity, maka jika terancam rawan pangan tidak bisa dianggap wajar alias ironi.

Penyebabnya, kebijakan pangan yang salah. Di antaranya, menyeragamkan jenis makanan pokok, yakni beras. Celakanya, lahan bertanam padi terus menerus tergerus dan tergusur oleh permukiman atau area lainnya dan infrastruktur jalan tol.

Hampir tidak ada penduduk di negeri ini yang tidak mengonsumsi nasi. Padahal, dulu kita mengenal penduduk Madura yang makanan pokoknya jagung dan sagu yang dikonsumsi penduduk Maluku. Semua kearifan lokal tersebut punah.

Akibatnya, ketika persediaan beras menipis akibat panen padi yang gagal, rawan pangan pun tak terelakkan. Lalu, Pemerintah meminta penduduk Indonesia mengurangi makan nasi, sedangkan pemerintah daerah berkampanye mengurangi konsumsi beras minimal seporsi sehari. Makan nasi dibatasi, begitu komentar orang-orang yang kadung seneng makan nasi.

Karenanya, kebijakan pangan yang salah harus diperbaiki, yaitu kita harus serius mendiversifikasikan jenis makanan pokok. Kebijakan pangan yang salah lainnya adalah Pemerintah mengekspor ketika kebutuhan pengan di dalam negeri belum mencukupi. Indonesia yang kaya hasil laut, misalnya, defisit perdagangan ikan hingga 1 juta ton per tahun.

Ketika persediaan beras menipis, Pemerintah mengimpornya dari Vietnam atau China. Padahal, Pemerintah bisa menggenjot pengolahan varian tanaman pangan lainnya agar dikonsumsi penduduk, seperti singkong, kentang, jagung, atau buah-buahan yang biasa dijadikan sebagai alternatif. Apalagi, trend manusia modern yang mengurangi makan nasi atau memperbanyak makan lauk-pauk, sayur-mayur, atau buah-buahan.

Rawan pangan memang bukan monopoli Indonesia. Tapi, Pemerintah tidak sigap mengantisipasi ancaman tersebut. China, Filipina, bahkan Thailand dan Vietnam yang menjadi lumbung beras kini mulai mencadangkan pangan untuk kebutuhan di dalam negerinya agar terhindar ancaman tahun 2011. Apalagi, perubahan iklim dan cuaca yang ekstrim mengubah sikluas masa tanam pangan di banyak negara.

Di sini, kita cekcok menyoal apakah Indonesia surplus beras atau tidak. Bahkan, kita terjebak dalam perdebatan benar-salahnya Indonesia rawan pangan. Cape deh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: